JURANEWS.ID, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan situasi dan penanganan bencana di berbagai wilayah Indonesia selama periode 11–12 Juni 2026. Berdasarkan data terbaru, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi bencana yang paling dominan, sementara penanganan dampak gempa bumi Magnitudo 7,7 di Sulawesi Utara terus berlangsung.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., mengatakan bahwa sejumlah daerah masih berada dalam status siaga darurat maupun tanggap darurat bencana sehingga membutuhkan perhatian dan kesiapsiagaan seluruh pihak.
“BNPB bersama pemerintah daerah terus melakukan langkah penanganan, mitigasi, serta kesiapsiagaan guna mengurangi risiko bencana yang lebih besar,” ujar Abdul Muhari dalam laporan perkembangan situasi kebencanaan nasional yang dirilis Jumat (12/6/2026).
Karhutla Jambi Capai 121,6 Hektare
BNPB mencatat kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi masih menjadi perhatian utama. Hingga Rabu (11/6/2026), luas lahan terbakar mencapai 121,6 hektare yang tersebar di sembilan kabupaten dan dua kota.
Wilayah terdampak meliputi Kabupaten Batanghari, Muaro Jambi, Tebo, Bungo, Sarolangun, Merangin, Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Kerinci, Kota Sungai Penuh, dan Kota Jambi.
Kabupaten Sarolangun menjadi daerah dengan luas lahan terbakar terbesar mencapai 42,4 hektare. Disusul Kabupaten Tanjung Jabung Barat seluas 33,4 hektare, Batanghari 22,8 hektare, dan Tanjung Jabung Timur 18,8 hektare.
Pemerintah Provinsi Jambi masih menetapkan status Siaga Darurat Karhutla hingga 30 November 2026. Satgas Karhutla gabungan terus melakukan pemadaman dan penanganan di sejumlah titik api yang masih terpantau.
Gempa Sulawesi Utara, 1.160 Warga Mengungsi
Selain karhutla, BNPB juga memantau penanganan dampak gempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang Sulawesi Utara pada Minggu (8/6/2026).
Data BNPB menunjukkan sebanyak 249 kepala keluarga terdampak dengan total 1.160 jiwa mengungsi. Selain itu, 249 unit rumah dan 26 fasilitas umum mengalami kerusakan.
Wilayah terdampak meliputi Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud, Kabupaten Minahasa Utara, hingga Kota Manado.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menetapkan status Tanggap Darurat hingga 21 Juni 2026. Hingga kini gempa susulan masih terjadi, terutama di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe.
“BNPB bersama pemerintah daerah terus melakukan pendampingan, asesmen, dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak gempa,” kata Abdul Muhari.
Riau dan Aceh Masih Fokus Penanganan Karhutla
Di Provinsi Riau, luas lahan terbakar sejak Januari hingga 11 Juni 2026 mencapai 15.220,34 hektare. Pemerintah Provinsi Riau masih memberlakukan status Siaga Darurat Karhutla hingga November 2026.
Sementara di Aceh, kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Nagan Raya tercatat mencapai 99 hektare. Tim gabungan berhasil memadamkan sekitar 98,8 hektare lahan, sedangkan sisanya masih dalam proses pendinginan.
Adapun di Kabupaten Aceh Barat, luas lahan terbakar mencapai 34,1 hektare. Upaya pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan didukung operasi water bombing menggunakan helikopter BNPB.
BNPB Imbau Waspada Musim Kemarau
Memasuki musim kemarau, BNPB mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang menunjukkan tren peningkatan area terbakar.
Menurut Abdul Muhari, kesiapan pemerintah daerah, dukungan lintas sektor, serta partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan risiko bencana.
“Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan, terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini, serta segera melapor kepada petugas apabila menemukan potensi ancaman bencana di lingkungan sekitar,” tegasnya.
BNPB menilai sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dunia usaha, relawan, dan masyarakat menjadi kunci dalam memperkuat upaya pencegahan, penanganan darurat, hingga pemulihan pascabencana di seluruh Indonesia.
(*)













Komentar