Paradoks Gen Z: Cerdas Digital, tetapi Rentan Menyiapkan Dana Pensiun

Oleh: Dr. Y. Rachmansyah Dosen Magister Manajemen Universitas BPD Semarang, Konsultan Manajemen

SEMARANG, JURANEWS.ID – Generasi Z (Gen Z) dikenal sebagai generasi yang paling adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Kehidupan ekonomi mereka tidak lepas dari ekosistem digital, mulai dari mobile banking, dompet digital, fintech, hingga berbagai instrumen investasi.

Dari sisi akses dan pengetahuan finansial, Gen Z seolah menjadi generasi yang sangat terkoneksi dengan dunia keuangan. Mereka relatif mudah memperoleh informasi, membandingkan produk keuangan, memahami investasi, bahkan mengikuti perkembangan pasar modal.

Namun, ada sebuah paradoks yang menarik untuk diperhatikan.

Apakah kemampuan mengelola dan mencari keuntungan finansial hari ini sudah berjalan seiring dengan kesiapan menghadapi kehidupan setelah usia produktif?

Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika kita berbicara mengenai dana pensiun.

Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, kelompok usia 18–25 tahun memiliki tingkat literasi keuangan sebesar 73,22 persen, sedangkan tingkat inklusinya mencapai 89,96 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Gen Z bukan generasi yang gagap terhadap keuangan.

Namun, ketika indikator diarahkan pada dana pensiun, kondisinya berubah drastis. Literasi dana pensiun kelompok tersebut berada di angka 27,79 persen, sementara tingkat inklusinya hanya 5,37 persen. Pengetahuan masyarakat terhadap produk dana pensiun secara keseluruhan juga baru mencapai 35,60 persen.

Di sinilah paradoks finansial Gen Z terlihat.

Secara digital dan finansial, mereka sangat terhubung. Namun dalam hal persiapan masa depan, khususnya pensiun, mereka justru relatif tertinggal.

Kesenjangan antara Pengetahuan dan Perilaku

Masalahnya mungkin bukan semata-mata kurangnya pengetahuan.

Ada kesenjangan perilaku atau behavioral gap antara apa yang dipahami secara kognitif dengan apa yang benar-benar dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang bisa saja memahami pentingnya investasi, mengetahui manfaat bunga majemuk, bahkan mampu menjelaskan berbagai instrumen keuangan. Tetapi ketika menerima penghasilan, sebagian besar dana tetap habis untuk kebutuhan konsumsi dan gaya hidup.

Dalam kondisi tersebut, pengetahuan finansial belum otomatis berubah menjadi perilaku finansial yang sehat.

Namun, terlalu mudah menyalahkan Gen Z sebagai generasi yang tidak peduli masa depan juga bukan analisis yang sepenuhnya tepat.

Gen Z hidup dalam situasi ekonomi yang tidak sederhana. Mereka menghadapi pertumbuhan ekonomi yang penuh ketidakpastian, pertumbuhan upah riil yang relatif terbatas, tekanan daya beli, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga harga properti yang semakin sulit dijangkau.

Di sisi lain, persaingan memperoleh pekerjaan yang layak dengan penghasilan memadai juga semakin ketat.

Pada usia 20-an, banyak anak muda berada dalam kondisi yang dapat disebut sebagai survival mode.

Biaya kos atau kontrakan, transportasi, cicilan kendaraan, kebutuhan sehari-hari, hingga tanggung jawab membantu keluarga dapat menyita sebagian besar pendapatan.

Dalam situasi ketika memastikan uang cukup hingga akhir bulan saja menjadi tantangan, memikirkan kehidupan 30 atau 40 tahun mendatang tentu terasa jauh.

Present Bias dan Godaan Menikmati Hari Ini

Dari perspektif behavioral economics, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui konsep present bias.

Manusia cenderung memberikan nilai lebih tinggi terhadap manfaat yang dapat dinikmati sekarang dibandingkan manfaat yang baru dirasakan pada masa depan.

