KLIK LINK UNTUK MELIHAT VIDEO : https://vt.tiktok.com/ZSyaJbUbW/
JURANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Ketahanan Pangan terus mendorong inklusi sosial dan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat, termasuk bagi mantan narapidana terorisme (napiter).
Salah satu langkah nyata dilakukan melalui kegiatan pelatihan pemanfaatan pangan lokal dan pengolahan limbah pangan yang digelar di Kota Semarang, Kamis (6/11).
Kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk mantan napiter yang kini tengah berupaya beradaptasi dan berkontribusi positif di lingkungan sekitar.
Program ini diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru serta membantu peserta mengembangkan keterampilan di bidang pengolahan bahan pangan.
Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Semarang, Listyati Purnama Rusdiana menjelaskan kegiatan ini menjadi wujud nyata dukungan pemerintah dalam memfasilitasi masyarakat agar mampu mengolah bahan pangan pokok menjadi produk yang bernilai guna dan ekonomis.
“Semoga bisa dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat, sehingga hasil olahan pangan lokal ini benar-benar memberi manfaat luas,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan mantan napiter dalam kegiatan ini merupakan langkah positif untuk mendorong proses reintegrasi sosial.
Mereka tidak hanya diberi pelatihan teknis, tetapi juga wawasan kewirausahaan agar dapat mengembangkan usaha mandiri di masa depan.
“Harapannya, setelah mereka memiliki keterampilan, bisa kembali eksis di masyarakat. Melalui kelompok RT, RW, atau kelurahan, mereka bisa membuat produk dan menghasilkan pendapatan sendiri,” tambahnya.
Selain pelatihan, pemerintah juga berupaya memberikan pendampingan lanjutan. Dinas Ketahanan Pangan akan berkoordinasi dengan dinas lain untuk membantu para peserta mendapatkan akses modal dan sarana produksi.
“Kalau bisa dikawal lintas dinas, tentu akan menjadi sinergi yang baik agar mereka benar-benar bisa mandiri,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu mantan napiter peserta kegiatan, Marifah Hasanah mengaku bersyukur dan terharu dengan kesempatan yang diberikan.
Ia bercerita bahwa sebelumnya pernah terlibat dalam kasus terorisme yang berkaitan dengan penusukan terhadap Wiranto dan harus menjalani hukuman lebih dari tiga tahun.
“Setelah bebas, saya sempat pesimis. Takut tidak diterima di masyarakat, bahkan di keluarga pun masih ada rasa canggung. Tapi alhamdulillah, lewat dukungan teman-teman yayasan Persadani dan pemerintah, saya kembali punya semangat untuk berbuat baik,” tuturnya.
Ia mengaku kini aktif mengikuti kegiatan sosial dan pelatihan kewirausahaan.
Melalui kegiatan semacam ini, ia merasa kembali dirangkul oleh masyarakat.
“Kita merasa diterima, diberi kesempatan untuk berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan Kota Semarang,” katanya.
Unit Bhabinkamtibnas Satbinmas Polrestabes Semarang, Bripka Purnomo Budi Setiyawan menambahkan, stigma terhadap mantan napiter memang sulit dihilangkan. Namun, keterlibatan mereka dalam kegiatan pembauran seperti ini menjadi bukti bahwa masyarakat mulai membuka diri.
“Mereka ikut dalam kegiatan PKK di tingkat kecamatan dan kelurahan, artinya sudah ada penerimaan sosial yang baik,” ungkapnya.
Menurutnya, terdapat 17 orang mantan napiter dan istri mereka yang kini aktif di Yayasan Putra Persaudaraan Anak Negeri (Persadani). Mereka tersebar di berbagai kecamatan di Kota Semarang dan rutin berpartisipasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
“Beberapa di antaranya adalah Puji, Siswanto, Mahmudi Haryono, dan Marifah. Kami berharap pemerintah Kota Semarang terus memberi ruang dan dukungan agar mereka dapat berdaya dan tidak kembali pada masa lalu,” tandasnya.
(*)













Komentar