KLIK LINK UNTUK MELIHAT VIDEO : https://vt.tiktok.com/ZS4h4fsUS/
JURANEWS.ID, KENDAL – Kondisi ruas jalan di sekitar Jl. P. Mintono, Krajan, Desa Jatirejo, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, dikeluhkan warga dan pengguna jalan. Sejumlah ruas jalan beton (cor) tampak tertutup lapisan tanah yang diduga berasal dari aktivitas galian C di sekitar lokasi.
Tanah yang mengering dan mengeras tersebut menutupi permukaan jalan sehingga berpotensi mengganggu keselamatan pengguna jalan dan mempercepat penurunan kualitas infrastruktur.
Kerusakan tersebut diduga berkaitan dengan tingginya intensitas kendaraan bertonase berat, terutama truk yang mengangkut material dari aktivitas galian C di wilayah sekitar.
Pantauan di lokasi, Rabu (29/7) menunjukkan kendaraan roda dua maupun roda empat harus memperlambat laju saat melintasi ruas jalan tersebut untuk menghindari permukaan jalan yang rusak. Kondisi tersebut semakin berbahaya saat hujan karena tanah yang menutupi badan jalan menjadi licin, sehingga meningkatkan potensi pengendara tergelincir.
Aktivitas truk pengangkut material tambang yang melintas hampir setiap hari disebut warga menjadi salah satu faktor yang mempercepat penurunan kualitas jalan. Beban kendaraan yang besar diduga tidak sebanding dengan kemampuan konstruksi jalan yang dilalui.
Persoalan kerusakan jalan yang diduga dipicu aktivitas angkutan galian C sebenarnya bukan hal baru di Kecamatan Ngampel. Sebelumnya, warga Desa Rejosari dan Desa Jatirejo pernah menggelar aksi damai menuntut perbaikan jalan yang rusak akibat lalu lintas truk tambang serta meminta penertiban operasional kendaraan angkutan material.
Persoalan serupa juga pernah menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kendal. Melihat kondisi terkini, masyarakat berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan pengecekan lapangan untuk memastikan penyebab kerusakan sekaligus menentukan langkah penanganan yang diperlukan.
Warga menilai dampak aktivitas angkutan material tidak hanya terlihat dari kondisi jalan yang dipenuhi tanah, tetapi juga dari debu yang beterbangan saat cuaca kering. Debu tersebut mengurangi jarak pandang, mengotori permukiman dan tempat usaha, serta dikhawatirkan berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah daerah dan pihak yang menjalankan aktivitas galian agar dampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat dapat diminimalkan.
(*)










Komentar