Penyaluran PKE LPEI 2025 Tumbuh 85 Persen, Dorong Daya Saing Ekspor Nasional

Penyaluran Pembiayaan Ekspor Capai Rp13,5 Triliun, Didukung Program PKE Farmasi dan Alat Transportasi

JURANEWS.ID, JAKARTA – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia atau Indonesia Eximbank mencatatkan pertumbuhan signifikan dalam pelaksanaan Penugasan Khusus Ekspor (PKE) sepanjang 2025. Realisasi penyaluran PKE mencapai Rp13,5 triliun atau meningkat 85 persen secara year on year (YoY) dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp7,3 triliun.

PKE merupakan penugasan pemerintah kepada LPEI untuk menyediakan pembiayaan ekspor dalam bentuk pembiayaan, penjaminan, maupun asuransi bagi transaksi atau proyek yang secara komersial sulit dijalankan, tetapi dinilai strategis untuk mendukung kebijakan ekspor nasional.

Kepala Divisi Penugasan Khusus dan Strategi LPEI, Berlianto Wibowo, mengatakan capaian tersebut menunjukkan efektivitas program PKE dalam memperkuat ekosistem ekspor nasional.

Menurutnya, program tersebut juga menegaskan peran Indonesia Eximbank sebagai instrumen strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekspor dan memperkuat ketahanan industri nasional di tengah dinamika ekonomi global.

“Berdasarkan hasil penghitungan Developmental Impact secara agregat, setiap Rp1 pembiayaan yang disalurkan Indonesia Eximbank mampu memberikan kontribusi hingga 2,79 kali terhadap penciptaan atau penghematan devisa,” ujar Berlianto dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Ia menambahkan, pada 2025 fasilitas PKE turut berkontribusi terhadap penciptaan dan penghematan devisa negara sekitar USD 2,182 juta.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 mencapai USD 282,91 miliar atau meningkat 6,15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan penyaluran PKE tersebut didorong oleh dukungan terhadap sejumlah sektor prioritas, di antaranya melalui program PKE Farmasi dan Alat Kesehatan serta PKE Alat Transportasi.

Melalui program PKE Farmasi, Indonesia Eximbank mendukung ekspor produk industri farmasi nasional seperti vaksin, obat-obatan, serta berbagai peralatan medis. Sementara pada sektor transportasi, dukungan diberikan untuk produksi dan ekspor gerbong barang tipe container flat top (CFT) wagon buatan Indonesia yang diekspor ke Selandia Baru.

Selain itu, pelaku usaha juga dapat memanfaatkan sejumlah program PKE lain seperti PKE Trade Finance, PKE Kawasan, PKE Usaha Kecil dan Menengah (UKM), serta PKE Penjaminan dan Asuransi.

Berbagai dukungan tersebut turut membantu produk unggulan Indonesia seperti rempah-rempah, furnitur, dan minyak nabati menembus pasar nontradisional, termasuk kawasan Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Selatan.

“Indonesia Eximbank akan terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan agar produk lokal Indonesia tidak hanya unggul di pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing di pasar internasional,” kata Berlianto.

Sementara itu, dalam upaya memperkuat dukungan terhadap kinerja ekspor nasional, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Republik Indonesia bekerja sama dengan LPEI menyelenggarakan sosialisasi program PKE terkait fasilitas penjaminan dan asuransi pada Februari 2026 di Jakarta.

Ketua Tim Dukungan Program Pemerintah DJPPR, Hilman Qomarsono, mengatakan pemerintah menghadirkan PKE Penjaminan dan Asuransi sebagai mekanisme risk sharing antara pemerintah, Indonesia Eximbank, dan sektor keuangan.

“Risiko perdagangan internasional semakin kompleks, mulai dari risiko negara tujuan hingga potensi gagal bayar pembeli. Melalui PKE Penjaminan dan Asuransi, pemerintah memperkuat ekosistem mitigasi risiko ekspor nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Penjaminan dan Trade Finance LPEI Sylvia Sandyazmara Devi menjelaskan program tersebut difokuskan untuk mendukung industri strategis, hilirisasi, serta berbagai program prioritas pemerintah.

Fasilitas yang disediakan meliputi penjaminan kredit, penjaminan proyek, serta Trade Credit Insurance yang memberikan perlindungan kepada eksportir dari risiko gagal bayar pembeli, baik akibat faktor komersial maupun politik.

Dengan dukungan tersebut, eksportir dan mitra perbankan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pembiayaan, memperkuat keamanan transaksi perdagangan internasional, serta mendorong pertumbuhan ekspor nasional secara berkelanjutan.

 

(*)

Komentar