JURANEWS.ID, SEMARANG – Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali menggelar presentasi makalah ilmiah calon guru besar yang diselenggarakan Dewan Profesor UNDIP, Senin (4/5/2026), di Ruang Sidang Senat Akademik Gedung SA-MWA, Kampus UNDIP Tembalang.
Dua akademisi yang memaparkan gagasannya yakni Sutopo dari Fakultas Peternakan dan Pertanian serta Prihantoro dari Fakultas Ilmu Budaya.
Pada sesi pertama, Sutopo mempresentasikan makalah berjudul “Peningkatan Mutu Genetik Ternak Lokal Melalui Seleksi Karakteristik pada Penanda Molekuler”. Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas genetik ternak lokal untuk menjaga plasma nutfah sekaligus meningkatkan produktivitas peternakan nasional.
Salah satu yang disoroti adalah Sapi Bali yang dikenal memiliki daya adaptasi tinggi. Sapi ini merupakan hasil domestikasi banteng liar (Bos javanicus) dan memiliki jejak genetik pada sejumlah sapi lokal melalui persilangan dengan sapi Zebu, Ongole/PO, hingga sapi Eropa.
Selain itu, ia juga menyoroti potensi genetik Ayam Cemani yang memiliki karakteristik fibromelanosis atau pigmentasi hitam hampir di seluruh tubuh. Ayam ini memiliki penanda molekuler spesifik yang menjadi keunggulan genetik tersendiri.
Dalam pengembangan sapi perah, Sutopo turut menjelaskan peran gen Toll-like Receptor 4 (TLR4) yang berkaitan dengan produksi susu dan ketahanan terhadap penyakit mastitis. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan teknologi penanda genetik untuk menghasilkan sapi perah yang lebih produktif dan adaptif terhadap lingkungan tropis.
Sementara itu, pada sesi kedua, Prihantoro memaparkan makalah berjudul “CORTEX: Sistem Penelusuran Data Korpus untuk Humaniora Digital”. Ia menjelaskan bahwa perkembangan linguistik korpus kini menjadi bagian penting dalam teknologi bahasa berbasis digital.
Menurutnya, pemanfaatan Natural Language Processing (NLP) telah digunakan secara luas, mulai dari penerjemahan mesin, text-to-speech, hingga analisis data untuk kebijakan publik.
Prihantoro juga menyoroti sejumlah perangkat pengolahan data korpus seperti CQPweb, Sketch Engine, LancsBox, dan WordSmith. Namun, ia menilai proses interpretasi data masih sangat bergantung pada keahlian peneliti.
Melalui inovasi CORTEX, ia menawarkan sistem berbasis kecerdasan buatan yang tidak hanya menampilkan data, tetapi juga membantu pengguna dalam memahami dan menafsirkan hasil analisis secara lebih efektif.
“CORTEX menjadi langkah strategis dalam memperkuat kemandirian teknologi bahasa nasional serta mendukung transformasi digital dan penguatan sumber daya manusia,” jelasnya.
Presentasi kedua calon guru besar tersebut menunjukkan kontribusi UNDIP dalam pengembangan ilmu pengetahuan lintas bidang, mulai dari inovasi genetika ternak lokal hingga penguatan humaniora digital berbasis teknologi.
(*)












Komentar