JURANEWS.ID, JAKARTA** – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia hingga Senin (15/6/2026) pukul 07.00 WIB. Dalam laporan terbaru, BNPB mencatat kejadian tanah longsor di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, serta angin kencang yang menerjang Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, **Abdul Muhari, Ph.D**, mengatakan pemerintah daerah bersama tim gabungan terus melakukan penanganan darurat di lokasi terdampak guna mempercepat pemulihan akses dan membantu masyarakat.
“BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap berbagai potensi ancaman bencana. Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama, masyarakat diimbau melakukan evakuasi mandiri dan mengetahui jalur evakuasi yang aman,” ujar Abdul Muhari dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).
Longsor di Temanggung Putuskan Jembatan
BNPB melaporkan, tanah longsor yang terjadi di Desa Plosogaden, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengakibatkan satu unit jembatan mengalami kerusakan berat hingga putus.
Peristiwa yang terjadi pada 16 Mei 2026 tersebut masih terus ditangani oleh BPBD bersama tim gabungan. Sebagai langkah pemulihan, pondasi jembatan telah diperkuat menggunakan bronjong.
Selain itu, warga Desa Plosogaden bersama personel TNI dari Yonzipur IV/TK bergotong royong memasang jembatan bailey untuk mengembalikan akses transportasi masyarakat yang sempat terputus akibat longsor.
Angin Kencang Terjang 6 Desa di Sulawesi Selatan
Sementara itu, bencana angin kencang melanda Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (13/6/2026) sekitar pukul 21.05 WITA saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Berdasarkan hasil kaji cepat BPBD, sedikitnya enam desa di lima kecamatan terdampak, yakni Desa Padangloang (Kecamatan Dua Pitue), Desa Lancingrang dan Desa Sumpang Mango (Kecamatan Pitu Riawa), Desa Mojong (Kecamatan Watang Sidenreng), Desa Carawali (Kecamatan Watang Pulu), serta Desa Kanyuara (Kecamatan Maritengngae).
Sebanyak tujuh kepala keluarga atau 29 jiwa terdampak dalam kejadian tersebut.
Kerusakan yang tercatat meliputi satu unit rumah rusak sedang dan enam unit rumah rusak ringan akibat terpaan angin kencang.
BPBD setempat bersama instansi terkait langsung melakukan penanganan darurat dengan membersihkan puing-puing bangunan serta mengevakuasi pohon tumbang yang mengganggu aktivitas warga.
BNPB Imbau Masyarakat Tingkatkan Kesiapsiagaan
Abdul Muhari menegaskan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi di berbagai daerah.
Menurutnya, sejumlah langkah mitigasi sederhana dapat dilakukan untuk mengurangi risiko bencana, seperti memangkas ranting pohon yang berpotensi tumbang, membersihkan saluran air secara rutin, serta melakukan simulasi evakuasi mandiri bersama warga.
“Warga yang tinggal di daerah bantaran sungai juga diminta rutin memantau ketinggian muka air dan selalu memperbarui informasi cuaca dari lembaga resmi,” kata Abdul Muhari.
BNPB juga meminta pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna mempercepat respons dan penanganan apabila terjadi bencana susulan di wilayah rawan.
(*)










Komentar