SEMARANG, JURANEWS.ID – Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU) Republik Indonesia, Ir. Diana Kusumastuti, M.T., menantang mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) untuk tidak ragu menciptakan solusi konkret bagi persoalan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Diana saat memberikan kuliah tamu bertajuk “Membangun Generasi Berintegritas melalui Nilai-Nilai Pancasila dan Budaya Antikorupsi” di Gedung Serbaguna Muladi Dome, Kampus UNDIP Tembalang, Semarang, Jumat (7/8/2026).
Kuliah tamu tersebut menjadi bagian dari Sidang Terbuka Senat Akademik dalam rangka Penerimaan Mahasiswa Baru UNDIP Tahun Akademik 2026/2027 Tahap III. Kegiatan diikuti sekitar 4.950 Dipo Muda, sebutan bagi mahasiswa baru UNDIP.
Dalam kesempatan itu, Diana mengingatkan mahasiswa bahwa memasuki perguruan tinggi bukan sekadar memulai perjalanan akademik, tetapi juga menjadi momentum membangun karakter, kepemimpinan, dan integritas.
Menurutnya, kecerdasan akademik tidak akan memiliki makna apabila tidak disertai kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian mempertahankan prinsip.
“Integritas dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil. Datang tepat waktu, tidak menyontek, bertanggung jawab, menghargai perbedaan, berani berkata benar, dan menolak sesuatu yang tidak semestinya, sekecil apa pun itu,” kata Diana.
Wamen PU: Korupsi Bisa Berawal dari Pelanggaran Kecil
Diana menjelaskan, budaya antikorupsi perlu dimulai dari lingkungan dan kebiasaan sehari-hari. Menurutnya, praktik korupsi tidak selalu diawali perkara besar.
Sikap permisif terhadap pelanggaran kecil, mendahulukan kedekatan daripada aturan, menyontek, hingga memilih diam ketika mengetahui adanya kesalahan dapat menjadi awal lunturnya integritas.
Ia menilai transparansi dan akuntabilitas harus berjalan bersama inovasi. Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki posisi strategis karena dekat dengan perkembangan teknologi dan memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi.
“Teknologi perlu digunakan untuk memperbaiki sistem dan memberi manfaat, bukan justru membuka ruang penyalahgunaan,” tegasnya.
Mahasiswa UNDIP Didorong Ciptakan Solusi Nyata
Diana juga menekankan bahwa pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya infrastruktur yang berhasil dibangun.
Jalan, gedung, sistem penyediaan air, maupun fasilitas publik harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, meningkatkan kualitas hidup, serta memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Prinsip tersebut, kata dia, juga berlaku dalam dunia pendidikan. Ilmu pengetahuan akan semakin bernilai ketika digunakan untuk menjawab persoalan nyata.
Karena itu, Diana menantang mahasiswa UNDIP untuk mengembangkan riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat yang memiliki dampak langsung.
Ia menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah menjadi salah satu kunci untuk menghasilkan sumber daya manusia yang mampu menghadirkan gagasan relevan bagi pembangunan.
“Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Indonesia membutuhkan lebih banyak generasi muda yang dapat dipercaya,” ujarnya.
Kembali ke Almamater
Kehadiran Diana di UNDIP juga memiliki makna khusus. Ia merupakan alumnus Departemen Arsitektur Fakultas Teknik UNDIP dan kini tengah menempuh pendidikan doktoral di almamaternya tersebut.
Pengalaman lebih dari tiga dekade berkarier di Kementerian Pekerjaan Umum membuat Diana melihat pendidikan tidak hanya sebagai proses memperoleh pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir dan kepekaan terhadap persoalan bangsa.
Menjelang Indonesia Emas 2045, ia mengingatkan bahwa kemajuan Indonesia tidak semata-mata ditentukan oleh pembangunan gedung, transportasi, maupun kecanggihan teknologi.
Menurutnya, kualitas manusia yang mengelola dan memimpin justru menjadi faktor yang lebih menentukan.
“Pribadi yang pintar tanpa integritas akan menjadi ancaman. Sebaliknya, integritas yang kuat membuat ilmu pengetahuan memberi manfaat sebesar-besarnya,” katanya.
Rektor UNDIP: Jangan Hanya Berpikir untuk Lulus
Rektor UNDIP Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., dalam kesempatan yang sama mengingatkan mahasiswa baru agar memanfaatkan kesempatan menjadi bagian dari UNDIP sebaik mungkin.
Ia menyebut jumlah mahasiswa yang diterima UNDIP mencapai sekitar 16.267 orang, atau kurang lebih empat persen dari keseluruhan pendaftar.
Rektor mendorong mahasiswa tidak hanya mengejar kelulusan dan gelar akademik. Kampus, menurutnya, harus menjadi ruang untuk mencoba berbagai hal, memperluas pergaulan, aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, serta mengembangkan kemampuan di luar bidang akademik.
“Berpikir kecil capek, berpikir besar juga capek. Pilih yang besar, pilih yang berdampak besar untuk diri sendiri dan masyarakat,” ujar Suharnomo.
Ia berharap mahasiswa UNDIP kelak memilih profesi yang tetap berorientasi pada kebermanfaatan bagi bangsa.
Semangat tersebut, lanjutnya, telah diwujudkan melalui berbagai inovasi civitas academica UNDIP, termasuk pengembangan teknologi pengolahan air atau water treatment yang telah dimanfaatkan di sejumlah wilayah.
UNDIP juga terus mendorong pengembangan kampus hijau dan konsep zero waste sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap lingkungan.
“Sebaik-baik kampus adalah yang paling banyak manfaatnya bagi masyarakat,” pungkas Suharnomo.
(*)















Komentar