BANYUASIN, JURANEWS.ID – Potensi pertanian di Kawasan Transmigrasi Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih jauh melalui hilirisasi dan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) Awal Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) Tim 24 yang berlangsung di Kantor Kecamatan Tanjung Lago, Selasa (8/9/2026).
Mengangkat tema “Industrialisasi dan Hilirisasi: Mengembangkan Potensi Komoditas Unggulan Daerah untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat”, FGD tersebut menjadi tahap awal untuk memetakan potensi, persoalan, serta peluang pengembangan komoditas dan usaha masyarakat di kawasan tersebut.
Ketua Tim 24 TEP UNDIP, Prof. Dr. Rer Oec. Arfan Bakhtiar, S.T., M.T., mengatakan tema industrialisasi dan hilirisasi merupakan tindak lanjut dari temuan tim TEP pada tahun sebelumnya.
“Tema industrialisasi dan hilirisasi ini kami dapatkan dari laporan tiga tim TEP tahun lalu. Jadi, kami menjalankan apa yang menjadi temuan dari tim sebelumnya,” ujar Prof. Arfan.
Dalam FGD, perwakilan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Banyuasin, Agung, menyampaikan bahwa kawasan Telang memiliki sejumlah komoditas potensial, antara lain padi, jagung, dan kelapa.
Potensi tersebut dinilai tidak harus berhenti pada penjualan bahan mentah. Produk pertanian dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan yang memiliki nilai tambah.
Sebagai contoh, hasil samping produksi padi dapat dikembangkan menjadi jerami, sekam, briket padi, hingga tepung padi.
“Dari padi, misalnya, bisa dikembangkan menjadi jerami, sekam, briket padi, maupun tepung padi,” jelas Agung.
Pengolahan limbah pertanian, terutama sekam padi, juga menjadi salah satu peluang yang dinilai perlu dikaji lebih lanjut.
Konsep tersebut diharapkan dapat membuka sumber nilai tambah baru sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penjualan komoditas dalam bentuk bahan mentah.
Peluang hilirisasi juga didukung oleh perkembangan produksi pertanian di Kabupaten Banyuasin.
Data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banyuasin menunjukkan tren produksi pertanian yang terus meningkat. Dalam materi FGD disebutkan bahwa produksi padi Banyuasin pada 2025 menjadi yang terbesar di tingkat nasional.
Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar untuk melihat peluang pengembangan hilirisasi komoditas pertanian di Kawasan Transmigrasi Telang.
Namun, peningkatan produksi di sektor hulu perlu diikuti kemampuan pengolahan, sumber daya manusia, permodalan, serta akses pasar agar nilai ekonomi yang dihasilkan dapat meningkat.
Selain hilirisasi, penguatan UMKM menjadi bagian penting dalam pembahasan.
Siska Anggraini dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Banyuasin mengatakan pengembangan UMKM perlu diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam menjalankan dan mengembangkan usaha.
Menurutnya, UMKM di kawasan transmigrasi tidak hanya berpotensi menjadi usaha utama, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.
Salah satu aspek yang perlu diperkuat adalah akses pemasaran, termasuk pemanfaatan platform digital agar produk UMKM Telang dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Hasil diskusi Kelompok Industrialisasi menunjukkan pelaku usaha di kawasan tersebut relatif siap pada tahap hulu produksi.
Tingkat kesiapan pada tahapan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 60 persen, sedangkan persoalan yang cukup menonjol ditemukan pada aspek pemasaran.
Karena itu, diperlukan pendampingan dari pihak terkait agar produk UMKM dapat memenuhi persyaratan, memiliki legalitas yang memadai, meningkatkan daya saing, serta mampu menembus pasar di luar kawasan.
Prof. Arfan mengatakan TEP UNDIP Tim 24 telah merancang lima kegiatan yang akan dijalankan di Kawasan Transmigrasi Telang.
FGD menjadi salah satu tahapan awal untuk memastikan program yang disusun sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
“Berdasarkan hasil diskusi kami, Telang termasuk kawasan yang berhasil dan menjadi percontohan. Tentunya ini menjadi sebuah kebanggaan,” katanya.
Dalam FGD, peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yakni Kelompok Hilirisasi dan Kelompok Industrialisasi.
Kelompok Hilirisasi mengidentifikasi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan sarana dan teknologi pengolahan, kapasitas sumber daya manusia, permodalan, kontinuitas bahan baku, akses pasar, hingga penguatan kelembagaan dan koordinasi antar-pihak.
Hasil diskusi merekomendasikan pengembangan model pengolahan yang disesuaikan dengan kondisi kawasan dan kebutuhan pasar.
Sementara itu, dukungan lintas pemangku kepentingan dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus membuka peluang usaha baru.
Tokoh masyarakat setempat, Landung Widodo, mengapresiasi pendampingan yang dilakukan TEP UNDIP bersama berbagai pihak.
Ia mengatakan masyarakat Telang telah melewati berbagai tantangan sejak awal program transmigrasi sekitar 46 tahun lalu.
Menurut Landung, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat saat ini telah mengalami perubahan dibandingkan masa awal transmigrasi.
“Alhamdulillah, hari ini kondisi ekonomi dan sosial sudah membaik dibanding 46 tahun lalu. Tidak ada kata yang lebih indah dibanding kata ucapan terima kasih,” ungkapnya.
FGD tersebut selanjutnya menjadi bahan bagi TEP UNDIP untuk memformulasikan program Ekspedisi Patriot 2026 di Telang.
Pengembangan kawasan diharapkan tidak hanya mengandalkan produksi di sektor hulu, tetapi juga mencakup pengolahan hasil pertanian, peningkatan kapasitas SDM, legalitas usaha, permodalan, kolaborasi, hingga pemasaran.
TEP UNDIP menilai sinergi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, kelembagaan ekonomi, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi bagian penting agar potensi komoditas Telang dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Program tersebut juga dikaitkan dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 tentang pengentasan kemiskinan, SDG 2 tentang ketahanan pangan, SDG 9 tentang industri, inovasi dan infrastruktur, serta SDG 17 tentang kemitraan.
(*)











Komentar