JAKARTA, JURANEWS.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia dalam periode Selasa (15/9/2026) hingga Rabu (16/9/2026).
Dari sejumlah kejadian yang dilaporkan, karhutla terjadi di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat; Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan; dan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.
BNPB juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan karena sejumlah wilayah Indonesia masih diprediksi memiliki tingkat kemudahan terbakar tinggi.
Karhutla pertama dilaporkan terjadi di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, pada Selasa (15/9/2026).
Kebakaran berlangsung di Desa Rangas, Kecamatan Banggae, dengan luas lahan terdampak mencapai sekitar 3 hektare.
BPBD Kabupaten Majene melakukan upaya pemadaman pada hari yang sama. BNPB menyebut tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Karhutla juga terjadi di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pada Selasa (15/9/2026) sekitar pukul 12.20 WITA.
Kebakaran melanda tiga kelurahan yang berada di dua kecamatan, yakni Kelurahan Temmassarangnge dan Macinnae di Kecamatan Paleteang serta Kelurahan Salo di Kecamatan Watang Sawitto.
Dalam proses pemadaman, satu petugas dilaporkan meninggal dunia.
BPBD Kabupaten Pinrang masih melakukan asesmen untuk mengetahui luas wilayah yang terdampak. Sementara itu, api dilaporkan berhasil dipadamkan pada Selasa (15/9/2026).
Di Jawa Timur, karhutla terjadi di Kabupaten Trenggalek pada Selasa (15/9/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.
Lokasi kebakaran berada di lahan Perhutani petak 114 C, Dusun Ngrandu, Desa Kendalrejo, Kecamatan Durenan.
Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 3 hektare.
Petugas gabungan yang dipimpin BPBD berhasil melakukan pemadaman pada hari yang sama.
BNPB menyatakan pemantauan dan dukungan penanganan karhutla terus dilakukan, terutama di enam provinsi prioritas.
Selain karhutla, BNPB juga memantau kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.
Berdasarkan prediksi tingkat kemudahan terbakar lapisan atas permukaan tanah hingga 17 September 2026, sejumlah wilayah di Pulau Jawa, sebagian Sumatra, Kalimantan, serta kawasan Indonesia bagian timur berada pada kategori sangat mudah hingga mudah terbakar.
Di sisi lain, prediksi curah hujan menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada kategori menengah hingga rendah.
Kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap potensi karhutla dan kekeringan perlu terus ditingkatkan.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla.
Pencegahan dini dinilai penting untuk mengendalikan potensi kebakaran sekaligus mengurangi dampak asap terhadap masyarakat dan lingkungan.
Masyarakat juga diminta ikut menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggal dan segera melakukan langkah penanganan apabila menemukan potensi kebakaran.
Sementara dalam menghadapi kekeringan, BNPB mengimbau masyarakat menggunakan sumber air secara bijak.
Air yang masih layak digunakan dan tidak mengandung bahan kimia keras dapat didaur ulang maupun dimanfaatkan kembali. Penggunaan air juga diharapkan diprioritaskan untuk kebutuhan yang bersifat esensial.
(*)



![[DBS] Foto 1 - Ilustrasi DBS](https://juranews.id/wp-content/uploads/2026/09/DBS-Foto-1-Ilustrasi-DBS-300x178.jpg)












Komentar