UNDIP Dorong Mahasiswa Perkuat Peran dalam Mewujudkan Kesetaraan Gender di Kampus

Seminar LKDPDEM UNDIP Soroti Peran Mahasiswa dalam Menciptakan Kampus Inklusif dan Aman

JURANEWS.ID, SEMARANG – Universitas Diponegoro (UNDIP) terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan setara melalui seminar bertema “Suara yang Setara: Menguatkan Peran Mahasiswa dalam Kesetaraan Gender di Dunia Pendidikan” yang digelar Rabu (6/5/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh UPT Layanan Konsultasi, Disabilitas, Penegakan Disiplin, dan Etika Mahasiswa (LKDPDEM) itu berlangsung di Aula Prof. Darmanto Jatman, Fakultas Psikologi UNDIP, Kampus Tembalang, Semarang.

Seminar menghadirkan tiga narasumber, yakni Ketua Program Studi Doktor Ilmu Sosial UNDIP Dr. Laila Kholid Alfirdaus, S.IP., M.P.P., mahasiswa Fakultas Psikologi Andrea Neysa Ardelia, serta mahasiswa Fakultas Teknik Felicia Hestiawan.

Kepala UPT LKDPDEM UNDIP, Annastasia Ediati, S.Psi., M.Sc., Ph.D., Psikolog, menegaskan bahwa kesetaraan gender tidak hanya berkaitan dengan perempuan, melainkan menyangkut hak seluruh individu untuk memperoleh kesempatan dan perlakuan yang setara.

“Kesetaraan gender bukan hanya soal perempuan, tetapi juga laki-laki. Semua pihak berhak mendapatkan akses pendidikan dan kesempatan yang sama,” ujarnya dalam sambutan.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang yang setara bagi mahasiswa untuk terlibat aktif, termasuk sebagai pembicara dalam forum akademik.

“Dalam seminar ini, tidak selalu dosen yang menjadi pembicara. Mahasiswa juga memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara dan menyampaikan pandangannya,” katanya.

Pada sesi materi, Dr. Laila menyoroti pentingnya kampus sebagai ruang aman dan laboratorium kehidupan untuk membangun kesadaran tentang kesetaraan gender. Menurutnya, isu diskriminasi dan pelecehan seksual di lingkungan pendidikan masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.

“Kampus seharusnya menjadi ruang aman bagi seluruh sivitas akademika. Karena itu, mahasiswa perlu memperkuat peran dalam menyuarakan kesetaraan gender,” ujarnya.

Sementara itu, Andrea Neysa Ardelia membahas dampak diskriminasi gender terhadap kesehatan mental korban. Ia menilai dukungan sosial dari lingkungan kampus sangat penting bagi korban diskriminasi maupun kekerasan berbasis gender.

“Korban diskriminasi bisa mengalami dampak psikologis jangka panjang. Mahasiswa perlu hadir untuk mendengarkan dan memberikan dukungan,” katanya.

Adapun Felicia Hestiawan menyoroti tantangan kesetaraan gender di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), khususnya bagi perempuan. Menurutnya, perempuan di bidang teknik masih menghadapi berbagai hambatan sehingga dibutuhkan dukungan lingkungan dan sistem yang lebih inklusif.

“Perempuan di bidang teknik masih menghadapi tantangan besar. Karena itu diperlukan keberanian, dukungan lingkungan, dan sistem yang lebih setara agar semua bisa berkembang,” ujarnya.

Melalui seminar ini, UNDIP berharap mahasiswa semakin aktif membangun budaya kampus yang inklusif, aman, dan menghargai kesetaraan bagi seluruh kalangan.

 

(*)

Komentar