JURANEWS.ID, SEMARANG – Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan ilmu kesehatan melalui penyelenggaraan Seminar Internasional Pharma-Speak ke-5 yang digelar pada Sabtu (11/7/2026).
Mengusung tema “Advancing Infectious Disease Prevention and Treatment: From Evidence to Innovation”, seminar ini menjadi forum ilmiah yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi industri farmasi, hingga mahasiswa untuk membahas perkembangan terbaru dalam pencegahan dan penanganan penyakit infeksi.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Rektor UNWAHAS Prof. Dr. Ir. H. Helmy Purwanto, S.T., M.T., IPM., didampingi Dekan Fakultas Farmasi Dr. apt. Yance Anas, M.Sc.
Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa penyelenggaraan Pharma-Speak merupakan wujud komitmen UNWAHAS dalam meningkatkan kualitas pendidikan, riset, serta kontribusi nyata terhadap pembangunan sektor kesehatan yang sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).
“Forum ilmiah seperti ini menjadi bagian dari upaya UNWAHAS membangun kolaborasi internasional sekaligus memperkuat kualitas pendidikan dan penelitian di bidang farmasi,” ujarnya.
Hadirkan Pakar Kroasia hingga Praktisi Industri Farmasi
Seminar internasional tersebut menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang akademik dan industri yang saling melengkapi.
Pembicara internasional Assoc. Prof. Zrinka Puharic, Ph.D. dari University of Applied Sciences Bjelovar, Kroasia, membawakan materi “Borders, Quarantine, and Disease: Historical Lessons for Modern Epidemic Control.”
Dalam paparannya, ia mengulas sejarah penerapan karantina dan pengendalian perbatasan sebagai strategi menghadapi wabah penyakit serta relevansinya dalam menghadapi pandemi modern seperti COVID-19.
Sementara itu, apt. Dzuwfadzli Ahmad Rofi’i, S.Farm., yang menjabat sebagai Plant Manager PT Sanbe Farma, membahas perkembangan teknologi industri farmasi melalui materi “Innovation and Future Trends in Infectious Disease Treatment.”
Ia menjelaskan transformasi dunia farmasi menuju pengobatan presisi berbasis teknologi, digitalisasi proses produksi, hingga tantangan global berupa resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR).
Adapun pembicara dari internal UNWAHAS, apt. Risha Fillah Fithria, M.Sc., Ph.D.(Cand.), mengangkat tema “Acne Vulgaris and the Skin Microbiome: Is Infection the Whole Story?”
Melalui paparannya, ia menjelaskan bahwa jerawat tidak hanya dipicu infeksi bakteri semata, tetapi juga dipengaruhi ketidakseimbangan mikrobioma kulit, sistem imun, serta faktor lingkungan. Pendekatan terapi berbasis probiotik dan bakteriofag disebut menjadi salah satu inovasi masa depan untuk mengatasi resistensi antibiotik.
Diikuti Lebih dari 300 Peserta
Seminar berlangsung interaktif dengan diikuti lebih dari 300 peserta yang terdiri atas mahasiswa Program Studi Sarjana Farmasi, Profesi Apoteker, dosen, hingga tenaga kependidikan UNWAHAS.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi yang berlangsung aktif, menandakan tingginya minat terhadap perkembangan ilmu farmasi dan kesehatan global.
Ketua panitia berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana berbagi ilmu, tetapi juga membuka peluang kolaborasi penelitian, pertukaran akademik internasional, serta kerja sama dengan industri farmasi nasional.
Melalui penyelenggaraan Pharma-Speak ke-5, Fakultas Farmasi UNWAHAS kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan forum ilmiah bertaraf internasional yang mampu memperkuat inovasi, kolaborasi riset, serta meningkatkan daya saing lulusan di bidang farmasi.
Seminar ini menjadi bagian dari langkah strategis UNWAHAS dalam menjawab tantangan kesehatan global melalui pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan kemitraan internasional.
(*)










Komentar