Viral Dugaan Tusuk Sate Dicuci dan Dipakai Ulang, PKL Sate Padang di Semarang Bantah Tuduhan

PKL Sate Padang Ajo Manih di Semarang membantah tudingan penggunaan ulang tusuk sate bekas pelanggan setelah video viral di media sosial memicu penurunan penjualan hingga 40 persen.

JURANEWS.ID, SEMARANG — Pedagang kaki lima (PKL) Sate Padang Ajo Manih di Jalan Gajahmada, Kelurahan Kembangsari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, membantah tudingan penggunaan ulang tusuk sate bekas pelanggan yang viral di media sosial.

Video yang ramai beredar di Threads dan Instagram itu menarasikan dugaan tusuk sate dicuci lalu dipakai kembali untuk pembeli lain. Unggahan tersebut memicu perbincangan warganet hingga berdampak pada penurunan penjualan lapak sate padang tersebut.

Karyawan lapak sate, Afta (25), menegaskan bahwa seluruh lidi sate yang digunakan merupakan lidi baru dan bukan hasil daur ulang.

“Untuk kejadian yang kemarin saya tidak membenarkan kejadian tersebut. Untuk lidi yang kita pakai selalu baru. Kita pakai lidi dari orderan tersebut juga,” ujar Afta saat ditemui di lapak Sate Padang Ajo Manih kawasan Blok GM Semarang, Senin (25/5/2026) malam.

Video viral itu pertama kali ramai dibahas melalui akun Threads @wowartisnih. Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan keluhan usai membeli sate padang di Semarang dan menduga tusuk sate dicuci untuk dipakai ulang.

“First time makan sate padang di Semarang dan nggak pernah semuak ini, tusuk sate dicuci dan dipakai lagi,” tulis akun tersebut.

Unggahan itu kemudian menuai berbagai komentar warganet. Salah satu akun bahkan menduga lokasi warung yang dimaksud berada di kawasan Gajahmada atau Blok GM Semarang.

Menanggapi tudingan tersebut, pihak lapak menegaskan lidi yang terlihat berada di wadah berisi air bukan untuk digunakan kembali, melainkan sudah menjadi sampah sebelum dimusnahkan.

Afta menjelaskan, tetesan busa sabun yang terlihat di dalam wadah berasal dari proses mencuci piring di area belakang lapak.

“Itu di video seperti dicuci pakai sabun, padahal itu di tempat sampah. Jadi bapak yang cuci piring tangannya kena busa, lalu busa netes ke tempat lidi. Itu tidak digunakan lagi, langsung dibuang,” katanya.

Menurutnya, air di wadah tersebut digunakan agar lidi bekas lebih mudah disusun sebelum dibakar atau dimusnahkan.

“Kalau kering susah disusun. Jadi diberi air supaya mudah ditata,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan lidi sate berasal dari sisa janur ketupat yang setiap hari mereka pesan dari pemasok bersamaan dengan pembelian ketupat.

“Lidi dari janur ketupat. Kita tiap hari beli ketupat dan sekalian pesan lidi juga,” katanya.

Afta menduga kesalahpahaman bermula saat pelanggan melihat langsung area belakang tempat pencucian piring dan wadah lidi bekas.

Menurutnya, pelanggan yang merekam video saat itu baru pertama kali datang ke lapak tersebut.

“Itu customer baru. Setelah makan, mereka taruh piring sendiri ke belakang. Kemungkinan melihat tempat lidi yang ada air bilasan itu,” jelasnya.

Akibat video viral tersebut, pihak lapak mengaku mengalami penurunan jumlah pembeli cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.

“Dengan adanya video viral tersebut memang berpengaruh ke usaha kita. Padahal itu tidak sesuai kenyataan,” ujar Afta.

Ia menyebut, biasanya lapak sate padang tersebut mampu menghabiskan sekitar 40 kilogram daging sapi per hari pada hari biasa dan meningkat hingga 50 kilogram saat akhir pekan.

Selain itu, mereka juga menyiapkan sekitar 450 hingga 500 ketupat setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Namun setelah video viral beredar, penjualan disebut turun hingga sekitar 40 persen.

“Ini masih tiga hari sejak viral, penurunannya sekitar 40 persen,” imbuhnya.

Pihak lapak berharap masyarakat tidak langsung mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.

(*)

Komentar