JURANEWS.ID, JAKARTA — Pemerintah mendorong Indonesia untuk bertransformasi dari pengguna menjadi produsen teknologi kebencanaan global. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, dalam seminar nasional Road to ADEXCO 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (29/4).
Menurut Febrian, posisi Indonesia yang berada di kawasan rawan bencana justru menjadi kekuatan strategis yang harus dimanfaatkan untuk mengembangkan inovasi dan industrialisasi teknologi kebencanaan.
“Kita hidup di atas cincin api, berada di jalur gempa, serta menghadapi banjir, longsor, hingga dampak perubahan iklim secara simultan. Ini harus menjadi kekuatan, bukan kelemahan,” ujarnya.
Ia menilai selama ini Indonesia masih terjebak dalam siklus ketergantungan, yakni baru mengadopsi teknologi setelah bencana terjadi. Pola tersebut dinilai tidak efektif karena membuat negara tetap rentan dan bergantung pada pihak luar.
“Jika terus seperti ini, kita akan tetap berada dalam posisi yang sama: rentan, mahal, dan bergantung,” tegasnya.
Febrian menekankan pentingnya perubahan paradigma, dari sekadar konsumen teknologi menjadi pencipta dan penyedia teknologi kebencanaan. Dengan kompleksitas risiko yang dimiliki, Indonesia dinilai memiliki “laboratorium alam” terbesar untuk melahirkan inovasi.
Ia optimistis, jika dikelola dengan baik, Indonesia tidak hanya akan tangguh menghadapi bencana, tetapi juga mampu menjadi pusat produksi dan ekspor teknologi kebencanaan dunia.
Selain itu, ia menegaskan bahwa pengembangan sektor kebencanaan harus menjadi bagian integral dari perencanaan pembangunan nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, menyatakan bahwa industrialisasi dan hilirisasi kebencanaan merupakan bagian dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, kemandirian inovasi teknologi kebencanaan akan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.
“Kita harus mampu memiliki kemandirian inovasi teknologi kebencanaan agar kesiapsiagaan masyarakat semakin kuat,” ujarnya.
Direktur Operasional ADEXCO, Andrian Cader, menambahkan bahwa pengembangan inovasi membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, industri, dan inovator.
Ia menekankan bahwa riset harus selaras dengan kebutuhan industri, serta inovasi tidak berhenti pada tahap prototipe, melainkan harus diproduksi massal dan dimanfaatkan secara luas.
Sebagai informasi, ADEXCO 2026 merupakan platform internasional yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam bidang penanggulangan bencana. Puncak kegiatan akan digelar pada 9–12 September 2026 melalui pameran dan konferensi berskala global.
Melalui forum ini, pemerintah berharap Indonesia tidak lagi hanya menjadi wilayah berisiko bencana, tetapi bertransformasi menjadi pusat inovasi dan industrialisasi kebencanaan dunia.
(*)














Komentar