JURANEWS.ID, SEMARANG – Aksi demonstrasi Badan Eksekutif Mahasiswa Semarang Raya atau BEM Sera di Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (26/8/2026), diwarnai aksi saling berhadapan antara mahasiswa dan aparat kepolisian.
Ratusan mahasiswa yang hendak melakukan longmarch menuju Tugu Muda dihadang barikade polisi di depan Gedung Juang 45, Jalan Pemuda, Kota Semarang.
Aparat kepolisian membentuk pagar hidup menggunakan personel polisi wanita atau Polwan. Mahasiswa kemudian merespons dengan membentuk barisan serupa yang diisi para mahasiswi.
Negosiasi antara mahasiswa dan kepolisian berlangsung cukup lama. Negosiator mahasiswa dari Universitas Negeri Semarang, Septia Linasari, menyebut pihaknya telah menyampaikan surat pemberitahuan aksi kepada kepolisian.
Ia juga memastikan jumlah massa tidak mencapai seribu orang.
“Kami tidak ada 1.000 orang, tidak akan membuat kemacetan jalan,” ujar Septia saat bernegosiasi dengan aparat.
Sejumlah ketua BEM dari berbagai universitas juga ikut menyampaikan permintaan agar mahasiswa diperbolehkan melanjutkan longmarch menuju Tugu Muda.
Namun, negosiasi tidak menemukan titik temu.
Hingga sekitar pukul 16.40 WIB, ratusan mahasiswa masih tertahan di lokasi.
Kepolisian bahkan menyiapkan tiga lapis barikade untuk membatasi pergerakan massa.
Lapisan pertama terdiri dari personel Polwan. Lapisan kedua merupakan personel Sabhara dengan perlengkapan pengendalian massa. Sementara lapisan ketiga terdiri dari personel kepolisian menggunakan sepeda motor serta kendaraan water cannon.
Dari pihak kepolisian, mahasiswa disebut tetap diperbolehkan menyampaikan aspirasi dan berorasi, namun diarahkan untuk melakukannya di kawasan Jalan Pahlawan.
“Tugu Muda jalur lalu lintas masyarakat, nanti adanya ratusan mahasiswa akan mengganggu aktivitas pengguna jalan,” ungkap salah seorang negosiator kepolisian.
Sementara itu, mahasiswa terus menyuarakan tuntutan agar barikade dibuka.
“Buka, buka, buka jalannya! Buka jalannya sekarang juga!” teriak mahasiswa.
Bawa Lima Tuntutan Rakyat
Aksi BEM Semarang Raya tersebut membawa sejumlah tuntutan yang mereka sebut sebagai Panca Tuntutan Rakyat.
Tuntutan pertama yakni meminta pemerintah menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
Mahasiswa juga mendesak agar TNI dan Polri dikembalikan pada fungsi utamanya.
Tuntutan berikutnya adalah evaluasi total program Makan Bergizi Gratis atau MBG serta penghentian program KDKMP.
Mahasiswa turut meminta pengembalian kepemilikan tanah kepada rakyat dan percepatan revitalisasi wilayah yang terdampak bencana.
Selain itu, mereka mendesak pemerintah menghentikan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme atau KKN di lingkungan pemerintahan.
Aksi tersebut menjadi bentuk penyampaian aspirasi mahasiswa terhadap sejumlah persoalan ekonomi, kebijakan pemerintah, pertanahan, penanganan bencana hingga tata kelola pemerintahan.
(*)
















Komentar