JURANEWS.ID, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 27 kepala keluarga (KK) terdampak gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Senin (8/6).
Sementara itu, peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan pascagempa telah resmi berakhir.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan berdasarkan informasi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), masyarakat di wilayah pesisir tidak lagi berada dalam kondisi waspada tsunami.
Namun warga tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.
“Berdasarkan informasi resmi BMKG, peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan pascagempa telah dinyatakan berakhir. Dengan berakhirnya status tersebut, masyarakat di wilayah pesisir tidak lagi berada dalam kondisi waspada tsunami, namun tetap diimbau mengikuti informasi resmi dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan tertulis, Senin (8/6).
Menurut Abdul, hingga pukul 12.30 WIB, BPBD di wilayah terdampak mencatat 27 KK terdampak, terdiri atas 20 KK di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan tujuh KK di Kabupaten Kepulauan Talaud.
Selain itu, gempa menyebabkan kerusakan pada 27 unit rumah di dua wilayah tersebut. Kerusakan juga tercatat pada dua unit gereja, satu unit sekolah, satu unit rumah dinas guru, serta satu unit Gedung GMIM 76 di Kabupaten Minahasa Utara.
“Seluruh data tersebut masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui seiring proses asesmen di lapangan,” katanya.
Gempa terjadi pada Senin (8/6) pukul 06.37 WIB dengan pusat gempa berada di laut pada koordinat 5,79 Lintang Utara dan 125,14 Bujur Timur pada kedalaman 47 kilometer.
Guncangan dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Utara. Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, gempa dirasakan di Kecamatan Marore, Tabukan Tengah, Tabukan Selatan, Tabukan Selatan Tengah, Tahuna, dan Tahuna Barat.
Sementara di Kabupaten Kepulauan Talaud, guncangan dirasakan di Kecamatan Rainis, sedangkan di Kabupaten Minahasa Utara dirasakan di Kecamatan Likupang Barat.
Abdul menjelaskan, saat kejadian warga di Kabupaten Kepulauan Sangihe merasakan guncangan cukup kuat selama sekitar tiga hingga empat detik yang sempat memicu kepanikan. Di wilayah lainnya seperti Talaud, Manado, dan Minahasa Utara, guncangan dirasakan dengan intensitas lemah hingga sedang selama dua hingga empat detik.
BNPB bersama BPBD provinsi dan kabupaten/kota terdampak saat ini terus melakukan koordinasi penanganan darurat, termasuk pendataan korban dan kerusakan, pemantauan aktivitas kegempaan melalui informasi resmi BMKG, serta penguatan sosialisasi kesiapsiagaan masyarakat.
Abdul mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Masyarakat diminta selalu merujuk pada informasi resmi dari BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah. Warga yang rumahnya mengalami kerusakan juga diharapkan berhati-hati serta melaporkan kondisi bangunan yang berpotensi membahayakan kepada aparat setempat,” pungkasnya.
(*)











Komentar