PEMALANG, JURANEWS.ID – Festival Literasi Kabupaten Pemalang Tahun 2026 resmi ditutup dengan kegiatan bedah buku Simfoni Tiga Peradaban di Eropa karya Dr. Mahendra di GOR Kridanggo Pemalang, Selasa (4/8/2026).
Kegiatan yang diikuti ratusan pelajar SMP dan SMA dari berbagai sekolah di Kabupaten Pemalang itu menjadi puncak rangkaian Festival Literasi sekaligus momentum untuk menumbuhkan budaya membaca, berpikir kritis, dan semangat menulis di kalangan generasi muda.
Mewakili Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinperpuska) Kabupaten Pemalang, Kepala Bidang Perpustakaan Edi Sutriyono mengatakan Festival Literasi digelar untuk mendorong para pelajar menjadikan membaca sebagai kebiasaan yang mampu membuka wawasan serta membentuk karakter.
“Festival Literasi kami selenggarakan agar adik-adik semakin gemar membaca, memiliki daya pikir kritis, dan menjadikan literasi sebagai bekal meraih masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Edi menjelaskan bahwa Sarajevo, ibu kota Bosnia dan Herzegovina, merupakan kota yang menyimpan sejarah panjang mengenai kehidupan masyarakat multikultural di tengah keberagaman agama dan budaya.
Menurutnya, pengalaman sejarah Sarajevo memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia yang juga memiliki keberagaman suku, agama, dan budaya.
“Melalui buku ini kita bisa belajar dari bangsa lain sekaligus melihat besarnya potensi bangsa kita. Indonesia memiliki keberagaman yang harus terus dijaga melalui semangat toleransi dan persatuan,” katanya.
Berawal dari Tulisan di Media Sosial
Bedah buku dipandu moderator Eri Maritim dengan menghadirkan langsung penulis Dr. Mahendra.
Dalam pemaparannya, Mahendra mengungkapkan bahwa bukunya lahir dari kebiasaan sederhana menulis pengalaman perjalanan di berbagai platform digital seperti blog, Facebook, Instagram, hingga YouTube.
Tulisan yang dibuat secara konsisten sejak 2019 hingga 2022 mengenai Sarajevo akhirnya menarik perhatian editor dan penerbit hingga diterbitkan menjadi sebuah buku.
Ia pun mengajak para pelajar untuk mulai berani menulis sejak dini.
“Jangan takut memulai menulis. Media digital bisa menjadi tempat belajar dan mengasah kemampuan. Siapa tahu tulisan yang dibuat hari ini suatu saat bisa menjadi sebuah buku,” ungkapnya.
Mahendra menjelaskan bahwa Sarajevo menjadi salah satu simbol penting dalam sejarah Perang Bosnia 1992–1995.
Menurutnya, konflik tersebut menjadi pengingat bahwa perbedaan yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu perpecahan.
Karena itu, ia mengajak generasi muda Indonesia untuk terus menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan memperkuat nilai toleransi sebagai modal utama membangun bangsa.
Melalui Festival Literasi 2026, Pemerintah Kabupaten Pemalang berharap budaya membaca dan menulis semakin berkembang di kalangan pelajar sehingga mampu melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, kritis, serta memiliki karakter kuat dalam menjaga persatuan Indonesia.
(*)










Komentar