JURANEWS.ID, BANDUNG – Industri kosmetik nasional berpotensi memasuki babak baru dalam pengembangan bahan baku lokal.
Merek kecantikan berbasis sains, Euterria, resmi menjalin kerja sama strategis dengan Kelompok Keahlian Kimia Organik FMIPA Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk melakukan riset, pengembangan, hingga produksi massal dua bahan aktif anti-aging premium, yakni Palmitoyl Tripeptide-5 dan Palmitoyl Tripeptide-38.
Kolaborasi yang diumumkan pada Kamis (11/6/2026) tersebut digadang-gadang menjadi langkah awal produksi peptida kosmetik komersial skala industri pertama yang dikembangkan secara penuh di Indonesia.
Saat ini, industri kosmetik dalam negeri masih bergantung pada impor bahan baku aktif, khususnya peptida yang berperan penting dalam pembentukan kolagen dan berbagai produk perawatan anti-penuaan.
Melalui kerja sama hilirisasi riset ini, kedua pihak berupaya mendorong kemandirian bahan baku kosmetik nasional sekaligus meningkatkan nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
CEO PT St. Morita Farma, Maruap Siahaan, mengatakan bahwa pesatnya perkembangan industri skincare lokal belum diikuti oleh kemampuan memproduksi bahan aktif secara mandiri.
“Selama ini, skincare lokal berkembang pesat, namun bahan aktifnya mayoritas masih dari luar negeri. Kolaborasi Euterria dengan Kimia ITB adalah pembuktian bahwa talenta dan fasilitas sains di Indonesia mampu memproduksi bahan aktif mutakhir dengan standar global,” ujarnya.
Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi langkah awal untuk membawa industri kecantikan Indonesia naik kelas, tidak hanya sebagai peracik produk, tetapi juga sebagai pencipta bahan baku dari hulu.
Dalam proyek ini, Palmitoyl Tripeptide-5 akan dikembangkan sebagai bahan aktif yang berfungsi merangsang produksi kolagen dan membantu melindungi kulit dari penuaan.
Sementara Palmitoyl Tripeptide-38 dikenal mampu menstimulasi enam komponen utama matriks kulit yang berperan dalam mengurangi kerutan.
Kedua peptida tersebut juga direncanakan diformulasikan bersama Kojic Acid untuk menghasilkan produk yang tidak hanya efektif mengatasi tanda-tanda penuaan, tetapi juga membantu menyamarkan hiperpigmentasi secara aman.
Peneliti peptida ITB, Ahmad Habibie, menilai kolaborasi antara akademisi dan industri menjadi kunci agar Indonesia tidak tertinggal dalam pengembangan kosmetik berbasis peptida.
“Era baru kosmetik berbasis peptida sudah dimulai, dan Indonesia tidak boleh tertinggal. Kami memiliki kapabilitas ilmiah di laboratorium, sementara Euterria memiliki pemahaman pasar dan regulasi yang kuat,” katanya.
Pengembangan peptida tersebut akan memanfaatkan teknologi Solid-Phase Peptide Synthesis (SPPS) yang dikuasai tim peneliti Kimia ITB guna memastikan tingkat kemurnian dan efektivitas bahan aktif yang dihasilkan.
Riset ini turut didukung sejumlah akademisi dari Kelompok Keilmuan Kimia Organik ITB, antara lain Lia Dewi Juliawaty, Didin Mujahidin, Elvira Hermawati, serta Ade Danova.
Melalui kerja sama tersebut, Euterria menargetkan lahirnya produk kosmetik berbasis bahan aktif lokal premium yang mampu memperkuat daya saing industri nasional sekaligus membuka jalan bagi ekosistem kosmetik Indonesia yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Produk perdana hasil kolaborasi ini dijadwalkan diperkenalkan kepada publik pada akhir 2026.
(*)















Komentar