PEMALANG, JURANEWS.ID – Kasus meninggalnya seorang anak berinisial MH (Mhaq) yang diduga menjadi korban perundungan atau bullying di Kelurahan Kebondalem, Kabupaten Pemalang, mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Pemalang.
Plt Bupati Pemalang Nurkholes mendatangi rumah duka pada Kamis (1/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, Nurkholes didampingi Plt Kepala Dindikpora Ismun Hadiyo, Kepala Dinsos KBPP Mu’minun, serta jajaran Forkopimca.
Nurkholes menyampaikan duka cita kepada keluarga korban sekaligus menegaskan bahwa Pemkab Pemalang tidak mentoleransi tindakan perundungan terhadap anak.
Ia berharap kejadian tersebut menjadi kasus terakhir dan tidak kembali terjadi pada anak-anak di Kabupaten Pemalang.
“Tadi ke sekolahan dan mendapat laporan kronologi kejadian, memang ada perselisihan antara korban dan pelaku, kemudian terjadilah pemukulan,” ujar Nurkholes.
Saat ini, jenazah korban tengah menjalani proses autopsi oleh pihak berwenang. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban.
Nurkholes mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan serta keterangan resmi dari kepolisian.
Pemkab Pemalang, lanjutnya, menyerahkan proses penanganan kasus kepada aparat penegak hukum agar fakta mengenai kejadian tersebut dapat terungkap secara jelas.
Sementara itu, ibu korban, Diah Indriyanti (36), mengungkapkan kondisi anaknya sebelum meninggal dunia.
Menurut Diah, korban sempat mengeluhkan rasa sakit hebat pada bagian perut setelah mengalami dugaan kekerasan. Korban kemudian mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.
“Dia menjawab itu setelah diperiksa sama dokter, katanya dipukul di perut, ada yang nendang pakai sepatu,” ungkap Diah.
Diah mengatakan anaknya menjalani perawatan selama sekitar sembilan hari. Selama menjalani perawatan, kondisi fisik korban disebut terus menurun.
Keluhan yang dialami antara lain sakit pada bagian perut dan seluruh tubuh. Diah juga menyebut korban sempat mengalami muntah-muntah, buang air besar berdarah, kehilangan nafsu makan, serta kesulitan buang air besar.
“Selama sembilan hari yang sering dikeluhkan itu perut, sama seluruh badan kalau diangkat itu nangis. Korban juga sempat muntah-muntah, BAB berdarah, tak nafsu makan, serta kesulitan buang air besar,” tutur Diah.
Kasus meninggalnya MH kini dalam penanganan pihak kepolisian. Sejumlah informasi terkait dugaan perundungan dan kekerasan masih membutuhkan pendalaman untuk memastikan rangkaian kejadian serta pihak-pihak yang terlibat.
Hasil autopsi nantinya diharapkan dapat memberikan informasi medis mengenai penyebab kematian korban.
Sementara itu, keluarga korban masih menunggu proses hukum dan keterangan resmi dari pihak berwenang terkait kasus tersebut.
(*)














Komentar