JURANEWS.ID, NUSAKAMBANGAN – Inovasi Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali menjadi sorotan. Kampus ternama di Jawa Tengah itu berhasil menghadirkan teknologi desalinasi bertenaga surya yang mampu mengubah air laut menjadi air minum layak konsumsi dengan kapasitas produksi mencapai lebih dari 20 ribu liter per hari.
Teknologi tersebut kini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi penghuni lembaga pemasyarakatan (lapas) dan petugas yang beraktivitas di kawasan Nusakambangan, wilayah yang selama ini menghadapi kendala keterbatasan sumber air bersih.
Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, SE., M.Si., menegaskan bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah publikasi ilmiah, tetapi dari seberapa besar manfaat riset tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Bagi kami, keberhasilan sebuah riset bukan hanya ketika dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, tetapi ketika hasil riset tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Prof. Suharnomo.
Ia menyebut, teknologi desalinasi di Nusakambangan menjadi bukti bahwa inovasi dari kampus mampu menjawab persoalan nyata, khususnya terkait kebutuhan dasar masyarakat berupa akses air bersih.
Teknologi ini dikembangkan oleh Guru Besar Teknik Kimia Fakultas Teknik UNDIP, Prof. Dr. Ir. Nyoman Widiasa, ST., MT. Sistem tersebut dirancang untuk mengolah air laut menjadi air minum dengan memanfaatkan energi matahari sebagai sumber daya utama.
Menurut Prof. Nyoman, proses pengembangan instalasi dimulai sejak Januari 2026, kemudian pembangunan dilakukan pada April hingga akhirnya siap digunakan untuk mendukung kebutuhan air minum di Nusakambangan.
“UNDIP tidak hanya membuat teknologi, tetapi juga melakukan pendampingan mulai dari perancangan, pembangunan instalasi, hingga operasional agar dapat berjalan secara berkelanjutan,” jelasnya.
Salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah penggunaan panel surya sebagai sumber energi. Selain mengurangi biaya operasional listrik, sistem tersebut juga dinilai lebih ramah lingkungan dan cocok diterapkan di wilayah pesisir maupun kepulauan yang memiliki keterbatasan sumber air tawar.
Tak hanya menghadirkan teknologi, UNDIP juga melakukan pelatihan kepada warga binaan yang nantinya terlibat dalam pengelolaan instalasi desalinasi.
“Kami memberikan pembinaan kepada warga binaan yang akan selesai menjalani masa pidana. Harapannya keterampilan ini bisa menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat,” kata Prof. Nyoman.
Teknologi serupa sebelumnya juga telah diterapkan UNDIP di sejumlah wilayah pesisir seperti Jepara, Demak, Brebes, Rembang, hingga Pekalongan. Pengalaman tersebut menjadi modal dalam mengembangkan sistem desalinasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.
Peresmian operasional instalasi desalinasi di Nusakambangan turut dihadiri Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto serta Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto. Rombongan juga meninjau sejumlah Balai Latihan Kerja (BLK) dan unit produksi sebagai bagian dari pengembangan kawasan ketahanan pangan berbasis pembinaan.
Melalui inovasi tersebut, UNDIP berharap hasil penelitian dari lingkungan kampus tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi mampu menjadi solusi nyata yang berdampak bagi masyarakat.
Teknologi desalinasi ini juga menjadi bagian dari implementasi SDGs, khususnya target air bersih dan sanitasi layak, energi bersih, serta penguatan inovasi dan infrastruktur berkelanjutan.
UNDIP membuktikan, air laut yang selama ini dianggap tantangan kini bisa menjadi sumber kehidupan baru bagi Nusakambangan.
(*)










Komentar