VIDEO Investasi Batang Masuk 5 Besar, Kepala DPMPTSP Jateng Ungkap Pergeseran Industri dan Dampaknya ke Tenaga Kerja

Kepala DPMPTSP Jawa Tengah Sakina Rosellasari menyebut realisasi investasi Kabupaten Batang masuk lima besar, tetapi penyerapan tenaga kerja berada di peringkat ke-11 akibat pergeseran industri ke sektor yang lebih padat modal.

KLIK LINK UNTUK MELIHAT VIDEO : https://vt.tiktok.com/ZS4Lot6P4/

 

JURANEWS.ID, BATANG – Perkembangan investasi di Kabupaten Batang mulai menunjukkan adanya perubahan struktur industri. Sektor yang sebelumnya dikenal banyak menyerap tenaga kerja, seperti tekstil dan garmen, disebut mulai bergeser seiring masuknya industri yang lebih padat modal.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Ir. Sakina Rosellasari, M.Si., M.Sc., saat membahas perkembangan investasi dan penyerapan tenaga kerja di Jawa Tengah.

Menurut Sakina, perubahan struktur industri tersebut turut memengaruhi posisi sektor tekstil yang sebelumnya berada di jajaran tiga besar. Kini, sektor tersebut disebut mulai bergeser ke posisi kelima.

“Yang pasti ada pengaruhnya. Makanya yang namanya tekstil bergeser, yang tadinya itu selalu tiga besar, sekarang itu peringkat kelima,” kata Sakina, Rabu (29/7).

Pergeseran tersebut, lanjutnya, menunjukkan adanya perubahan karakter industri yang berkembang di sejumlah kawasan, termasuk Kabupaten Batang.

Sakina menjelaskan, perubahan karakter investasi tersebut dapat dilihat dari perbandingan antara realisasi investasi dengan penyerapan tenaga kerja.

Kabupaten Batang disebut berada di jajaran lima besar daerah dengan realisasi investasi. Namun, ketika dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja, posisi Kabupaten Batang berada di peringkat ke-11.

“Kalau dilihat teman-teman semua, realisasi investasi lima besar, salah satunya nomor tiga itu Batang. Tetapi ketika penyerapan tenaga kerja, Batang itu nomor 11,” ujarnya.

Menurut Sakina, kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa industri yang berkembang mulai mengalami pergeseran dari sektor yang mengandalkan jumlah tenaga kerja besar menuju industri yang lebih padat modal atau capital intensive.

Industri dengan karakter tersebut cenderung membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah lebih sedikit, tetapi memiliki tuntutan kompetensi yang lebih tinggi.

“Berarti kan industri yang ada di KEK Batang sekarang sudah mulai bergeser ke padat modal atau capital intensive, sektor-sektor yang membutuhkan tenaga kerja lebih sedikit, tetapi tentunya lebih kompeten,” jelasnya.

Pemprov Jateng Siapkan Tenaga Kerja Sesuai Kebutuhan Industri

Menghadapi perubahan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak untuk menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Sakina mengatakan pihaknya akan berdiskusi dengan dinas yang membidangi pendidikan dan ketenagakerjaan. Langkah tersebut diperlukan untuk menyesuaikan kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.

Salah satu kompetensi yang menjadi perhatian adalah keterampilan di bidang kepakaian atau tekstil, termasuk kemampuan yang berkaitan dengan kegiatan ekspor dan impor.

Selain itu, koordinasi juga akan dilakukan dengan lembaga terkait yang bergerak di bidang pelatihan, produktivitas, dan pendidikan vokasi.

Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapan tenaga kerja lokal agar mampu memenuhi kebutuhan industri yang semakin membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi khusus.

Meski industri padat modal mulai berkembang, Sakina menegaskan bahwa industri padat karya di Kabupaten Batang masih tetap ada.

Salah satunya adalah sektor tekstil yang masih memiliki peluang pengembangan dan pembukaan usaha baru.

“Di Kabupaten Batang sendiri selain industrinya padat modal, ternyata padat karya juga ada. Contohnya adalah tekstil, kemudian tekstil ada bukaan baru,” ujarnya.

Dengan demikian, perubahan struktur industri tidak berarti sektor padat karya sepenuhnya menghilang. Kabupaten Batang justru menghadapi kondisi industri yang semakin beragam, dengan keberadaan sektor padat modal dan padat karya secara bersamaan.

Pergeseran tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam menyiapkan tenaga kerja. Jika industri padat karya membutuhkan pekerja dalam jumlah besar, industri padat modal lebih menitikberatkan pada kualitas dan kompetensi sumber daya manusia.

Karena itu, peningkatan keterampilan dan kompetensi tenaga kerja menjadi penting agar masyarakat lokal dapat mengambil manfaat dari pertumbuhan investasi yang masuk ke Kabupaten Batang.

Pemerintah perlu memastikan pendidikan vokasi dan pelatihan kerja dapat berjalan seiring dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

Dengan demikian, peningkatan investasi tidak hanya tercermin dari nilai penanaman modal, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas tenaga kerja dan kesempatan kerja masyarakat.

Pernyataan Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi di Kabupaten Batang tengah memasuki fase baru.

Di satu sisi, nilai investasi terus berkembang dengan masuknya industri padat modal. Namun di sisi lain, pemerintah menghadapi tantangan untuk memastikan tenaga kerja lokal memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.

Dengan kondisi tersebut, persaingan tenaga kerja ke depan tidak hanya ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang tersedia, tetapi juga oleh kualitas keterampilan dan kompetensi yang dimiliki.

(*)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar