Dwi Hartanto & KKMP yang Bertahan dari Uang Pribadi

Bertahan dengan Modal Swadaya, KKMP Tlogosari Kulon Andalkan Loyalitas Anggota

JURANEWS.ID, SEMARANG — Pukul 10 pagi, pintu Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang baru saja dibuka.

 

Di ruangan sederhana di samping kantor kelurahan, Dwi Hartanto (65) mulai menata karung beras dan gula yang akan dijual hari itu.

 

Tak setiap hari koperasi ini buka. Hanya Senin hingga Rabu, dari pukul 10.00 hingga 16.00 WIB. Maklum, sebagian besar pengurusnya masih aktif bekerja.

 

“Karena kita pengurusnya masih kerja, jadi operasionalnya terbatas,” ujar Dwi ditemui saat menghadiri kegiatan workshop Cerita Koperasi Desa Jadi Berita Bermakna, di Semarang, Rabu (6/5)

 

Koperasi yang ia pimpin di Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang ini resmi diluncurkan pada 13 September lalu.

 

Saat itu, mereka memulai langkah dengan menggelar pasar murah bekerja sama dengan Bulog.

 

Dari sana, roda koperasi mulai berputar, meski pelan.

 

Hingga kini, jumlah anggota sudah mencapai sekitar 208 orang.

 

Mayoritas berasal dari kalangan ASN dan PPPK di lingkungan kelurahan. Namun, di balik angka itu, ada tantangan yang tak kecil.

 

“Iuran wajib tiap bulan masih agak lambat,” kata Dwi jujur.

 

Kondisi itu membuat operasional koperasi belum sepenuhnya ditopang dari kas bersama.

 

Untuk memenuhi stok kebutuhan pokok seperti beras dan gula, pengurus terpaksa menggunakan uang pribadi.

 

“Untuk belanja sembako, sementara ini masih mengandalkan dana dari pengurus,” ungkapnya.

 

Meski begitu, mereka tak berhenti bergerak. Pada 7 Maret lalu, KKMP Tlogosari Kulon menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) sekaligus kembali menghadirkan sembako murah bagi anggota.

 

Dari kegiatan pasar murah, koperasi bahkan berhasil mencatat keuntungan sekitar Rp2 juta.

 

Keuntungan itu tidak dibagi sekarang. Dwi dan pengurus sepakat menyimpannya sebagai Sisa Hasil Usaha (SHU) yang kelak akan dibagikan kepada anggota aktif.

 

Bagi Dwi, koperasi bukan sekadar tempat jual beli. Ia percaya, kunci keberhasilan ada pada partisipasi anggota.

 

“Kalau anggota aktif bayar iuran dan belanja di koperasi insyaallah koperasi bisa hidup,” katanya.

 

Sebaliknya, tanpa keterlibatan anggota, koperasi hanya akan berjalan di tempat.

 

“Kalau anggota tidak belanja di koperasi, dari mana keuntungan datang?” lanjutnya.

 

Di usianya yang tak lagi muda, Dwi masih menyimpan harapan besar. Ia ingin koperasi benar-benar menjadi penopang kebutuhan warga, bukan sekadar formalitas kelembagaan.

 

Salah satu harapannya adalah dukungan pemerintah, terutama dalam akses barang subsidi.

 

“Kalau koperasi bisa menjual beras, gula, atau gas melon di bawah harga pasar, masyarakat pasti akan datang,” ujarnya.

 

Menurutnya, koperasi harus mampu hadir saat anggota membutuhkan. Jika tidak, kepercayaan akan perlahan hilang.

 

“Kalau anggota butuh tapi koperasi tidak punya barang, ya sama saja,” kata Dwi.

 

Di tengah segala keterbatasan, jam operasional, modal, hingga partisipasi anggota KKMP Tlogosari Kulon tetap bertahan.

 

Perlahan, dari rak beras dan gula di ruangan kecil itu, harapan tentang kemandirian ekonomi warga terus dijaga.

 

(*)

Komentar