D-DART UNDIP Terjun ke Lokasi Gempa NTT, Puluhan Warga Diperiksa hingga Operasi Minor

Delapan personel D-DART UNDIP diterjunkan ke SMPN 1 Cibal dan Dusun Nobo untuk memberikan layanan psikososial serta kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa.

NTT, JURANEWS.ID – Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali menunjukkan komitmennya dalam penanganan kebencanaan dengan menerjunkan Diponegoro Disaster Assistance Response Team (D-DART) ke wilayah terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tim 2 D-DART UNDIP diterjunkan pada Jumat (4/9/2026) dengan membawa delapan personel yang terdiri atas tenaga kesehatan dan tenaga psikososial. Tim tersebut memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat yang masih menghadapi dampak gempa.

Untuk memaksimalkan penanganan di lapangan, personel D-DART dibagi menjadi dua kelompok dan bergerak di SMPN 1 Cibal serta Dusun Nobo.

Dua fokus utama penanganan adalah pelayanan kesehatan masyarakat dan pemulihan kondisi psikologis penyintas bencana.

Di SMPN 1 Cibal, tim psikososial D-DART UNDIP memberikan layanan Psychological First Aid (PFA) kepada para siswa.

Layanan tersebut diberikan sebagai upaya membantu mengurangi tekanan psikologis sekaligus mendukung proses pemulihan awal para siswa setelah mengalami bencana gempa.

Dari hasil asesmen di lapangan, tim menemukan sejumlah siswa dan guru masih mengalami kecemasan serta terus terbayang-bayang dengan peristiwa gempa yang mereka alami.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya meninggalkan persoalan fisik, tetapi juga dapat memberikan tekanan psikologis yang membutuhkan pendampingan secara berkelanjutan.

Para guru juga menghadapi beban ganda. Selain harus memulihkan kondisi psikologis mereka sebagai penyintas, mereka tetap dituntut mendampingi dan memberikan rasa aman kepada para siswa di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.

52 Warga Jalani Pemeriksaan Kesehatan

Sementara itu, tim kesehatan D-DART UNDIP memberikan pelayanan kepada 52 warga di Dusun Nobo.

Pemeriksaan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan umum hingga tindakan klinis sesuai kondisi pasien.

Dalam pelayanan tersebut, tim bahkan melakukan dua operasi minor, masing-masing terhadap pasien dengan kasus papiloma dan abses.

Pada kelompok warga dewasa, keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Selain itu, terdapat pula keluhan yang berkaitan dengan trauma dan nyeri badan pascagempa.

Perhatian khusus diberikan kepada kelompok anak-anak.

Tim D-DART UNDIP menemukan cukup banyak kasus anak dengan gizi buruk dan ISPA yang membutuhkan perhatian serta penanganan lanjutan secara lebih intensif.

Temuan tersebut menjadi salah satu catatan penting bagi tim dalam memetakan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat pada tahap berikutnya.

Penanganan anak-anak dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan agar kondisi kesehatan mereka dapat terus dipantau selama proses pemulihan pascabencana.

Penerjunan Tim 2 D-DART UNDIP menjadi bagian dari komitmen Universitas Diponegoro dalam menjalankan peran kemanusiaan sekaligus pengabdian kepada masyarakat di wilayah terdampak bencana.

Kolaborasi antara tenaga kesehatan dan tenaga psikososial membuat respons yang diberikan tidak hanya berfokus pada kondisi kesehatan fisik, tetapi juga memperhatikan pemulihan psikologis masyarakat.

Kehadiran D-DART UNDIP diharapkan dapat membantu masyarakat melewati fase darurat sekaligus memberikan gambaran mengenai kebutuhan lanjutan yang diperlukan dalam proses pemulihan pascagempa.

Melalui respons tersebut, UNDIP berupaya memastikan masyarakat terdampak tidak hanya mendapatkan pertolongan medis, tetapi juga dukungan psikososial untuk menghadapi dampak bencana secara lebih menyeluruh.

(*)

Komentar

News Feed