Secangkir kopi mahal, membeli telepon genggam terbaru, menikmati liburan, atau makan di restoran tertentu memberikan kepuasan secara langsung.

Sebaliknya, menabung untuk kehidupan setelah usia produktif memberikan manfaat yang masih abstrak dan baru dirasakan puluhan tahun kemudian.

Akibatnya muncul kalimat yang sangat sederhana: “Nanti saja.”

Masalahnya, “nanti” dalam urusan pensiun dapat menjadi sangat mahal.

Menunda persiapan pensiun berarti kehilangan salah satu sekutu terkuat dalam investasi, yaitu efek compounding atau bunga majemuk.

Masa depan bukan menjadi mahal semata-mata karena biaya hidup ketika pensiun. Masa depan juga menjadi mahal karena waktu untuk mempersiapkannya semakin pendek.

Ketika Flexing Menjadi Standar Kesuksesan

Kerentanan finansial Gen Z juga diperkuat oleh tekanan sosial di era digital.

Budaya flexing tidak sekadar dapat dilihat sebagai kebiasaan pamer. Dalam perspektif sosial, konsumsi juga memiliki fungsi simbolik untuk menunjukkan identitas, status, sekaligus mendapatkan pengakuan dari lingkungan.

Media sosial kemudian menjadi mesin yang memperkuat fenomena tersebut.

Datang ke kafe atau restoran mahal tidak lagi sekadar untuk makan. Pengalaman tersebut dapat berubah menjadi konten.

Berwisata bukan hanya untuk beristirahat, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan.

Menggunakan telepon genggam terbaru bukan hanya soal kebutuhan teknologi, tetapi juga bagian dari identitas sosial.

Masalah muncul ketika konsumsi simbolik tersebut mulai menggerus kemampuan membangun aset dan mengamankan masa depan.

Di media sosial kita dapat melihat telepon genggam mahal, mobil baru, liburan, hingga gaya hidup mewah.

Namun, kita tidak pernah benar-benar tahu berapa besar cicilan di baliknya.

Kita melihat gaya hidup, tetapi tidak melihat kondisi neraca keuangan seseorang.

Inilah yang kemudian melahirkan lifestyle inflation, ketika peningkatan pendapatan justru diikuti peningkatan gaya hidup secara terus-menerus.

Seseorang bisa terlihat kaya karena konsumsi, tetapi belum tentu memiliki kekayaan yang sebenarnya.

Sebab, konsumsi dan kekayaan adalah dua hal yang berbeda.

YOLO Tidak Berarti Menghabiskan Semuanya Hari Ini

Hal serupa terjadi pada budaya YOLO (You Only Live Once).

Menikmati masa muda tentu bukan sesuatu yang salah. Anak muda berhak menikmati hasil kerja, bepergian, berkumpul bersama teman, dan memenuhi berbagai pengalaman hidup.

Namun, YOLO menjadi berbahaya ketika diterjemahkan secara ekstrem sebagai alasan untuk menghabiskan seluruh pendapatan hari ini.

Hidup manusia tidak berhenti pada usia 25 atau 30 tahun.

Masih ada usia 40, 50, 60, bahkan 70 tahun yang harus dipersiapkan.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan memilih antara menikmati masa kini atau mempersiapkan masa depan.

Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara present consumption dan future security.

Nikmati hari ini, tetapi jangan sampai kebahagiaan hari ini mengorbankan ketenangan hidup pada masa tua.

Ini Bukan Hanya Tanggung Jawab Gen Z

Mengatasi persoalan ini juga tidak cukup dengan meminta anak muda lebih rajin menabung.

Literasi keuangan harus naik kelas.

Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan cara membuka rekening atau membeli instrumen investasi. Mereka perlu memahami bagaimana menghitung kebutuhan masa depan, mengelola risiko, mengendalikan konsumsi, membangun aset produktif, serta menyiapkan sumber pendapatan setelah tidak lagi bekerja.

Retirement literacy harus mulai diperkenalkan sejak seseorang menerima penghasilan pertamanya.

Namun, tanggung jawab tidak boleh hanya dibebankan kepada individu.

