JURANEWS.ID, JAKARTA – Ketika anak-anak beranjak dewasa dan mulai menjalani kehidupan secara mandiri, banyak orang tua memasuki fase yang dikenal sebagai empty nest syndrome. Kondisi ini ditandai dengan perasaan kesepian, kehilangan rutinitas, hingga kecemasan karena anak tidak lagi tinggal bersama mereka.
Fenomena tersebut menjadi perhatian karena tidak hanya berdampak pada kondisi emosional, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan fisik apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Direktur Bisnis Individu IFG Life, Fabiola Noralita, mengatakan fase ketika anak mulai meninggalkan rumah merupakan bagian alami dari perjalanan hidup keluarga. Namun, masyarakat perlu mempersiapkan diri agar dapat beradaptasi dengan baik menghadapi perubahan tersebut.
“Setiap tahap kehidupan memiliki tantangan dan kebutuhan yang berbeda. Memasuki fase empty nest, masyarakat perlu mempersiapkan diri secara menyeluruh, baik dari sisi kesehatan, mental, maupun finansial, agar dapat menjalani fase kehidupan berikutnya dengan lebih tenang dan percaya diri,” ujar Fabiola dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, perasaan sedih ketika anak mulai hidup mandiri merupakan respons yang normal. Namun apabila tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi stres berkepanjangan yang berdampak pada kualitas hidup.
Stres kronis akibat kesepian dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, seperti sulit tidur, perubahan pola makan, penurunan energi, hingga melemahnya daya tahan tubuh.
Di sisi lain, memasuki usia senja juga identik dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit, mulai dari hipertensi, diabetes, penyakit jantung, hingga gangguan kesehatan lainnya yang membutuhkan biaya perawatan tidak sedikit.
Karena itu, Fabiola menilai perlindungan kesehatan dan jiwa menjadi salah satu aspek penting yang perlu dipersiapkan sejak dini. Asuransi kesehatan dapat membantu mengurangi beban biaya pengobatan yang tidak terduga, sementara asuransi jiwa memberikan perlindungan finansial bagi pasangan atau keluarga apabila terjadi risiko meninggal dunia.
Selain mempersiapkan perlindungan finansial, masyarakat juga dianjurkan untuk menjaga pola hidup sehat, aktif bersosialisasi, serta mengembangkan aktivitas positif yang dapat memberikan makna baru dalam kehidupan setelah anak-anak hidup mandiri.
Menurut IFG Life, masa ketika anak mulai mandiri seharusnya dapat menjadi momentum bagi orang tua untuk kembali memprioritaskan kesehatan, kesejahteraan, dan perencanaan masa depan mereka sendiri.
Sebagai perusahaan asuransi jiwa dan kesehatan yang merupakan anggota IFG Holding, IFG Life menyatakan komitmennya untuk mendampingi masyarakat Indonesia melalui berbagai solusi perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan di setiap tahap kehidupan.
“Pada akhirnya, tujuan perlindungan bukan hanya memberikan manfaat ketika risiko terjadi, tetapi juga membantu masyarakat menjalani hidup dengan lebih tenang dan fokus pada hal-hal yang benar-benar bermakna,” tutup Fabiola.
(*)















Komentar