Limbah Batu Bara PLTU Batang Jadi Habitat Buatan Laut, UNDIP Temukan 19 Spesies Ikan

Kolaborasi BPI, UNDIP, dan Pemkab Batang memanfaatkan FABA dari PLTU Batang untuk membangun habitat buatan di laut. Pemantauan 2025 menemukan 19 spesies ikan karang dengan total 208 individu pada salah satu unit APR di Karang Sebapang.

BATANG, JURANEWS.ID — Material sisa pembakaran batu bara dari PLTU Batang dikembangkan menjadi habitat buatan untuk mendukung pemulihan ekosistem laut.

Melalui kolaborasi PT Bhimasena Power Indonesia (BPI), Universitas Diponegoro (UNDIP), dan Pemerintah Kabupaten Batang, material Fly Ash and Bottom Ash (FABA) dimanfaatkan untuk membuat rumah ikan buatan dan struktur terumbu karang buatan.

Program yang dikembangkan melalui Artificial Fish Apartment (AFA) dan Artificial Patch Reef (APR) tersebut mulai menunjukkan indikasi awal keberadaan biota laut di sekitar habitat buatan.

Hasil pemantauan UNDIP pada 2025 di salah satu unit APR di perairan Karang Sebapang, Kabupaten Batang, menemukan 19 spesies ikan karang dengan total 208 individu. Temuan tersebut menjadi indikasi awal bahwa struktur habitat buatan berpotensi menyediakan ruang hidup bagi biota laut.

Meski demikian, pemantauan lanjutan tetap diperlukan untuk mengetahui perkembangan ekosistem sekaligus mengukur dampak ekologis program dalam jangka panjang.

Kolaborasi BPI, UNDIP, dan Pemkab Batang ini menjadi bagian dari upaya hilirisasi riset perguruan tinggi agar hasil penelitian dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab persoalan lingkungan di wilayah pesisir.

Pengembangan AFA dan APR di Batang telah berjalan sejak 2020. Pada periode 2020–2025, sebanyak empat unit AFA dan delapan unit APR telah dipasang.

Program tersebut berlanjut pada 2026 dengan penambahan 12 unit AFA dan 10 unit APR. Dengan demikian, berdasarkan data program yang disampaikan, total habitat buatan yang telah dipasang mencapai 34 unit, terdiri atas 16 unit AFA dan 18 unit APR.

AFA dirancang sebagai ruang berlindung dan habitat bagi ikan. Sementara itu, APR dikembangkan untuk mendukung pemulihan habitat dasar laut serta pertumbuhan terumbu karang.

Pemanfaatan FABA menjadi material habitat buatan mengusung pendekatan ekonomi sirkular, yakni mengoptimalkan material sisa agar memiliki nilai guna lain.

Namun, penerapan teknologi tersebut tetap membutuhkan kajian ilmiah, pengujian keamanan material, serta pemantauan kondisi lingkungan secara berkala untuk memastikan kesesuaiannya dengan kebutuhan ekosistem laut.

Bupati Batang Dorong Riset Berdampak Nyata

Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan dunia usaha dalam mengembangkan inovasi berbasis riset.

Menurut Faiz, hilirisasi penelitian perlu diarahkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, termasuk persoalan sampah dan lingkungan.

“Ya, saya pertama apresiasi dulu atas hilirisasi riset ini yang menyentuh akar kebutuhan masyarakat hari ini, di mana hampir semua pemerintah daerah sedang pusing dihadapkan pada persoalan sampah. Ini menjadi bukti nyata bahwa riset bisa menjadi solusi terhadap problem-problem masyarakat,” kata Faiz kepada Tribunjateng, Selasa (27/10/2026).

Faiz menegaskan, inovasi lingkungan perlu diikuti penerapan berkelanjutan. Pemerintah Kabupaten Batang juga berkomitmen mengembangkan kawasan implementasi AFA dan APR sebagai destinasi eduwisata.

Melalui konsep tersebut, habitat buatan diharapkan tidak hanya mendukung pemulihan ekosistem laut, tetapi juga membuka peluang edukasi lingkungan dan pengembangan potensi.

Rektor UNDIP Prof. Dr. Suharnomo mengatakan, kerja sama dengan BPI merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk membawa hasil penelitian ke tahap penerapan di lapangan.

“Kolaborasi ini merupakan wujud komitmen UNDIP untuk terus bergerak bersama dunia industri dan menjawab kebutuhan industri di Kabupaten Batang melalui riset, inovasi, dan penerapan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Sementara itu, Chief Operating Officer PT Bhimasena Power Indonesia, Naofumi Yasuda, menyebut pengembangan AFA dan APR sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), sekaligus dukungan terhadap pengelolaan lingkungan dan pelestarian ekosistem pesisir.

“Sebagai perusahaan yang beroperasi di Batang, kami senantiasa membangun sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan. Kami percaya bahwa hasil terbaik dapat dicapai ketika semua pihak bekerja bersama sebagai satu tim,” kata Naofumi.

BPI juga menyatakan terus menjalankan komitmen pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), termasuk Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL-RPL).

Keberhasilan program habitat buatan tidak cukup hanya diukur dari jumlah struktur yang dipasang di dasar perairan.

Perkembangan pertumbuhan karang, perubahan jumlah dan keragaman spesies ikan, serta kondisi ekosistem di sekitar lokasi perlu dipantau secara konsisten. Data tersebut penting untuk mengevaluasi apakah struktur buatan benar-benar memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.

Keterlibatan nelayan dan masyarakat pesisir juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program. Masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi dalam pemeliharaan, pemantauan, dan pengembangan potensi kawasan pesisir.

Selain program restorasi laut, BPI turut menjalankan sejumlah kegiatan pemberdayaan masyarakat. Program tersebut meliputi pelatihan perawatan dan perbaikan mesin kapal, bantuan 11 unit mesin kapal untuk 11 kelompok nelayan, jaminan kesehatan bagi 149 nelayan, serta bedah rumah bagi tiga keluarga nelayan di Roban Timur.

BPI juga menyebut adanya program pemasangan listrik gratis dan penanaman mangrove di sepanjang pesisir Batang.

Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha ini diharapkan mampu menghubungkan inovasi teknologi, perlindungan lingkungan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tantangan berikutnya adalah memastikan manfaat ekologis habitat buatan dapat dibuktikan melalui pemantauan ilmiah yang berkelanjutan. Dengan begitu, pemanfaatan material sisa pembakaran batu bara tidak hanya menjadi inovasi teknologi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pemulihan ekosistem laut.

(*)

 

Komentar