JURANEWS.ID, JAKARTA – Dunia otomotif memasuki era baru. Persaingan kendaraan kini tidak lagi hanya soal tenaga mesin, efisiensi bahan bakar, atau desain futuristis, tetapi mulai bergeser pada kemampuan mobil dalam mengenali risiko dan membantu mencegah kecelakaan.
Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 melalui tema “Eye of the Future” yang menempatkan teknologi keselamatan sebagai bagian penting dari masa depan mobilitas.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka GIIAS 2026 menyampaikan bahwa keputusan investasi, pengembangan teknologi, dan pendalaman industri otomotif saat ini akan menentukan arah industri nasional hingga 2035.
Bagi GAIKINDO, kemajuan kendaraan masa depan bukan hanya diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kemampuan kendaraan membantu melindungi pengemudi dan pengguna jalan.
Mobil Kini Punya “Mata” Tambahan untuk Membaca Bahaya
Vice Compartment Future Automotive Technology & Renewable Energy GAIKINDO, Ardhana Wiranata, mengatakan perkembangan industri otomotif tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan performa kendaraan.
Menurutnya, kemampuan kendaraan dalam membantu mengurangi risiko kecelakaan akan menjadi salah satu indikator penting perkembangan industri ke depan.
“Perkembangan teknologi terus mendorong budaya berkendara yang semakin aman, nyaman, dan efisien. Tantangan industri ke depan bukan hanya menghadirkan teknologi yang semakin canggih, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat dipahami dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat,” ujar Ardhana.
Gambaran teknologi tersebut ditampilkan melalui Booth Safety & Advanced Technology GAIKINDO bersama Bosch Indonesia di GIIAS 2026.
Di area tersebut, pengunjung dapat melihat bagaimana teknologi keselamatan modern bekerja sebagai satu sistem untuk membantu pengemudi mengenali risiko dan merespons situasi berbahaya.
Dari Sensor hingga Rem Otomatis, Begini Cara Mobil Membaca Risiko
Bosch menjelaskan sistem keselamatan kendaraan modern bekerja melalui tiga tahapan utama, yaitu Sense, Think, dan Act.
Sense: Mata Tambahan Kendaraan
Tahap pertama adalah kemampuan kendaraan membaca lingkungan sekitar.
Melalui Multi-Purpose Camera, kendaraan dapat mengenali marka jalan dan pengguna jalan lain.
Sementara Radar Sensor berfungsi mengukur jarak serta kecepatan objek di sekitar kendaraan.
Kemudian Ultrasonic Sensor membantu mendeteksi benda dalam jarak dekat.
Ketiga teknologi tersebut bekerja seperti “mata tambahan” yang terus memantau kondisi sekitar kendaraan.
Think: Otak yang Mengolah Risiko
Setelah sensor mendapatkan informasi, data tersebut diproses oleh sistem komputasi kendaraan.
Perangkat lunak akan menganalisis perubahan situasi, memperkirakan potensi bahaya, dan menentukan respons yang diperlukan.
Seluruh proses tersebut berlangsung dalam hitungan milidetik sehingga kendaraan dapat memberikan bantuan ketika situasi menjadi kritis.
Act: Refleks Tambahan Saat Kondisi Darurat
Ketika risiko tabrakan meningkat, waktu pengemudi untuk bereaksi semakin terbatas.
Pada kondisi tersebut, teknologi seperti Integrated Power Brake membantu menghasilkan pengereman yang lebih cepat dan presisi.
Sistem tersebut berfungsi seperti “refleks tambahan” untuk membantu mengurangi kecepatan kendaraan atau dampak benturan, tanpa menggantikan kendali pengemudi.
Teknologi Keselamatan Jadi Kunci Industri Otomotif 2035
Director of Mobility Solution Bosch Indonesia, Bernard Simanjuntak, mengatakan teknologi keselamatan kendaraan bukan lagi sekadar penambahan fitur.
Menurutnya, tantangan berikutnya adalah bagaimana teknologi tersebut mampu memberikan dukungan yang tepat pada situasi yang tepat.
“Perkembangan teknologi keselamatan bukan lagi sekadar tentang menambah fitur pada kendaraan. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi dapat memberikan dukungan yang tepat pada situasi yang tepat, terutama ketika kondisi berkendara dan interaksi antar pengguna jalan semakin kompleks,” jelas Bernard.
Teknologi keselamatan kendaraan juga sejalan dengan target keselamatan jalan global.
Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Global Road Safety Target 5 mendorong agar seluruh kendaraan memenuhi standar keselamatan lebih tinggi pada 2030.
Di Indonesia, Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Lalu Lintas dan Angkutan Jalan juga menempatkan keselamatan kendaraan dan pengguna jalan sebagai salah satu pilar utama.
Tidak Cukup Canggih, Kendaraan Juga Harus Dirawat
Bosch menilai perkembangan teknologi keselamatan harus diikuti dengan kesiapan ekosistem.
Selain menghadirkan teknologi baru, industri juga perlu memastikan kendaraan mendapatkan perawatan yang tepat agar seluruh sistem tetap bekerja optimal sepanjang masa pakai.
Melalui divisi Mobility Aftermarket, Bosch turut menghadirkan berbagai produk pendukung keselamatan berkendara, seperti wiper, klakson, busi, filter, lampu, dan komponen otomotif lainnya.
Perawatan kendaraan menjadi bagian penting agar teknologi keselamatan tetap mampu menjalankan fungsinya.
Beli Wiper Bosch, Bantu Peremajaan Ambulans
Dalam ajang GIIAS 2026, Bosch juga mengajak masyarakat berkontribusi terhadap keselamatan melalui program sosial.
Setiap pembelian satu pasang wiper Bosch Advantage dan Clear Advantage selama pameran akan dikonversikan menjadi donasi untuk mendukung peremajaan 100 unit ambulans di berbagai daerah Indonesia.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya Bosch menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat, tidak hanya melalui inovasi teknologi kendaraan, tetapi juga melalui dukungan terhadap layanan kegawatdaruratan.
Dengan perkembangan teknologi sensor, sistem komputasi, dan fitur keselamatan pintar, kendaraan masa depan tidak hanya akan membawa manusia berpindah tempat, tetapi juga membantu menjaga keselamatan selama perjalanan.
(*)
















Komentar