JAKARTA, JURANEWS.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana di berbagai wilayah Indonesia dalam periode Kamis (13/8/2026) pukul 07.00 WIB hingga Jumat (14/8/2026) pukul 07.00 WIB.
Kondisi hidrometeorologi kering, terutama kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), masih mendominasi kejadian bencana. Namun, bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan cuaca ekstrem juga masih terjadi di sejumlah daerah.
Berdasarkan laporan BNPB, sejumlah wilayah di Jawa Tengah turut menghadapi karhutla dan kekeringan.
Karhutla di Klaten dan Sragen
Karhutla terjadi di Kabupaten Klaten pada Kamis (13/8/2026) dan berdampak terhadap sekitar 18 hektare lahan.
Kebakaran terjadi di Dukuh Jogoprayan RT 01/RW 04, Desa Jogoprayan, Kecamatan Gantiwarno. Api dilaporkan telah berhasil dipadamkan.
Sementara di Kabupaten Sragen, karhutla membakar sekitar 7,5 hektare lahan di Desa Ngargosari dan Desa Ngantuk, Kecamatan Sumberlawang.
Api juga telah berhasil dipadamkan oleh tim penanganan di lapangan.
Kekeringan Banyumas Capai 23 Ribu Jiwa
Ancaman kekeringan juga masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Tengah.
Di Kabupaten Banyumas, kekeringan tercatat berdampak terhadap sekitar 7.230 kepala keluarga atau 23.269 jiwa yang tersebar di 11 kecamatan, 20 desa dan satu kelurahan.
Untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, BPBD Kabupaten Banyumas pada Kamis (13/8/2026) mendistribusikan 40.000 liter air bersih melalui empat ritase.
Wilayah terdampak antara lain Kelurahan Sokanegara di Kecamatan Purwokerto Timur serta sejumlah desa di Kecamatan Karanglewas, Sumpiuh, Jatilawang, Cilongok, Kemranjen, Tambak, Patikraja, Wangon, Somagede dan Ajibarang.
Cilacap dan Grobogan Juga Krisis Air
Di Kabupaten Cilacap, kekeringan berdampak pada sekitar 5.639 kepala keluarga atau 18.135 jiwa.
BPBD Cilacap telah menyalurkan 25.000 liter air bersih menggunakan lima tangki kepada 237 kepala keluarga atau sekitar 1.100 jiwa.
Sementara itu, kekeringan di Kabupaten Grobogan berdampak pada sekitar 6.790 kepala keluarga atau 17.349 jiwa.
BPBD Grobogan telah mendistribusikan 30.000 liter air bersih menggunakan dua unit truk tangki. Distribusi masih diperlukan karena debit sumber air yang digunakan masyarakat terus mengalami penurunan.
Bogor Jadi Salah Satu Daerah dengan Dampak Kekeringan Besar
BNPB juga mencatat dampak kekeringan cukup besar di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Kekeringan di wilayah tersebut berdampak terhadap sekitar 28.281 kepala keluarga atau 93.914 jiwa yang tersebar di 28 kecamatan dan 82 desa.
Pada Kamis (13/8/2026), BPBD Kabupaten Bogor kembali mendistribusikan air bersih ke sejumlah wilayah. Total distribusi air bersih yang dilakukan mencapai 54.000 liter.
Karhutla Riau Capai 15.676 Hektare
Sementara itu, karhutla masih menjadi perhatian serius di sejumlah wilayah Sumatera.
Di Provinsi Riau, luas lahan terbakar sejak 1 Januari hingga 12 Agustus 2026 tercatat sekitar 15.676,72 hektare.
Pemantauan satelit NOAA-20, SNPP serta Terra/Aqua mendeteksi 46 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang.
Di Jambi, luas lahan terbakar sejak awal tahun hingga 8 Agustus 2026 mencapai sekitar 540 hektare. Pemantauan selama 24 jam mendeteksi 37 titik panas, dengan tiga titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.
BNPB Perkuat Mitigasi Hadapi Musim Kemarau
Menghadapi musim kemarau dan potensi El Niño, BNPB bersama pemerintah daerah terus memperkuat langkah mitigasi.
Sejumlah upaya dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pembangunan sumur bor, pipanisasi, hingga distribusi air bersih ke wilayah terdampak kekeringan.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bersih sekaligus mengurangi risiko kekeringan, karhutla, serta dampaknya terhadap masyarakat dan sektor pertanian.
BNPB juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah maupun kering.
Masyarakat diminta menggunakan air secara bijak, tidak melakukan pembakaran lahan, serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah, BPBD, BMKG dan instansi terkait.
(*)
















Komentar