JAKARTA, JURANEWS.ID – Pengelolaan kekayaan atau wealth management kini tak lagi cukup hanya dengan memilih produk investasi yang menawarkan potensi imbal hasil. Kebutuhan nasabah yang semakin kompleks mendorong perubahan pendekatan, dari sekadar memiliki produk menuju perencanaan kekayaan secara menyeluruh.
OCBC menilai, wealth planning seharusnya dimulai dari tujuan finansial yang jelas, pemahaman terhadap profil risiko, serta bagaimana setiap aset dapat berperan dalam mencapai target keuangan nasabah.
“Dalam mengelola kekayaan, fokusnya bukan hanya pada produk apa yang dimiliki, tetapi bagaimana setiap aset dapat memainkan perannya dalam mencapai tujuan finansial nasabah. Karena itu, wealth planning perlu dimulai dari memahami kebutuhan, profil risiko, dan tujuan nasabah secara menyeluruh,” ujar Stephanie Kristanto, Premier Banking Segment Head, OCBC, Jumat (4/9/2026).
Pendekatan berbasis tujuan membuat keputusan investasi tidak lagi berdiri sendiri. Dana yang disiapkan untuk kebutuhan jangka pendek, misalnya, membutuhkan strategi berbeda dibandingkan dana untuk pendidikan anak, persiapan pensiun, maupun kebutuhan jangka panjang lainnya.
Hal tersebut juga berlaku dalam melakukan diversifikasi portofolio. Memiliki deposito, obligasi, reksa dana, emas, dan berbagai produk investasi lainnya belum otomatis membuat portofolio menjadi terdiversifikasi dengan baik.
Nasabah perlu memahami karakteristik, tingkat risiko, likuiditas, serta fungsi masing-masing aset dalam keseluruhan portofolio. Dengan demikian, diversifikasi bukan sekadar memperbanyak jenis produk, melainkan memastikan setiap aset dapat saling melengkapi dan sesuai dengan tujuan finansial.
OCBC Gunakan Wealth Report untuk Evaluasi Portofolio
OCBC meyakini bahwa menentukan alokasi investasi merupakan keputusan strategis yang perlu didasarkan pada data serta disesuaikan dengan risk appetite dan aspirasi keuangan setiap nasabah.
Salah satu upaya yang dilakukan OCBC adalah menghadirkan Wealth Report, yang membantu nasabah melihat bagaimana portofolio yang dimiliki dapat bekerja lebih optimal dalam mendukung tujuan finansial.
Melalui Wealth Report, nasabah bersama Relationship Manager (RM) dapat melakukan investment review sekaligus mengidentifikasi adanya gap dalam pengelolaan aset.
Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menyesuaikan strategi investasi ketika kebutuhan nasabah, kondisi pasar, maupun tahapan kehidupan mengalami perubahan.
Dengan pendekatan tersebut, strategi pengelolaan kekayaan tidak dipandang sebagai keputusan sekali jadi, tetapi perlu berkembang mengikuti perjalanan finansial nasabah.
Pendekatan komprehensif tersebut menjadi bagian dari pengembangan layanan Premier Banking OCBC yang tidak hanya menawarkan solusi investasi, tetapi juga comprehensive wealth management.
Dalam periode 2022 hingga Desember 2025, bisnis wealth management OCBC mencatat pertumbuhan tahunan majemuk atau CAGR sebesar 29 persen dan telah melampaui Rp120 triliun.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin besarnya kebutuhan nasabah terhadap solusi pengelolaan kekayaan yang beragam, mulai dari obligasi, reksa dana, bancassurance, hingga berbagai solusi investasi lainnya.
OCBC menekankan setidaknya empat hal penting dalam pengelolaan kekayaan.
Pertama, perencanaan perlu dimulai dari tujuan finansial yang jelas. Kedua, setiap aset harus ditempatkan sesuai profil risiko, jangka waktu, serta kebutuhan likuiditas.
Ketiga, seluruh portofolio perlu dilihat sebagai satu kesatuan dan bukan sekadar kumpulan produk investasi. Keempat, strategi harus ditinjau secara berkala agar tetap relevan dengan perubahan kebutuhan nasabah.
“Pada akhirnya, wealth management bukanlah tentang memiliki produk yang paling banyak atau mengejar return semata. Yang terpenting adalah bagaimana seluruh kekayaan dapat dikelola dengan arah yang jelas dan memberikan value bagi nasabah, keluarga, serta rencana masa depannya,” tutup Stephanie.
(*)










Komentar