SEMARANG, JURANEWS.ID – Universitas Diponegoro (UNDIP) memperkuat langkah menuju jajaran universitas berkelas dunia melalui penjajakan kemitraan strategis dengan Université Paris-Saclay, Prancis.
Kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan delegasi UNDIP yang dipimpin Wakil Rektor Riset, Inovasi, Kerja Sama dan Komunikasi Publik, Wijayanto, Ph.D., dengan Wakil Rektor Riset Université Paris-Saclay, Prof. Rachid Bennacer, pada 7 September 2026.
Pertemuan itu membahas sejumlah program konkret, mulai dari pendidikan doktoral bagi dosen, double degree, co-supervision, mobilitas mahasiswa dan dosen, hingga riset serta publikasi bersama.
Université Paris-Saclay merupakan salah satu perguruan tinggi terkemuka di Prancis dengan kekuatan utama pada pendidikan pascasarjana dan ekosistem penelitian.
Dalam QS World University Rankings 2027, Université Paris-Saclay tercatat berada di peringkat 76 dunia.
Kemitraan dengan universitas tersebut dinilai relevan dengan agenda UNDIP dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, kualitas riset serta jejaring akademik internasional.
Komunikasi antara kedua institusi sebenarnya telah dimulai sejak pertemuan di Angers, Prancis, pada 1 Juli 2026 dan kemudian dilanjutkan melalui sejumlah pertemuan daring.
Kedua universitas menargetkan penyusunan dan finalisasi Memorandum of Understanding (MoU) pada 2026.
UNDIP Target Kirim 4–8 Dosen Tiap Tahun
Salah satu agenda strategis yang dibahas adalah membuka jalur pendidikan doktoral bagi dosen UNDIP di Université Paris-Saclay.
Dalam lima tahun mendatang, UNDIP menargetkan dapat mengirim sekitar 4–8 dosen setiap tahun melalui dukungan beasiswa, termasuk LPDP.
Program tersebut terbuka untuk bidang STEM maupun non-STEM.
Selain studi doktoral, kedua universitas juga membahas skema co-supervision. Melalui skema tersebut, mahasiswa doktoral dapat memperoleh pembimbing dari Université Paris-Saclay dan UNDIP.
Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan doktoral, tetapi juga memperkuat jejaring penelitian jangka panjang antara profesor dan kelompok riset kedua universitas.
Wakil Rektor IV UNDIP menegaskan, internasionalisasi perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada penandatanganan kerja sama kelembagaan.
Menurutnya, kemitraan dengan universitas bereputasi dunia harus menghasilkan program yang konkret dan dapat diukur.
“Target kita bukan berhenti pada MoU, tetapi bagaimana kerja sama ini membuka kesempatan studi doktoral bagi dosen, menghasilkan riset dan publikasi bersama, memperkuat mobilitas mahasiswa dan dosen, serta membangun jejaring akademik yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menyebut internasionalisasi menjadi salah satu instrumen penting untuk mempercepat peningkatan kualitas akademik sekaligus memperkuat posisi UNDIP dalam persaingan pendidikan tinggi global.
“Untuk bergerak menuju 500 besar dunia, UNDIP perlu membangun sustained partnerships dengan universitas bereputasi internasional,” tambahnya.
Menurutnya, ekosistem kolaborasi yang dibangun harus mempertemukan profesor, peneliti dan mahasiswa dalam berbagai aktivitas akademik internasional.
Ada Joint Research hingga Double Degree
Selain pendidikan doktoral, UNDIP dan Université Paris-Saclay membahas sejumlah program lain.
Di antaranya staff exchange, visiting lecturer, visiting researcher, joint research, joint publication serta kemungkinan program double degree.
UNDIP juga merencanakan mobilitas mahasiswa, khususnya mahasiswa International Undergraduate Program (IUP), untuk mengikuti pertukaran akademik di Université Paris-Saclay dan sebaliknya.
Delegasi UNDIP turut mengunjungi sejumlah fasilitas riset dan laboratorium di Université Paris-Saclay.
Kunjungan tersebut memberikan gambaran mengenai pengembangan ekosistem riset yang mengintegrasikan universitas, laboratorium, pusat penelitian, inovasi dan jejaring industri.
Kemitraan UNDIP dengan Université Paris-Saclay menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat sejumlah aspek yang berkaitan dengan reputasi perguruan tinggi secara global.
Di antaranya Academic Reputation, Citations, dan International Research Network (IRN) melalui kolaborasi internasional yang produktif dan berkelanjutan.
Dengan target finalisasi MoU pada 2026 dan implementasi program-program konkret setelahnya, kerja sama tersebut diharapkan menjadi salah satu pengungkit transformasi UNDIP menuju universitas berkelas dunia.
Tantangannya kini bukan sekadar membangun hubungan dengan universitas top dunia, tetapi memastikan kerja sama tersebut menghasilkan publikasi, riset, mobilitas akademik dan peningkatan kualitas SDM yang benar-benar terukur.
(*)














Komentar