JURANEWS.ID, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia hingga Rabu (10/6/2026) pukul 07.00 WIB. Berdasarkan data yang dihimpun, tidak terdapat kejadian bencana baru yang berdampak signifikan. Namun demikian, sejumlah kejadian masih dalam tahap penanganan dan pemutakhiran data oleh pemerintah daerah bersama instansi terkait.
Salah satu kejadian yang masih menjadi perhatian adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Hingga Selasa (9/6), upaya pemadaman terus dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagan Raya dengan dukungan TNI, Polri, dan relawan.
Tim gabungan melakukan pemadaman menggunakan dua unit mesin pompa air di lokasi terdampak. Berdasarkan data terkini, total luas lahan yang terbakar di dua kecamatan mencapai sekitar 98 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar separuh area yang terdampak telah berhasil dipadamkan.
Selain di Aceh, karhutla juga terjadi di Provinsi Riau. Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar dua hektare. BNPB melaporkan api telah berhasil dipadamkan setelah dilakukan penanganan oleh BPBD bersama instansi terkait.
Sementara itu, Provinsi Sumatera Selatan masih menghadapi ancaman karhutla. Berdasarkan data hingga 8 Juni 2026, luas lahan yang terbakar sejak awal tahun tercatat mencapai sekitar 182,54 hektare. Pada Selasa (9/6), terpantau akumulasi 24 titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah wilayah.
Untuk mempercepat pengendalian kebakaran, BNPB terus memberikan dukungan operasi udara berupa helikopter patroli dan helikopter water bombing guna membantu proses pemadaman serta mencegah meluasnya kebakaran.
Di sisi lain, banjir yang sebelumnya melanda Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, akibat hujan dengan intensitas tinggi dilaporkan telah surut. Sebanyak 3.367 kepala keluarga (KK) terdampak dalam peristiwa tersebut dengan jumlah rumah yang sempat tergenang mencapai 3.367 unit.
BPBD bersama pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak serta melakukan perbaikan tanggul yang mengalami kerusakan. Kondisi terkini menunjukkan masyarakat telah kembali menjalankan aktivitas seperti biasa.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, **Abdul Muhari**, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan situasi di sejumlah daerah serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan penanganan bencana berjalan optimal.
Menurut Abdul Muhari, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi kering yang mulai meningkat di sejumlah wilayah Indonesia.
“BNPB mengajak seluruh pihak untuk menghemat penggunaan air bersih, menjaga sumber-sumber air, serta menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar yang dapat memicu meluasnya kebakaran hutan dan lahan,” ujar Abdul Muhari dalam laporan perkembangan situasi dan penanganan bencana yang dirilis Rabu (10/6/2026).
Ia juga meminta pemerintah daerah memperketat pengawasan di wilayah rawan bencana, mempercepat upaya pemadaman apabila ditemukan titik api, serta mengaktifkan posko dan patroli terpadu bersama TNI, Polri, dan relawan.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi kebencanaan melalui sumber resmi dan terpercaya, seperti BNPB, BPBD, dan BMKG, guna mengantisipasi potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
BNPB menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan serta penanganan bencana di tengah meningkatnya risiko kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan pada musim kemarau tahun ini.
(*)














Komentar