JAKARTA, JURANEWS.ID – Duka menyelimuti penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.
Empat petugas dilaporkan meninggal dunia saat menjalankan operasi pemadaman pada Kamis (15/10/2026), sementara dua personel lainnya mengalami luka bakar dan masih menjalani perawatan medis intensif.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya empat petugas tersebut.
BNPB juga memberikan penghormatan atas dedikasi dan pengabdian para personel yang bertugas melindungi lingkungan serta mencegah meluasnya dampak kebakaran.
Dalam siaran pers yang diterbitkan Sabtu (17/10/2026), BNPB menegaskan bahwa operasi pemadaman karhutla di kawasan TNBTS memiliki risiko tinggi.
Petugas di lapangan harus menghadapi kondisi medan, perubahan arah angin, perkembangan titik api, serta situasi kebakaran yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Berbagai tantangan tersebut menuntut kewaspadaan, kesiapsiagaan, dan koordinasi yang kuat dari seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan kebakaran.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya keselamatan personel dalam setiap operasi penanggulangan bencana.
BNPB menekankan bahwa penanganan karhutla perlu didukung penilaian risiko secara cermat, pemantauan kondisi lapangan berkelanjutan, kesiapan jalur evakuasi, serta komunikasi efektif antarpetugas dan instansi terkait.
Pengambilan keputusan di lapangan juga harus mempertimbangkan perkembangan api, arah dan kecepatan angin, karakteristik medan, serta potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan personel.
Selain itu, kesiapan sarana dan prasarana pendukung, penerapan prosedur keselamatan, dan kemampuan melakukan evakuasi secara cepat menjadi bagian penting untuk meminimalkan risiko selama operasi pemadaman berlangsung.
BNPB turut mendoakan dua petugas yang mengalami luka bakar agar segera pulih. Kepada keluarga empat petugas yang meninggal dunia, BNPB menyampaikan harapan agar diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi kehilangan tersebut.
Koordinasi dan Pencegahan Karhutla Diperkuat
BNPB menilai penanggulangan karhutla membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, petugas pemadam, pengelola kawasan konservasi, aparat terkait, relawan, serta masyarakat.
Koordinasi lintas sektor diperlukan agar penanganan kebakaran berlangsung efektif dan terukur tanpa mengabaikan keselamatan seluruh personel yang terlibat.
Di sisi lain, upaya pencegahan dan kesiapsiagaan juga perlu terus diperkuat. Langkah tersebut mencakup pengawasan kawasan rawan kebakaran, pemantauan potensi titik api, edukasi kepada masyarakat, serta penguatan sistem peringatan dini dan respons darurat.
Melalui langkah terpadu tersebut, risiko kebakaran dan dampaknya terhadap lingkungan maupun masyarakat diharapkan dapat ditekan.
BNPB mengajak seluruh pihak menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk memperkuat komitmen penanggulangan bencana yang menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas utama.
Pengabdian para petugas yang gugur menjadi pengingat atas risiko besar yang dihadapi personel di garis depan penanganan bencana dalam upaya melindungi alam dan masyarakat.
(*)














Komentar