JURANEWS.ID, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi bencana yang paling mendominasi di berbagai wilayah Indonesia. Dalam laporan perkembangan situasi bencana periode 29 Juni hingga 30 Juni 2026, sejumlah kejadian karhutla terjadi di Maluku Utara, Jawa Tengah, hingga Kalimantan Timur.
BNPB mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama menjelang awal Juli 2026 ketika sejumlah wilayah diprediksi mengalami curah hujan rendah berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Karhutla Terjadi di Empat Wilayah
Salah satu kejadian terjadi di Desa Kilong, Kecamatan Taliabu Barat, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara. Kebakaran yang menghanguskan lahan seluas sekitar 2 hektare diduga dipicu aktivitas pembakaran saat pembukaan lahan.
BPBD Kabupaten Pulau Taliabu bersama tim gabungan mengerahkan satu unit mobil L300 yang dilengkapi pompa alkon, selang, nozzle, dan tandon air untuk memadamkan api. Kebakaran akhirnya berhasil dikendalikan pada Senin (29/6/2026), sementara penyebab pastinya masih diselidiki aparat berwenang.
Di Desa Gentan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, kebakaran juga melanda lahan seluas sekitar 1 hektare. Api berhasil dipadamkan oleh tim gabungan dan penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan.
Sementara itu di Kalimantan Timur, dua kejadian karhutla terjadi di Kelurahan Gunung Elai, Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, dengan luas lahan terdampak sekitar 1,34 hektare, serta di Kampung Jengan Danum, Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat, yang menghanguskan sekitar 2 hektare lahan.
Seluruh kebakaran tersebut telah berhasil dipadamkan oleh tim gabungan setelah mengerahkan sejumlah armada pemadam dan peralatan pendukung.
BNPB Minta Daerah Tingkatkan Kesiapsiagaan
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., mengatakan potensi kebakaran hutan dan lahan masih perlu diantisipasi secara serius, terutama memasuki periode dengan curah hujan rendah.
“BNPB mengimbau pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan melalui pemantauan wilayah rawan terbakar serta penyiapan personel, sarana, dan prasarana pemadaman,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan resminya, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, kesiapan pemerintah daerah menjadi faktor penting agar titik api dapat ditangani lebih cepat sebelum meluas.
BMKG Prediksi Puluhan Wilayah Masuk Zona Curah Hujan Rendah
BNPB juga mengacu pada prakiraan BMKG yang menyebutkan bahwa Dasarian I Juli 2026 (1–10 Juli 2026) akan didominasi curah hujan rendah di sebagian besar wilayah Indonesia.
Daerah yang berpotensi mengalami kondisi tersebut meliputi sebagian wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko munculnya kebakaran hutan dan lahan apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama membuka lahan dengan cara dibakar.
“Masyarakat diminta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk pembukaan lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan kepada aparat atau BPBD setempat apabila menemukan titik api,” kata Abdul Muhari.
BNPB berharap kerja sama antara pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat dapat menekan potensi karhutla selama musim kemarau sehingga dampak terhadap lingkungan maupun aktivitas masyarakat dapat diminimalkan.
(*)










Komentar