KEEROM, JURANEWS.ID – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) memperkuat kapasitas kader kesehatan di Distrik Yaffi, Kabupaten Keerom, Papua, melalui pelatihan komunikasi dan edukasi kesehatan berbasis masyarakat.
Kegiatan yang melibatkan 30 peserta tersebut diarahkan untuk memperluas penyampaian informasi kesehatan di wilayah dengan akses pelayanan terbatas.
Pelatihan yang dilaksanakan Tim 6 Edu-Health Yaffi di SMP Negeri 2 Web itu melibatkan kepala kampung, kepala Puskesmas, kader malaria, dan kader posyandu. Nella Tri, praktisi bidang administrasi kesehatan, hadir sebagai pemateri dengan fokus pada kesehatan ibu dan anak (KIA), pelaksanaan posyandu, serta pencegahan malaria.
Kegiatan ini dilatarbelakangi tantangan geografis yang dihadapi masyarakat Yaffi. Jarak antarkampung, kondisi jalan, cuaca, dan keterbatasan komunikasi membuat pelayanan kesehatan tidak selalu dapat menjangkau warga dengan cepat.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan penguatan mengenai peran kader sebagai penghubung antara masyarakat dan tenaga kesehatan profesional.
Kader diharapkan mampu menyampaikan informasi kesehatan secara tepat, membantu masyarakat mengenali kondisi yang perlu mendapat perhatian, serta mendorong warga mengakses pemeriksaan dan penanganan oleh tenaga kesehatan.
Namun, kader bukan pengganti tenaga medis. Peran mereka lebih diarahkan pada edukasi, pencegahan, dan membantu masyarakat memperoleh pelayanan yang sesuai.
Jakson, perwakilan kader malaria dari Kampung Jifanggri, mengatakan keterbatasan akses dan komunikasi menjadi tantangan dalam menjalankan tugas di lapangan.
“Kader malaria mengalami kesulitan dalam menjangkau masyarakat karena kondisi akses yang sulit serta kendala komunikasi. Hal tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan tugas kader,” ujar Jakson.
Ia berharap pelatihan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan sekaligus kepercayaan diri kader dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
Menurutnya, pemahaman yang lebih baik mengenai malaria akan membantu kader menyampaikan informasi secara lebih efektif kepada warga.
Pelatihan tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada keterampilan menyampaikan informasi dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami.
Peserta diperkenalkan dengan berbagai media edukasi, seperti modul, poster, flip card, dan flash card. Perangkat tersebut dapat digunakan kembali dalam penyuluhan, diskusi masyarakat, maupun pendampingan di tingkat kampung.
Pada materi pencegahan malaria, peserta memperkuat pemahaman tentang kewaspadaan terhadap gejala, pencegahan gigitan nyamuk, pemeliharaan lingkungan, serta pentingnya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Kader juga diingatkan agar tidak mendorong pengobatan mandiri hanya berdasarkan gejala. Dengan demikian, edukasi yang diberikan diharapkan membantu masyarakat mengenali risiko dan memperoleh penanganan yang tepat.
Kepala Puskesmas Yaffi, Betty, turut menyoroti tantangan pelayanan kesehatan akibat jarak dan kondisi cuaca.
“Kampung yang berada jauh dari puskesmas mengalami kendala dalam mengakses pelayanan kesehatan. Pihak Puskesmas juga mengalami kesulitan menjangkau kampung-kampung tersebut, terutama ketika terjadi hujan atau kondisi cuaca buruk,” katanya.
Sesi diskusi memberikan ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman, mulai dari persoalan akses pelayanan hingga kebutuhan memperkuat komunikasi antara kader, masyarakat, Puskesmas, pemerintah setempat, dan pemangku kepentingan lainnya.
Melalui kegiatan tersebut, Tim 6 Edu-Health Yaffi mendorong kader menjadi local champion atau penggerak lokal dalam upaya promotif dan preventif di masyarakat.
Penguatan kapasitas kader diharapkan dapat membantu menjembatani keterbatasan geografis sehingga informasi kesehatan tetap menjangkau warga di pelosok Distrik Yaffi.
Ketua LPPM UNDIP, Prof. Dr.-Ing. Suherman, S.T., M.T., menegaskan bahwa Ekspedisi Patriot merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk hadir menjawab kebutuhan masyarakat melalui pengetahuan, inovasi, dan riset.
“Ekspedisi Patriot UNDIP merupakan wujud nyata pengabdian perguruan tinggi yang hadir langsung menjawab kebutuhan masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa hasil pengetahuan, inovasi, dan riset UNDIP dapat memberikan manfaat nyata, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan gizi, dan membuka peluang ekonomi berbasis potensi lokal,” kata Prof. Suherman.
Program penguatan kader kesehatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui peningkatan kapasitas kader dan kolaborasi lintas pihak, TEP UNDIP berharap edukasi kesehatan berbasis masyarakat dapat semakin kuat dan membantu warga di wilayah terpencil memperoleh informasi kesehatan yang dibutuhkan.
(*)








Komentar