BNPB Catat Banjir dan Longsor di Sinjai serta Abrasi di Seram Bagian Timur

Banjir dan Longsor Terjang Sinjai, Abrasi Rusak Permukiman Warga di Seram Bagian Timur

JAKARTA, JURANEWS.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah kejadian bencana hidrometeorologi yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam periode 4–5 Juni 2026.

Banjir dan tanah longsor di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, serta gelombang pasang dan abrasi di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, menjadi peristiwa yang mendapat perhatian dalam laporan terbaru BNPB.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur wilayah Kabupaten Sinjai sejak 3 Juni 2026 memicu terjadinya banjir dan tanah longsor di sejumlah kecamatan.

Tiga kecamatan terdampak banjir meliputi Kecamatan Sinjai Timur, Sinjai Utara, dan Tellu Limpoe. Sementara tanah longsor dilaporkan terjadi di sejumlah desa dan kelurahan yang tersebar di lima kecamatan.

Akibat banjir tersebut, sebanyak 21 rumah warga terdampak, sekitar 60 hektare lahan persawahan terendam, dua perahu hanyut, serta dua ekor kuda dilaporkan mati tenggelam. Selain itu, banjir juga berdampak pada 11 ruas jalan, enam kantor pemerintahan, satu fasilitas umum, dan dua fasilitas pendidikan.

Meski genangan air telah surut pada Kamis (4/6), akses jalan penghubung antara Desa Sukamaju dan Desa Erabaru di Kecamatan Tellu Limpoe masih terputus akibat kerusakan infrastruktur.

Sementara itu, bencana tanah longsor menyebabkan tujuh rumah warga terdampak, satu hektare lahan pertanian rusak, satu jembatan terdampak, serta enam ruas jalan penghubung antardesa tertutup material longsor. Longsor juga mengakibatkan pipa distribusi air milik PDAM terputus sehingga mengganggu pasokan air bersih bagi warga Dusun Waetuo.

Tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kabupaten Sinjai, pemerintah daerah, kepolisian, dan TNI telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pendataan, pembersihan material longsor, serta penyaluran bantuan logistik kepada warga terdampak.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Sebagian warga yang rumahnya terdampak memilih mengungsi sementara ke rumah kerabat terdekat.

Selain di Sulawesi Selatan, BNPB juga melaporkan kejadian gelombang pasang dan abrasi yang melanda Desa Aruan Gaur, Kecamatan Siritaun Wida Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku.

Peristiwa itu bermula ketika gelombang pasang menghantam kawasan pesisir dan merusak talud penahan ombak sepanjang 110 meter pada 25 Mei 2026. Kerusakan talud menyebabkan gelombang laut langsung menghantam permukiman warga.

Hasil pendataan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD setempat mencatat sebanyak 17 kepala keluarga atau 67 jiwa terdampak. Empat unit rumah mengalami kerusakan sedang, sementara 15 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan.

Hingga kini gelombang pasang dan abrasi masih terjadi. Sejumlah warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat ketika air laut kembali naik. Di sisi lain, masyarakat secara swadaya membangun penahan ombak sementara untuk mengurangi dampak abrasi yang terus menggerus garis pantai.

BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana selama masa peralihan musim hujan menuju kemarau. Potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, hingga gelombang tinggi masih dapat terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.

Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana diminta memantau informasi cuaca dari instansi resmi, menyiapkan tas siaga bencana, serta segera melakukan evakuasi apabila muncul tanda-tanda bahaya atau peringatan dini dari petugas.

(*)

Komentar