Dari Kakao hingga WebGIS, Inovasi Ekspedisi Patriot UNDIP di Papua Dapat Apresiasi Pemerintah

Tim Ekspedisi Patriot UNDIP memaparkan inovasi WebGIS, peremajaan kakao, teknologi pascapanen hingga program inseminasi buatan di kawasan transmigrasi Kabupaten Keerom.

JAYAPURA, JURANEWS.ID – Inovasi mahasiswa dan peneliti Universitas Diponegoro (UNDIP) dalam mendukung pengembangan kawasan transmigrasi di Papua mendapat perhatian pemerintah pusat.

Sejumlah inovasi mulai dari pengembangan kakao, peternakan, pemetaan berbasis WebGIS, hingga penguatan akses digital dipaparkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) UNDIP dalam agenda pemaparan dan diskusi hasil temuan lapangan di Jayapura, Kamis (17/9/2026).

Kegiatan tersebut ditinjau langsung Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara bersama Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Program Tim Ekspedisi Patriot 2026 yang diinisiasi Kementerian Transmigrasi melibatkan 1.476 mahasiswa dan peneliti terpilih yang diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi di Indonesia.

Dalam pelaksanaan di Papua, TEP UNDIP bertugas di Kabupaten Keerom, khususnya Distrik Senggi dan Distrik Yaffi.

Tim mengembangkan lima fokus utama, yakni fasilitas fisik, sistem digital, kelembagaan organisasi, penyusunan modul edukasi, serta rekomendasi dan kebijakan.

Untuk mendukung digitalisasi dan mitigasi bencana, tim melakukan pemetaan sejumlah aspek penting, seperti potensi bahaya bencana, pelayanan dasar, hingga manajemen lahan.

Hasil pemetaan tersebut kemudian dikembangkan dalam bentuk WebGIS yang diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen pendukung pengelolaan kawasan secara lebih terintegrasi.

Sektor pertanian menjadi salah satu perhatian TEP UNDIP setelah tim menemukan sejumlah persoalan di lapangan, mulai dari distribusi air yang belum merata hingga serangan hama pada perkebunan kakao.

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim melakukan peremajaan tanaman kakao menggunakan klon unggul yang lebih tahan terhadap penyakit.

Masyarakat juga diberikan edukasi mengenai praktik pertanian yang baik.

Tidak berhenti pada budidaya, TEP UNDIP turut mendorong peningkatan nilai tambah produk kakao setelah panen.

Tim merintis pembangunan fermentation box dan solar dryer dome sebagai bagian dari upaya memperbaiki proses pascapanen.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas hasil kakao sekaligus membuka peluang peningkatan nilai jual produk masyarakat.

Harga Nitrogen Cair Jadi Tantangan Peternak

Selain pertanian, sektor peternakan juga menjadi perhatian TEP UNDIP di kawasan Senggi.

Tim menemukan persoalan tingginya biaya nitrogen cair yang digunakan dalam proses inseminasi buatan (IB). Harga nitrogen cair di Jayapura disebut mencapai sekitar Rp300.000 per liter, atau sekitar 18 kali lipat dibandingkan harga di Pulau Jawa.

Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala bagi pengembangan peternakan masyarakat.

Berkolaborasi dengan dinas terkait, TEP UNDIP merencanakan pelaksanaan pekan inseminasi buatan dengan menyediakan kebutuhan hormon, nitrogen cair, dan semen beku sapi Bali.

Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung kelompok Patriot Perintis (Peternak Indonesia Timur Senggi).

Dalam agenda yang sama, TEP ITB memaparkan progres kegiatan mereka di kawasan transmigrasi Lereh.

Sejumlah program yang dilakukan mencakup pembangunan jaringan pipa air bersih, optimalisasi sinyal telekomunikasi melalui repeater jaringan, serta reaktivasi Taman Baca Masyarakat (TBM).

Tim juga melakukan perbaikan fasilitas sanitasi dan drainase publik sebagai bagian dari upaya mendukung kualitas hidup masyarakat di kawasan transmigrasi.

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya riset dan pemetaan potensi ekonomi yang memberikan dampak nyata kepada masyarakat.

Ia juga memaparkan sejumlah potensi hilirisasi yang telah dikembangkan di kawasan transmigrasi.

Salah satunya adalah pembuatan fruit leather dari tomat dan cabai di Manokwari untuk mengurangi hasil panen yang terbuang.

Selain itu, terdapat pemanfaatan kotoran ternak menjadi pupuk dan biogas.

Menteri Iftitah juga mengapresiasi inisiatif pembangunan tower untuk mendukung digitalisasi daerah dan memperkuat akses sinyal di wilayah terpencil.

Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memberikan apresiasi terhadap mahasiswa yang terlibat dalam Tim Ekspedisi Patriot.

AHY menilai keberanian mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman dan mengabdi di wilayah Papua merupakan bagian dari semangat patriotisme.

“Siapa pun yang tergerak karena nilai patriotisme, pasti ia berani untuk keluar dari zona nyaman dan bahkan melakukan hal-hal yang lebih dari yang diharapkan,” ujar AHY.

Menurut AHY, pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, air bersih, dan jaringan telekomunikasi merupakan bagian penting dalam menggerakkan perekonomian kawasan.

Ia bahkan menilai akses sinyal saat ini telah menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat.

“Sinyal ini sekarang sebagai kebutuhan primer. Bukan lagi kebutuhan sekunder, apalagi tersier,” ungkapnya.

AHY juga menekankan perlunya perubahan paradigma dalam pengelolaan kawasan transmigrasi yang telah berusia puluhan tahun.

Menurutnya, kawasan transmigrasi tidak cukup hanya menjadi tempat perpindahan masyarakat, tetapi harus mampu menyediakan kehidupan yang aman, nyaman, sejahtera, serta membuka lapangan pekerjaan.

“Paradigma ini yang kita ubah. Dari sekadar memindahkan masyarakat dari Jawa ke luar Jawa, tapi bagaimana membuat masyarakat di kawasan itu hidup tenang, aman, nyaman, dan sejahtera karena punya pekerjaan,” tegas AHY.

Ke depan, pemerintah mendorong agar potensi kawasan transmigrasi tidak hanya mengandalkan aktivitas ekonomi lokal.

Potensi lahan dan sumber daya manusia di kawasan tersebut diharapkan dapat terhubung dengan industri sebagai offtaker, sehingga tercipta rantai ekonomi dengan skala yang lebih besar.

“Transmigrasi tidak ingin berhenti pada ekonomi setempat, tapi menghadirkan ekonomi skala industri. Why not? Think big. Why not the best?” pungkas AHY.

(*)

Komentar