SEMARANG, JURANEWS.ID – Sebanyak 9.030 mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) resmi kembali ke kampus setelah menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Tahun Akademik 2025/2026 di berbagai wilayah Jawa Tengah.
Kepulangan ribuan mahasiswa tersebut tidak sekadar menjadi penanda berakhirnya masa pengabdian. Melalui Gelar Karya Mahasiswa KKN UNDIP yang digelar di Gedung Serbaguna Muladi Dome UNDIP, Jumat (21/8/2026), berbagai inovasi dan solusi yang dikembangkan bersama masyarakat dipamerkan.
Mulai dari pengolahan sampah, ketahanan pangan, pertanian dan peternakan, kesehatan, pengembangan desa wisata, pendampingan UMKM, literasi, hingga pengelolaan wilayah pesisir menjadi bagian dari hasil program KKN mahasiswa.
Tak hanya itu, mahasiswa juga terlibat dalam bidang kebencanaan, kesenian dan budaya lokal, penguatan BUMDes dan koperasi, serta pendampingan kelompok disabilitas dan pekerja migran.
Sejumlah kelompok bahkan menghasilkan teknologi tepat guna, policy brief, blueprint pengembangan wilayah, perjanjian kerja sama, video profil desa, dokumentasi pengabdian, hingga publikasi melalui media dan jurnal pengabdian kepada masyarakat.
Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa selama berada di tengah masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan KKN tidak hanya dapat diukur dari jumlah program yang terlaksana, tetapi juga dari hubungan sosial yang terbangun antara mahasiswa dengan masyarakat.
“Banyak program berjalan lancar serta memberikan dampak emosional dan sosial yang mendalam bagi masyarakat. Kehadiran mahasiswa di desa-desa dampingan terbukti mampu membangun kohesi sosial yang kuat hingga kehadiran mereka begitu dicintai warga setempat. Selamat datang kembali di UNDIP,” ujar Suharnomo.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNDIP, Prof. Dr.-Ing. Suherman, S.T., M.T., melaporkan KKN Tim II berlangsung selama Juli hingga Agustus 2026.
Dari total 9.030 mahasiswa, sebanyak 4.414 mahasiswa mengikuti KKN Tematik, sedangkan 4.616 mahasiswa mengikuti KKN Reguler.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa juga menggandeng sejumlah mitra, antara lain Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dispermades, Kementerian PUPR, Perpustakaan Nasional, BPOM, ESDM Kota Semarang, PT Patra Logistik, dan PT Patra Niaga.
Kolaborasi tersebut diarahkan agar program yang telah dijalankan tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan lokasi KKN.
Gelar karya menjadi ruang untuk mempertemukan inovasi mahasiswa dengan kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang agar program yang telah terbukti bermanfaat dapat dilanjutkan, dikembangkan, bahkan direplikasi di wilayah lain.
Selain memberikan apresiasi, Rektor UNDIP juga berpesan kepada mahasiswa agar tetap produktif setelah menyelesaikan KKN, khususnya menjelang masa wisuda.
Ia meminta mahasiswa tidak larut dalam kecemasan maupun sekadar mengikuti tren.
“Jangan mudah terjebak dalam rasa cemas atau sekadar ikut-ikutan tren karena fear of missing out (FOMO). Selesaikan tugas akhir, tingkatkan keterampilan bahasa asing, dan terus persiapkan diri untuk menjadi generasi berdaya saing tinggi,” katanya.
Ia menilai pengalaman KKN menjadi salah satu bukti bahwa mahasiswa UNDIP memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan memberikan kontribusi nyata di masyarakat.
Pemprov Jateng Apresiasi Inovasi Mahasiswa
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Tengah, Drs. Mohamad Arief Irwanto, M.Si., yang mewakili Gubernur Jawa Tengah Komjen Pol. (Purn.) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., turut memberikan apresiasi.
Menurutnya, pengalaman mahasiswa hidup dan berinteraksi langsung dengan masyarakat memberikan pembelajaran yang tidak selalu diperoleh di ruang kuliah.
Gagasan mahasiswa juga dinilai mampu menjawab sejumlah persoalan konkret, mulai dari penguatan ekonomi masyarakat, ketahanan pangan, penanganan kemiskinan, pencegahan stunting, perbaikan lingkungan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat.
“Pemerintah memiliki program dan sumber daya; perguruan tinggi membawa pengetahuan, inovasi, serta sumber daya manusia, sementara masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Karantina Indonesia sekaligus Ketua Umum DPP IKA UNDIP, H. Abdul Kadir Karding, S.Pi., M.Si., dalam orasi kuliah umum mengajak mahasiswa menjadikan pengalaman KKN sebagai bekal untuk berkontribusi lebih luas.
Karding mengenang pengalaman KKN yang pernah dijalaninya pada 1995 di daerah terpencil di Blora. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dan kepemimpinannya.
Ia menyebut desa sebagai “laboratorium kehidupan” karena mahasiswa dapat berhadapan langsung dengan persoalan nyata, keterbatasan sumber daya, perbedaan karakter masyarakat, hingga kebutuhan mengambil keputusan.
Karding mengingatkan agar masyarakat tidak ditempatkan sebagai objek program, melainkan sebagai mitra.
“Mahasiswa boleh membawa pengetahuan dari kampus, tetapi warga memiliki pengalaman dan pemahaman lokal yang sama pentingnya untuk menghasilkan solusi yang tepat,” ujarnya.
Menurutnya, kontribusi kepada masyarakat tidak harus menunggu seseorang memiliki jabatan besar.
Mengajari anak belajar, membantu UMKM memperoleh akses permodalan, mendampingi kelompok masyarakat, hingga membantu menyelesaikan persoalan kecil di desa merupakan bentuk kontribusi apabila manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Dalam acara tersebut juga diberikan sejumlah penghargaan atas proses pengabdian mahasiswa.
Kepala Pusat Pelayanan Kuliah Kerja Nyata (P2KKN) UNDIP, Adnan Fauzi, S.T., M.Kom., menyampaikan beberapa kategori penghargaan.
Submit LPK KKN Tercepat dan Terlengkap diraih Tim KKN Tematik IDBU 48.
Program KKN Terbaik diberikan kepada Tim KKN Desa Tangkisan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo.
Sementara Tim Dosen Terkompak diraih Tim Dosen Kecamatan Tirtomoyo dan Booth Pameran Terbaik dimenangkan Tim KKN Kecamatan Warungasem.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan kunjungan Rektor UNDIP ke berbagai booth Gelar Karya di area ballroom sisi kiri Muladi Dome.
Beragam hasil pendampingan masyarakat dipamerkan, mulai dari produk UMKM, teknologi tepat guna, hingga dokumentasi program.
Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa KKN bukan sekadar program wajib mahasiswa, tetapi dapat menjadi ruang lahirnya inovasi dan solusi yang manfaatnya terus dirasakan masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus.
(*)










Komentar