Pemerintah, regulator seperti OJK, industri keuangan, dan dunia kerja juga perlu melakukan evaluasi.

Jika inklusi keuangan mencapai hampir 90 persen, tetapi inklusi dana pensiun hanya sekitar 5 persen pada kelompok usia muda, pertanyaan pentingnya adalah: apakah masyarakat memang tidak peduli, atau produk dan sistem dana pensiun belum cukup relevan bagi kebutuhan generasi muda?

Sekadar mengatakan “ayo siapkan dana pensiun” tidak akan cukup.

Produk dana pensiun harus lebih mudah diakses, transparan, terjangkau, dan sesuai dengan karakter pekerjaan generasi muda.

Sistem iuran juga perlu lebih fleksibel, termasuk mengakomodasi pekerja dengan pendapatan yang tidak selalu tetap dan masyarakat di sektor informal.

Teknologi digital seharusnya dimanfaatkan untuk membuat persiapan pensiun semudah mengakses layanan keuangan lainnya.

Jika anak muda dapat membuka rekening dan melakukan investasi hanya melalui beberapa sentuhan layar, mengapa persiapan pensiun harus terasa rumit?

Di sinilah diperlukan inovasi.

Redefinisi Pensiun: Bukan Tentang Menjadi Tua, tetapi Kebebasan Finansial

Bagi Gen Z, ada satu aset yang sebenarnya sangat berharga dan tidak dimiliki ulang oleh generasi sebelumnya.

Aset tersebut adalah waktu.

Seseorang yang mulai menyisihkan dana pensiun sejak usia 22 tahun memiliki rentang waktu yang jauh lebih panjang untuk membangun aset dibandingkan seseorang yang baru mulai mempersiapkannya ketika memasuki usia paruh baya.

Tidak perlu menunggu kaya untuk memulai.

Justru, kebiasaan menyisihkan sebagian penghasilan sejak dini dapat menjadi fondasi sebelum pendapatan meningkat dan gaya hidup ikut membesar.

Di sisi lain, cara memperkenalkan konsep pensiun kepada generasi muda juga perlu diubah.

Pensiun jangan terus dijual sebagai cerita tentang usia tua, berhenti bekerja, atau kehidupan yang menurun.

Narasinya harus bergeser menjadi kebebasan finansial.

Pensiun berarti memiliki pilihan.

Pensiun berarti tidak harus bergantung secara finansial kepada anak-anak.

Pensiun berarti memutus potensi rantai sandwich generation dan menjaga kemandirian ekonomi ketika usia produktif telah berakhir.

Saatnya Membangun Tren Future Flexing

Gen Z tidak perlu dilarang menikmati kehidupan hari ini.

Ekonomi boleh bergejolak. Teknologi kecerdasan buatan boleh mengubah dunia kerja. Profesi boleh berubah dan sumber pendapatan bisa semakin beragam.

Namun, satu hal tidak dapat dinegosiasikan: usia akan terus bertambah.

Karena itu, mungkin sudah saatnya kita menciptakan standar kesuksesan baru bernama future flexing.

Bukan lagi sekadar menunjukkan telepon genggam terbaru, mobil baru, liburan mahal, atau tempat makan yang sedang viral.

Future flexing adalah ketika seseorang mampu menunjukkan bahwa dirinya memiliki dana darurat yang sehat, portofolio investasi yang terkelola, aset produktif, serta dana pensiun yang aman.

Itulah bentuk kemapanan yang sesungguhnya.

Generasi yang cerdas secara digital seharusnya tidak hanya pintar menggunakan uang, tetapi juga pintar memastikan uang tersebut mampu menjaga kualitas hidup ketika pekerjaan tidak lagi menjadi sumber penghasilan utama.

Pada akhirnya, persoalan dana pensiun Gen Z bukan sekadar persoalan angka.

Ini adalah persoalan bagaimana sebuah generasi memandang masa depan.

Jangan hanya menjadi generasi yang financially connected hari ini. Jadilah generasi yang financially secure di masa depan.

(*)

Komentar

News Feed