JURANEWS.ID, SEMARANG – Universitas Diponegoro (UNDIP) mengembangkan konsep sawah modern berbasis teknologi tepat guna dan ramah lingkungan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Penggaron, Semarang.
Menariknya, lahan persawahan yang dikembangkan tersebut sebelumnya telah ditinggalkan selama sekitar lima hingga enam tahun.
Kini, sekitar dua hektare lahan telah kembali diolah dan mulai ditanami padi. Kawasan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai lahan produksi, tetapi juga menjadi laboratorium lapangan untuk menguji teknologi pertanian berkelanjutan.
Kepala Kantor KHDTK UNDIP, Prof. Dr. Ir. Sri Puryono, KS, MP, mengatakan konsep sawah modern tersebut mengutamakan teknologi tepat guna, efisiensi energi, serta ramah lingkungan.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah sistem pengairan menggunakan enam panel surya dengan kapasitas sekitar 60 meter kubik per jam.
Panel surya tersebut dioperasikan mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.
“Untuk mendukung ketersediaan air, kami juga membuat pompa hidrolik yang dapat bekerja selama 24 jam,” jelas Prof. Puryono.
Bukan Sekadar Sawah, Ada Energi Surya hingga Padi Unggul
Sumber air yang digunakan untuk mengairi persawahan berasal dari sungai. Berdasarkan hasil pengujian, air tersebut disebut tidak terkontaminasi logam berat.
Sementara itu, tingkat keasaman tanah berada pada kisaran pH 7 hingga 8 dan dinilai sesuai untuk budidaya tanaman padi.
Pada tahap awal, UNDIP menanam varietas Inpari dan Inpago. Ke depan, pengembangan akan diarahkan pada varietas unggul hasil persilangan Rojolele dengan varietas padi dari Jepang.
UNDIP juga berencana menguji padi merah yang kaya nutrisi dan serat serta dinilai cocok untuk dikembangkan sebagai pilihan pangan bagi penderita diabetes.
“Harapannya, uji coba ini dapat berhasil dan berproduksi optimal hingga menjadi model pengembangan pertanian yang produktif, efisien, dan ramah lingkungan,” ujar Prof. Puryono.
Wakil Rektor II UNDIP, Dr. Warsito Kawedar, mengatakan pengembangan sawah modern tersebut tidak hanya mengejar hasil produksi pertanian.
Kawasan KHDTK Penggaron juga diproyeksikan menjadi pusat pembelajaran dan penelitian, khususnya sebagai laboratorium pertanian.
Potensi tersebut bahkan akan dikembangkan terintegrasi dengan wisata alam melalui konsep edu-ekowisata hutan.
UNDIP berencana menggandeng komunitas jeep di sekitar kawasan untuk mendukung pengembangan wisata tersebut.
Dengan konsep ini, pertanian, penelitian, pendidikan, lingkungan, dan wisata diharapkan dapat berjalan dalam satu ekosistem.
“Diharapkan kawasan KHDTK UNDIP di Penggaron dapat berkembang menjadi edu-ekowisata hutan,” ujar Warsito.
Pengembangan KHDTK Penggaron juga diarahkan agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Warsito menegaskan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengembangan kawasan tersebut.
“Kehadiran UNDIP adalah berdampingan dengan masyarakat. Masyarakat adalah keluarga,” imbuhnya.
Melalui pemanfaatan lahan yang sebelumnya tidak produktif, penggunaan energi surya, teknologi pengairan, pengembangan varietas padi, hingga konsep edu-ekowisata, UNDIP berharap KHDTK Penggaron dapat menjadi model pengelolaan kawasan yang menggabungkan pertanian berkelanjutan, riset, pendidikan, konservasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
(*)










Komentar