JURANEWS.ID, TANGGERANG — IKEA Indonesia menyoroti kebiasaan masyarakat yang kerap memilih solusi penyimpanan secara instan tanpa mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang. Pola “asal muat dulu” dinilai menjadi salah satu penyebab rumah terasa lebih penuh dan berantakan meski sebenarnya masih memiliki ruang yang cukup.
Melalui kampanye “Ga Perlu Main Petak Umpet Lagi”, IKEA mengajak masyarakat untuk lebih cermat dalam menata rumah dengan memilih solusi penyimpanan yang sesuai kebutuhan dan memiliki fungsi yang jelas sejak awal.
Home Furnishing & Competence Development Leader IKEA Indonesia, Ruth Pricilla Pandjaitan mengatakan berdasarkan pengamatan dalam program Home Visit IKEA, banyak rumah yang sebenarnya cukup luas namun tetap terasa sesak akibat sistem penyimpanan yang tidak konsisten.
“Ada banyak rumah yang tidak kecil, memiliki cukup ruang, tapi terasa penuh karena cara menyimpannya tidak konsisten atau tidak punya sistem yang baik. Banyak orang cenderung menambah solusi setiap kali merasa terdesak, bukan berhenti sejenak untuk melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan,” ujar Ruth dalam keterangannya, Kamis (14/5/2026).
Menurut IKEA, salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah masyarakat langsung menambah tempat penyimpanan baru tanpa mengevaluasi barang yang dimiliki. Padahal, kondisi tersebut hanya memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain tanpa benar-benar mengurangi penumpukan.
IKEA menyarankan masyarakat mulai memilah barang berdasarkan frekuensi penggunaan agar lebih mudah menentukan mana yang masih diperlukan dan mana yang hanya memenuhi ruang. Penggunaan organizer seperti seri STUK, SKUBB, NOJIG, hingga KACKLA disebut dapat membantu menciptakan sistem penyimpanan yang lebih rapi dan efisien.
Selain itu, IKEA juga menekankan pentingnya memisahkan barang yang ingin dipajang dengan barang yang cukup disimpan. Rak terbuka seperti seri KALLAX dan BILLY dinilai cocok untuk barang yang sering digunakan atau ingin ditampilkan, sementara kotak penyimpanan seperti DRÖNA dan KUGGIS dapat membantu menjaga tampilan ruang tetap rapi.
Interior Design Leader IKEA Indonesia, Alfinda Kristra Rahardyana menjelaskan ruang yang terlihat rapi belum tentu terasa nyaman jika terlalu banyak barang terlihat dalam satu waktu.
“Secara visual, ruang bisa saja terlihat rapi, tapi tetap penuh dan sesak. Biasanya karena terlalu banyak yang terlihat di saat yang sama atau tidak ada pembagian yang jelas. Desain yang baik justru mengurangi kebutuhan untuk terus menyiasati itu,” jelas Alfinda.
IKEA juga menyoroti pentingnya memilih ukuran perabot yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan ruang. Penggunaan perabot berukuran tanggung dinilai sering membuat barang sulit tersusun rapi hingga akhirnya menumpuk dan membuat rumah terasa semakin padat.
Selain itu, metode zoning atau pembagian area berdasarkan aktivitas sehari-hari juga dinilai efektif untuk menciptakan alur penggunaan ruang yang lebih teratur. Misalnya dengan membuat area khusus untuk barang bawaan dekat pintu masuk atau sudut relaksasi di kamar tidur.
Di sisi lain, IKEA mengingatkan bahwa tidak semua ruang harus diisi barang. Decluttering atau memilah barang secara berkala dinilai penting agar rumah terasa lebih lega dan nyaman digunakan sehari-hari.
Menurut IKEA, barang yang sudah tidak digunakan dapat disimpan terpisah, diberikan kepada orang lain, atau dijual kembali sebagai barang preloved agar tetap memiliki nilai guna.
Melalui kampanye tersebut, IKEA berharap masyarakat mulai mengubah kebiasaan dalam menata rumah dengan lebih mengutamakan fungsi dan kebutuhan dibanding sekadar solusi cepat.
“Ketika kita berhenti merespons semua hal dengan ‘cukup dulu’, maka ruang akan mulai berfungsi lebih konsisten. Kalau dari awal sudah sesuai kebutuhan, kita tidak perlu terus menyesuaikan. Biasanya, di situ ruang mulai terasa lebih ringan dan lebih mudah dipakai,” tutup Alfinda.
(*)








Komentar