JURANEWS.ID, UNGARAN — Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, lapak-lapak penjual hewan kurban mulai bermunculan di kawasan Ungaran, Kabupaten Semarang. Namun, kondisi penjualan tahun ini disebut jauh lebih sepi dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Sejumlah pedagang mengaku penurunan daya beli masyarakat membuat penjualan kambing kurban mengalami penurunan signifikan, meski harga hewan kurban relatif masih stabil.
Pedagang Kambing Kurban Mengaku Penjualan Menurun
Salah satu pedagang hewan kurban di Jalan Ahmad Yani Ungaran, Didit (50), mengatakan dirinya mengurangi jumlah kambing yang dibawa tahun ini karena khawatir tidak habis terjual.
“Kalau mulai menempati di sini baru tiga hari ini. Tahun ini saya bawa 60 ekor saja karena melihat situasinya sepi banget,” ujar Didit saat ditemui di lapaknya, Senin (25/5/2026).
Didit yang sudah sekitar 10 tahun berjualan hewan kurban di lokasi tersebut mengaku kondisi tahun ini sangat berbeda dibanding Iduladha sebelumnya.
Menurutnya, hingga H-2 Iduladha, ia baru berhasil menjual 21 ekor kambing. Jumlah tersebut jauh di bawah capaian tahun lalu saat dirinya mampu menjual lebih dari 100 ekor kambing hingga habis.
“Tahun lalu saya bawa 130 ekor dan habis. Tahun ini agak keder melihat keadaannya,” ungkapnya.
Daya Beli Menurun, Pembeli Pilih Kambing Harga Menengah
Didit menilai lesunya penjualan hewan kurban tahun ini dipengaruhi kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Hal itu terlihat dari pola pembelian konsumen yang kini lebih memilih kambing dengan harga menengah dibanding kambing ukuran besar.
Di lapaknya, harga kambing dijual mulai Rp2,5 juta hingga Rp6 juta per ekor. Sementara kambing yang paling banyak diminati masyarakat berada di kisaran harga Rp3,5 juta.
“Kalau kambing besar tetap ada peminatnya, tapi berkurang,” katanya.
Ia menyebut seluruh kambing yang dijual berasal dari peternak lokal di wilayah Kabupaten Semarang.
Dispertanikap Pastikan Hewan Kurban Sehat dan Bebas PMK
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan kesehatan hewan kurban menjelang Iduladha.
Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan seluruh hewan kurban yang dijual dalam kondisi sehat dan layak konsumsi.
“Karena ini momentum sakral, kami ingin memastikan semua hewan yang dijual itu dalam kondisi sehat,” kata Edy.
Selain kesehatan hewan, Dispertanikap juga memastikan setiap lokasi penjualan hewan kurban telah mengantongi izin dari pemerintah desa setempat.
Menurut Edy, hewan kurban yang dijual di Kabupaten Semarang saat ini masih didominasi ternak lokal sehingga tidak memerlukan pengawasan khusus terkait lalu lintas hewan dari luar daerah.
“Sampai hari ini juga belum ada temuan penyakit hewan menular maupun PMK,” jelasnya.
Ratusan Petugas Diterjunkan Awasi Hewan Kurban
Untuk memastikan keamanan hewan kurban selama Iduladha, Dispertanikap Kabupaten Semarang menerjunkan total 306 petugas pengawas.
Petugas tersebut terdiri dari 29 tenaga medik dan paramedik veteriner, 235 kader pengawas penyakit hewan menular (PHM) tingkat desa, 14 anggota Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), serta 28 anggota Paravetindo.
Pengawasan dilakukan mulai sebelum pemotongan hingga pasca pemotongan hewan kurban.
“Kami lakukan pemeriksaan sampai besok sebelum pemotongan. Pasca pemotongan, kami juga akan lakukan pemeriksaan,” tuturnya.
(*)








Komentar