JAKARTA, JURANEWS.ID – Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital Indonesia, ancaman kejahatan siber terus meningkat. Indonesia Anti Scam Center (IASC) mencatat lebih dari 548 ribu laporan kejahatan siber sepanjang Januari 2024 hingga April 2026, dengan penipuan online dan phishing menjadi kasus yang paling banyak dilaporkan.
Yang mengejutkan, banyak kasus kejahatan siber ternyata berawal dari kebiasaan digital yang dianggap sepele oleh pengguna internet.
Mulai dari membiarkan puluhan tab browser terbuka, asal menerima cookie, hingga menunda pembaruan browser dapat membuka celah bagi pelaku kejahatan untuk mencuri data pribadi dan mengambil alih akun.
Empat Kebiasaan yang Bisa Tingkatkan Risiko Kejahatan Siber
1. Membiarkan Banyak Tab Browser Terbuka
Kebiasaan membiarkan puluhan tab aktif selama berhari-hari ternyata berpotensi meningkatkan risiko keamanan. Beberapa situs dapat menjalankan pelacak, memuat iklan, hingga mengumpulkan data di latar belakang tanpa disadari pengguna.
2. Asal Klik “Terima Semua” Cookie
Banyak pengguna langsung menerima semua cookie tanpa memeriksa pengaturannya. Padahal, sebagian cookie digunakan untuk melacak aktivitas pengguna dan mengumpulkan data yang berpotensi dimanfaatkan untuk penipuan maupun serangan phishing yang lebih meyakinkan.
3. Terlalu Banyak Memasang Ekstensi Browser
Ekstensi memang memudahkan aktivitas online, namun tidak semuanya aman. Beberapa ekstensi dapat memantau aktivitas pengguna, mencuri data login, hingga mengarahkan pengguna ke situs berbahaya.
4. Mengabaikan Update Browser
Menunda pembaruan browser dapat membuat perangkat lebih rentan terhadap malware, phishing, dan berbagai serangan siber terbaru karena celah keamanan yang belum diperbaiki.
Opera Ingatkan Pentingnya Kebiasaan Digital yang Aman
Product Privacy & Security Advocate Opera, Michael Tegos, mengatakan ancaman siber kini semakin canggih dan menyasar pengguna internet sehari-hari.
“Banyak dari kita tidak menyadari seberapa besar kendali yang sebenarnya kita miliki terhadap keamanan online pribadi. Perubahan kebiasaan kecil seperti memperbarui browser, meninjau kembali ekstensi yang digunakan, atau lebih selektif dalam menerima cookie dapat membantu mengurangi risiko paparan terhadap pelaku kejahatan siber secara signifikan,” ujar Michael Tegos.
Menurutnya, keamanan digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kebiasaan pengguna saat beraktivitas di internet.
Dengan semakin tingginya aktivitas digital masyarakat, kesadaran terhadap keamanan siber menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Langkah sederhana yang dilakukan setiap hari dapat menjadi benteng pertama untuk melindungi data pribadi dari ancaman kejahatan siber.
(*)
















Komentar