KEEROM, JURANEWS.ID – Ada yang menarik dari aktivitas pertanian masyarakat di kawasan transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Di tengah proses penanaman padi, tradisi royongan masih menjadi kekuatan utama warga untuk menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama.
Tradisi tersebut turut dirasakan langsung oleh Tim 14 Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) yang terjun ke lahan pertanian dan ikut membantu petani dalam proses penanaman bibit padi, Rabu (9/9/2026).
Kehadiran tim tidak sekadar sebagai pendamping masyarakat. Para anggota TEP UNDIP ikut mengangkat bibit, menyiapkan lahan hingga turun langsung dalam proses penanaman bersama kelompok tani setempat.
Royongan merupakan tradisi masyarakat setempat dalam menyelesaikan pekerjaan pertanian secara bersama-sama. Aktivitas tersebut dilakukan mulai dari pengangkutan bibit, penyiapan lahan hingga penanaman padi.
Bagi masyarakat Senggi, royongan bukan hanya cara untuk mempercepat pekerjaan. Tradisi ini juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan sosial dan menjaga kebersamaan antarwarga.
Kehadiran Tim 14 TEP UNDIP pun mendapat sambutan hangat dari masyarakat.
“Kami senang tim datang ke sini dan ikut turun langsung menanam. Jadi, tidak hanya mendengar tentang kegiatan royongan, tetapi juga ikut merasakan langsung bagaimana budaya royongan yang selalu kami lakukan,” ujar Hatta, anggota Kelompok Tani Kotop.
Dari Sawah Senggi, Ada Pelajaran Penting tentang Pembangunan
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari program berskala besar.
Hal sederhana seperti saling membantu, bekerja bersama dan membangun kepercayaan justru menjadi modal penting dalam kehidupan masyarakat.
Di tengah pekerjaan pertanian yang cukup berat, warga dan anggota TEP UNDIP tetap bekerja dalam suasana penuh kebersamaan. Percakapan dan canda gurau turut mewarnai proses penanaman padi.
Bagi Tim 14 TEP UNDIP, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran langsung mengenai bagaimana modal sosial masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan kawasan transmigrasi.
Tradisi royongan juga menunjukkan bahwa ketahanan masyarakat tidak hanya bergantung pada sektor ekonomi dan produksi pertanian, tetapi juga pada kuatnya hubungan sosial di antara warga.
Keterlibatan TEP UNDIP dalam penanaman padi bersama masyarakat Senggi sekaligus menjadi bagian dari upaya mendukung potensi pertanian lokal.
Aktivitas tersebut berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan melalui penguatan ketahanan pangan lokal.
Selain itu, kegiatan ini juga memiliki kaitan dengan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan melalui penguatan inklusi dan solidaritas sosial serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara akademisi dan masyarakat.
Melalui kegiatan sederhana di lahan pertanian tersebut, TEP UNDIP menunjukkan bahwa penguatan masyarakat dapat dilakukan dengan hadir, mendengar, belajar sekaligus bekerja bersama warga.
Tradisi royongan yang masih hidup di Senggi menjadi bukti bahwa kearifan lokal dapat menjadi kekuatan penting dalam membangun ketahanan pangan sekaligus menjaga keharmonisan sosial masyarakat transmigrasi.
(*)










Komentar