Bank DBS Indonesia Ungkap Peluang Investasi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global, Ini Strategi Menuju 2027

Bank DBS Indonesia melihat perubahan rantai pasok global, hilirisasi, dan perkembangan sektor teknologi membuka peluang investasi baru di Indonesia menuju 2027.

JURANEWS.ID, JAKARTA — Indonesia dinilai masih memiliki daya tarik kuat bagi investor global di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia.

Perubahan rantai pasok, ekonomi multipolar, arah suku bunga Amerika Serikat (AS), hingga fluktuasi pasar menjadi sejumlah faktor yang mendorong perusahaan multinasional untuk kembali mengevaluasi strategi bisnis mereka menuju 2027.

Bank DBS Indonesia menilai kondisi tersebut justru membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

Pandangan tersebut disampaikan dalam forum The Indonesia Equation: Risks, Returns and the Road to 2027 yang digelar Bank DBS Indonesia di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Forum tersebut menghadirkan Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Riyatno, analis DBS Group Research, serta perwakilan perusahaan multinasional.

Asia masih menjadi salah satu magnet utama investasi asing global. Dalam paparan DBS, arus Penanaman Modal Asing (PMA) di Asia Timur pada 2025 mencapai sekitar USD245 miliar.

Sementara itu, Asia Tenggara mencatat peningkatan arus PMA dari sekitar USD225 miliar pada 2024 menjadi hampir USD250 miliar pada 2025.

Peningkatan tersebut antara lain didorong relokasi rantai pasok global, ekspansi industri manufaktur, serta meningkatnya minat investor internasional terhadap pasar ASEAN.

Senior Economist DBS Group Research, Radhika Rao, mengatakan perkembangan ekonomi global yang semakin multipolar memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan baru.

“Keunggulan Indonesia ke depan tidak hanya terletak pada sumber daya alam dan ukuran pasar, tetapi juga pada kemampuannya menarik investasi berbasis teknologi, memperkuat rantai nilai domestik, mengembangkan ekonomi digital, serta menjaga stabilitas kebijakan dan makroekonomi,” ujar Radhika.

Menurut DBS Group Research, salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia berasal dari perubahan strategi rantai pasok global melalui tren China+1 dan Taiwan+1.

Perusahaan global kini semakin mempertimbangkan diversifikasi lokasi produksi untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu negara. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat perannya sebagai basis manufaktur di Asia Tenggara.

Indonesia juga memiliki peluang besar melalui agenda hilirisasi. Pengembangan industri berbasis sumber daya alam dinilai dapat membuka investasi baru di sektor energi, infrastruktur, manufaktur strategis hingga kendaraan listrik.

Selain itu, Indonesia dinilai memiliki potensi untuk berkembang dalam ekosistem teknologi, elektronik, semikonduktor, dan kendaraan listrik di kawasan Asia.

Investasi Indonesia 2026 Disebut Tetap Positif

Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Riyatno, mengatakan realisasi investasi Indonesia masih menunjukkan tren positif.

“Realisasi investasi di Indonesia tetap menunjukkan tren positif yang dibuktikan dengan capaian semester pertama 2026 hampir 50% dari target pertumbuhan 7,2 persen YoY,” kata Riyatno.

Ia menyebut potensi investasi Indonesia masih besar meskipun dunia menghadapi dinamika global dan persaingan investasi yang semakin ketat.

Pemerintah, lanjutnya, terus mendorong terciptanya iklim investasi yang lebih kondusif melalui layanan investasi dari hulu hingga hilir, reformasi regulasi, hingga penyederhanaan proses perizinan.

Riyatno juga menyampaikan bahwa pengembangan OSS Versi 2 diarahkan untuk membuat proses investasi semakin efisien dan terintegrasi.

Di tengah peluang tersebut, perusahaan multinasional menghadapi pertanyaan penting dalam menentukan strategi bisnis menuju 2027.

Apakah harus memperluas investasi (expand), memperdalam eksposur bisnis (deepen), atau justru meninjau ulang strategi dan eksposur (reassess)?

Pilihan tersebut sangat bergantung pada karakteristik sektor usaha, strategi perusahaan, tingkat toleransi risiko, serta kemampuan dalam mengelola pembiayaan, nilai tukar, efisiensi operasional dan perubahan regulasi.

Indonesia memiliki sejumlah keunggulan berupa skala pasar, potensi pertumbuhan, daya saing biaya, ketersediaan tenaga kerja dan perkembangan ekosistem industri.

Namun, kepastian regulasi, kecepatan perizinan, kualitas infrastruktur, stabilitas ekonomi dan nilai tukar tetap menjadi faktor yang diperhitungkan perusahaan multinasional sebelum mengambil keputusan investasi.

Head of Large & Multinational Corporates, Institutional Banking Group, Bank DBS Indonesia, Natalia Ratulangi, mengatakan perusahaan multinasional saat ini membutuhkan dukungan perbankan yang lebih luas.

Kebutuhan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembiayaan, tetapi juga pengelolaan dampak suku bunga, nilai tukar, regulasi serta dinamika ekonomi lokal.

“Diperlukan mitra yang mampu menyediakan banking solution yang komprehensif dan kompetitif di lintas kawasan,” ujar Natalia.

Bank DBS Indonesia menawarkan sejumlah solusi bagi perusahaan multinasional, mulai dari pendanaan modal kerja, capex financing, sustainability-linked loan, trade dan treasury products, cash management, strategic advisory, hingga solusi perbankan yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Konektivitas DBS di Asia dan dukungan platform digital banking juga menjadi bagian dari strategi untuk membantu perusahaan multinasional mengelola ekspansi bisnis lintas negara.

Bank DBS Indonesia menilai meningkatnya arus investasi ke Asia Tenggara menjadi momentum penting bagi Indonesia.

Namun, peluang tersebut tidak datang tanpa tantangan. Negara-negara di kawasan ASEAN juga berlomba menawarkan regulasi, infrastruktur, insentif dan ekosistem bisnis yang menarik bagi investor.

Karena itu, kemampuan Indonesia dalam memperkuat infrastruktur, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menjaga kepastian regulasi serta mempertahankan stabilitas ekonomi akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan daya saing investasi hingga 2027.

Di tengah perubahan ekonomi global tersebut, perusahaan multinasional pun dituntut tidak hanya melihat besarnya pasar Indonesia, tetapi juga menghitung risiko dan potensi imbal hasil secara lebih komprehensif.

Dengan posisi strategis di ASEAN, agenda hilirisasi, pasar domestik yang besar dan peluang dari pergeseran rantai pasok global, Indonesia berpeluang menjadi salah satu tujuan investasi penting di Asia menuju 2027.

(*)

Komentar

News Feed