JURANEWS.ID, SEMARANG – Kualitas pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) kembali mencetak prestasi di kancah internasional. Salah satu alumninya, dr. Audrianto, Sp.Rad., kini mengemban amanah besar sebagai Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Hospital XXIX-P dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) di Lebanon.
Dr. Audrianto mengakui bahwa bekal ilmu yang didapatkan selama menempuh pendidikan spesialis radiologi di UNDIP menjadi fondasi utama ketangguhan dan kompetensinya saat ini. Kurikulum yang seimbang antara teori dan praktik, serta penguasaan literatur internasional, dinilai sangat efektif membentuk pola pikir adaptif yang sangat dibutuhkan di medan tugas.
“Pendidikan di FK UNDIP sangat suportif dalam membentuk kepercayaan diri kami di kancah internasional. Selain aspek medis teknis, kemampuan komunikasi global dan publikasi ilmiah yang diasah di kampus menjadi modal utama saat berkoordinasi dengan tenaga medis lintas negara,” ungkapnya, Selasa (31/3/2026).
Dalam penugasannya periode 2025–2026, dr. Audrianto menekankan pentingnya pendekatan klinis yang mendasar meski berperan sebagai spesialis radiologi. Menurutnya, teknologi canggih hanyalah alat penunjang, sedangkan kemampuan dasar dokter adalah kunci utama.
“Radiologi adalah unsur penunjang yang vital, namun kita tetap harus mengutamakan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Hampir 70% diagnosis dapat ditegakkan dari dua proses awal tersebut. Dari sanalah kita bisa menentukan pemeriksaan radiologis mana yang paling tepat dan efisien,” jelasnya.
Prinsip ini diterapkannya di lapangan mengingat keterbatasan fasilitas di Lebanon, di mana umumnya hanya tersedia alat X-Ray dan USG. Dengan analisis klinis yang tajam, ia mampu memaksimalkan peralatan yang ada untuk menentukan tindakan medis atau rujukan yang tepat.
Tantangan semakin kompleks dengan situasi keamanan yang dinamis dan risiko konflik di sekitar wilayah penugasan. Hal ini menuntutnya menjalankan peran ganda: sebagai pemimpin yang menjaga keselamatan personel, sekaligus sebagai dokter yang harus tetap presisi memberikan pelayanan medis, bahkan di dalam bunker perlindungan.
Melalui pengalaman ini, dr. Audrianto berharap dapat menginspirasi generasi muda dokter untuk selalu menjaga integritas. Ia menegaskan bahwa pendidikan yang kuat adalah modal, namun dedikasi tuluslah yang menjadi kekuatan utama dalam mengabdi bagi kemanusiaan.
“Di medan tugas, tidak ada zona nyaman. Pendidikan yang kuat adalah modal, namun dedikasi setulus hati adalah yang membuat kita mampu bertahan dan memberi manfaat,” pungkasnya.
(*)










Komentar