Mahasiswa UNDIP Sulap Eceng Gondok dan Pelepah Pisang Jadi Penyelamat Dokumen Bersejarah, Inovasi KIREI Curi Perhatian

Inovasi ini menawarkan solusi ramah lingkungan sekaligus memanfaatkan limbah organik menjadi produk bernilai tinggi

SEMARANG, JURANEWS.ID – Pelestarian dokumen bersejarah kini tidak lagi hanya berbicara soal menjaga arsip agar tetap utuh. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan, sekelompok mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) menghadirkan inovasi yang menggabungkan konservasi dokumen dengan prinsip keberlanjutan.

Inovasi tersebut diberi nama KIREI (Konservasi Inovatif Ramah Ekologi Indonesia), sebuah Japanese Conservation Tissue yang memanfaatkan serat eceng gondok dan pelepah pisang sebagai bahan baku utama.

Produk ini dikembangkan untuk menjadi alternatif material konservasi dokumen yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan impor.

KIREI merupakan hasil karya tim mahasiswa UNDIP yang dibimbing dosen Yanuar Yoga Prasetyawan, S.Hum., M.Hum.

Tim tersebut terdiri atas Zahra Najla Raniah dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) sebagai ketua, bersama Artika Zakiyah Darajat, Fara Putri Luphida, Yahya Puji Lestari dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), serta Irene Bertina Siadari dari Fakultas Teknik (FT).

Ketua tim, Zahra Najla Raniah, mengatakan ide KIREI muncul dari pemanfaatan dua bahan yang selama ini sering dianggap limbah, yaitu eceng gondok dan pelepah pisang.

“Kedua bahan tersebut memiliki kandungan serat selulosa yang berpotensi dikembangkan menjadi material berbasis serat alam. Melalui pengolahan dan inovasi, material tersebut kemudian diarahkan untuk mendukung kebutuhan konservasi dokumen,” ujarnya.

Bantu Kurangi Limbah Sekaligus Lestarikan Sejarah

Selain memiliki kandungan serat yang tinggi, eceng gondok dipilih karena keberadaannya sering menjadi persoalan di perairan akibat pertumbuhannya yang sangat cepat.

Sementara itu, pelepah pisang merupakan limbah pertanian yang melimpah di Indonesia namun belum banyak dimanfaatkan secara optimal.

Melalui inovasi KIREI, kedua bahan tersebut diolah menjadi produk bernilai guna yang tidak hanya mendukung pelestarian dokumen, tetapi juga memberikan nilai tambah terhadap limbah organik.

Menurut Zahra, konsep yang diusung KIREI menghubungkan tiga aspek penting sekaligus, yakni pelestarian dokumen, pemanfaatan sumber daya lokal, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Sebagai Japanese Conservation Tissue, KIREI memiliki karakteristik tipis, ringan, tetapi tetap kuat sehingga cocok digunakan dalam proses konservasi maupun restorasi dokumen, arsip, dan buku yang mengalami kerusakan.

Material ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat bagian kertas yang robek atau rapuh tanpa mengubah bentuk maupun informasi asli yang terdapat di dalam dokumen.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjadi solusi baru bagi perpustakaan, museum, lembaga kearsipan, hingga institusi pendidikan yang membutuhkan material konservasi berkualitas dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal.

Selain menawarkan inovasi di bidang konservasi, KIREI juga mendukung semangat pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan limbah organik, pengembangan inovasi lokal, serta konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab.

Melalui inovasi ini, tim mahasiswa UNDIP berharap pelestarian sejarah dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

“Melestarikan sejarah seharusnya tidak hanya berarti menjaga apa yang telah terjadi, tetapi juga memastikan generasi mendatang tetap memiliki kesempatan untuk mempelajari sejarah dalam lingkungan yang tetap terjaga,” pungkas Zahra.

Kehadiran KIREI menjadi bukti bahwa inovasi anak bangsa mampu menghadirkan solusi kreatif yang tidak hanya menjaga warisan sejarah, tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan untuk masa depan.

(*)

Komentar