JURANEWS.ID, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan terbaru bencana hidrometeorologi kering di Indonesia. Memasuki musim kemarau 2026, sejumlah daerah mulai mengalami kekeringan yang berdampak pada ribuan kepala keluarga (KK), sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di beberapa provinsi.
Laporan yang dihimpun BNPB mencakup perkembangan situasi bencana pada periode Kamis (3/7/2026) pukul 07.00 WIB hingga Jumat (4/7/2026) pukul 07.00 WIB.
Salah satu kejadian baru terjadi di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kekeringan melanda Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, yang berdampak kepada 123 kepala keluarga atau 310 jiwa.
Sebagai langkah penanganan darurat, Pemerintah Kabupaten Ciamis telah menetapkan status siaga darurat kekeringan sejak 1 Juli hingga 30 September 2026. BPBD setempat juga telah menyalurkan 5.000 liter air bersih kepada masyarakat terdampak.
Sementara itu, di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, kekeringan berdampak pada 376 kepala keluarga atau 1.179 jiwa di Desa Kedungjambal, Desa Kunden, dan Desa Weru.
Pemerintah Kabupaten Sukoharjo menetapkan status darurat bencana hingga 30 November 2026. Hingga kini, BPBD telah mendistribusikan 45.000 liter air bersih atau sembilan tangki kepada warga.
Grobogan, Pemalang dan Purbalingga Masih Berjuang
BNPB juga terus memantau wilayah yang sebelumnya telah mengalami kekeringan.
Di Kabupaten Grobogan, sebanyak 457 kepala keluarga terdampak di Kecamatan Wirosari, Toroh, Kedungjati, Purwodadi, dan Geyer. BPBD terus melakukan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sedangkan di Kabupaten Pemalang, sedikitnya 714 kepala keluarga di Kecamatan Belik, Bawang, dan Pulosari mengalami kesulitan air bersih.
Hingga Kamis (3/7/2026), BPBD Kabupaten Pemalang telah mendistribusikan 47.000 liter air bersih kepada masyarakat terdampak.
Di Kabupaten Purbalingga, kekeringan berdampak kepada 114 kepala keluarga atau 439 jiwa. Bantuan air bersih sebanyak 10.000 liter telah disalurkan ke Desa Kutabawa dan Desa Serang.
Selain kekeringan, BNPB juga terus menangani kebakaran di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten.
Kebakaran yang masih berada dalam masa tanggap darurat hingga 14 Juli 2026 tersebut menyebabkan 102 warga mengungsi dan membakar sekitar tujuh hektare lahan.
Petugas gabungan masih melakukan pemadaman melalui jalur darat maupun operasi udara karena titik api masih ditemukan di beberapa lokasi.
Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan nasional masih didominasi oleh Provinsi Kalimantan Barat dengan total luas lahan terbakar mencapai 28.216,31 hektare sejak Januari hingga akhir Juni 2026.
Di Provinsi Riau, luas lahan terbakar mencapai 15.231,44 hektare, sedangkan Sumatera Selatan mencatat kebakaran seluas 305,39 hektare. BNPB bersama pemerintah daerah terus melakukan berbagai upaya pemadaman, termasuk operasi water bombing.
BNPB Antisipasi Dampak El Nino
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi El Nino yang diperkirakan meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan.
“BNPB terus memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi dampak fenomena El Nino dan musim kemarau tahun 2026 yang diprakirakan dapat meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta krisis air bersih di sejumlah wilayah Indonesia,” ujar Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.
Menurut Abdul Muhari, berbagai langkah mitigasi telah dilakukan bersama kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah, mulai dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pembangunan sumur bor, pemasangan jaringan pipanisasi, distribusi air bersih, hingga peningkatan kesiapsiagaan daerah.
BNPB mengimbau seluruh pemerintah daerah agar memperkuat sistem peringatan dini, memantau ketersediaan sumber air, serta meningkatkan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
Masyarakat juga diminta menggunakan air secara bijak, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kondisi darurat kepada BPBD atau instansi terkait.
“Kesiapsiagaan, mitigasi, dan respons cepat seluruh unsur menjadi langkah penting dalam meminimalkan risiko dan dampak bencana selama periode musim kemarau dan potensi El Nino tahun 2026,” tegas Abdul Muhari.
(*)















Komentar