JURANEWS.ID, JAKARTA – Musim kemarau 2026 mulai menunjukkan dampaknya di sejumlah daerah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan ratusan keluarga di Jawa Tengah dan Jawa Timur mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat kekeringan yang mulai meluas.
Dalam laporan perkembangan situasi dan penanganan bencana per 20 Juni 2026, BNPB menyebut wilayah Kabupaten Banyumas dan Purbalingga menjadi daerah yang terdampak paling awal seiring memasuki musim kemarau.
Di Kabupaten Banyumas, kekeringan dirasakan warga Kelurahan Sokanegara, Kecamatan Purwokerto Timur, dan Desa Taman Sari, Kecamatan Karanglewas. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sebanyak 567 kepala keluarga (KK) terdampak, terdiri atas 523 KK di Kelurahan Sokanegara dan 44 KK di Desa Taman Sari.
Sebagai langkah darurat, BPBD Banyumas telah menyiapkan tiga titik penampungan air berkapasitas masing-masing 4.000 liter guna membantu distribusi air bersih kepada warga.
Pemerintah daerah juga tengah mengupayakan penambahan penampungan air di tingkat RT agar distribusi air bersih lebih merata menjelang puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Purbalingga. Kekeringan melanda Desa Kutabawa dan Desa Serang, Kecamatan Karangreja. Sebanyak 102 KK atau 398 jiwa dilaporkan mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
Menanggapi kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Purbalingga langsung menyalurkan bantuan dua truk tangki berisi 10.000 liter air bersih untuk warga terdampak di Dusun Gunung Malang, Desa Serang.
Sementara itu di Jawa Timur, BPBD Kabupaten Bondowoso terus menggencarkan distribusi air bersih sejak Mei 2026. Hingga saat ini, sebanyak 330.000 liter air telah disalurkan kepada 3.238 kepala keluarga yang tersebar di berbagai kecamatan terdampak kekeringan.
Pada Jumat (19/6), BPBD Bondowoso kembali mendistribusikan 10.000 liter air bersih untuk 217 KK di Desa Blimbing dan Karanganyar, Kecamatan Klabang.
BNPB Ingatkan Ancaman Karhutla
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) yang berpotensi meningkat selama musim kemarau.
Menurutnya, masyarakat perlu menghemat penggunaan air, menjaga sumber mata air, dan tidak membuka lahan dengan cara dibakar karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas.
“Pemerintah daerah juga perlu memperketat pengawasan di wilayah rawan, mempercepat pemadaman dini jika ditemukan titik api, serta mengaktifkan posko dan patroli terpadu bersama TNI, Polri, dan relawan,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan resminya.
Cuaca Ekstrem di Morotai, Seorang Nelayan Meninggal Tersambar Petir
Selain laporan kekeringan, BNPB juga menerima laporan kejadian cuaca ekstrem di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara.
Seorang warga Desa Bido, Kecamatan Morotai Timur, dilaporkan meninggal dunia setelah diduga tersambar petir saat baru pulang melaut pada Kamis (18/6).
BPBD setempat menyatakan tidak ada kerusakan material akibat kejadian tersebut. Pemerintah daerah juga telah menyiapkan santunan bagi keluarga korban.
BNPB mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat terjadi hujan yang disertai petir dan angin kencang, terutama bagi nelayan dan warga yang beraktivitas di area terbuka.
Fokus BNPB: Kekeringan hingga Karhutla
Memasuki puncak musim kemarau dalam beberapa bulan ke depan, BNPB memastikan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak kekeringan, memperkuat distribusi air bersih, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat juga diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BNPB, BPBD, dan BMKG guna mengurangi risiko bencana selama musim kemarau 2026.
(*)










Komentar