JURANEWS.ID, JAKARTA — Bank DBS Indonesia melalui DBS Research menyoroti prospek makroekonomi Indonesia tahun 2026 yang dinilai masih cukup solid di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik dan fluktuasi harga energi dunia. Ketahanan konsumsi domestik, stabilitas ekonomi nasional, hingga penguatan sektor hilirisasi dan kendaraan listrik (EV) disebut menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dalam laporan riset yang dipaparkan pada 13 Mei 2026, DBS Research mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 mencapai 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut menjadi pertumbuhan tercepat sejak kuartal ketiga 2022 dan menunjukkan daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal.
Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao mengatakan Indonesia memasuki tahun 2026 dengan fondasi ekonomi yang cukup kuat, didukung konsumsi domestik, stimulus fiskal pemerintah, dan peningkatan belanja negara.
“Indonesia memasuki 2026 dengan percaya diri didukung fundamental yang kuat. Namun, proyeksi pertumbuhan setahun penuh tetap perlu disesuaikan menjadi 5,1 persen dari sebelumnya 5,3 persen guna mengantisipasi risiko kenaikan harga energi global dan tekanan pada nilai tukar Rupiah,” ujar Radhika.
Menurut DBS Research, konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah tumbuh hingga 7 persen yoy pada awal tahun, sementara investasi tetap berada di kisaran 6 persen yoy. Momentum musiman selama periode hari besar keagamaan turut mendukung aktivitas ekonomi nasional.
Meski demikian, DBS memperingatkan adanya potensi perlambatan pada semester kedua 2026 akibat volatilitas pasar global, tingginya harga energi, serta tekanan terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah.
DBS Research menilai stabilitas makroekonomi menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia. Pengendalian inflasi, disiplin fiskal, dan komunikasi kebijakan yang konsisten dinilai penting untuk menjaga sentimen pasar dan meningkatkan kepercayaan investor.
Pemerintah diperkirakan tetap menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) melalui efisiensi belanja dan optimalisasi penerimaan negara. Selain itu, implementasi kebijakan secara konsisten, termasuk pelaksanaan Undang-Undang Cipta Kerja dan harmonisasi regulasi pusat dan daerah, dianggap penting untuk menciptakan kepastian usaha.
Di sektor investasi, DBS Research menilai hilirisasi industri dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik tetap menjadi motor pertumbuhan jangka panjang Indonesia. Sektor pengolahan nikel, energi terbarukan, hingga pembangunan infrastruktur disebut masih menjadi daya tarik utama bagi investor.
Head of Research Indonesia DBS Group Research, William Simadiputra menyebut konsistensi arah kebijakan pemerintah akan menjadi faktor penting dalam menjaga minat investor asing.
“Sektor EV ecosystem, pengolahan nikel, energi terbarukan, dan infrastruktur tetap menjadi pilar kekuatan pertumbuhan. Konsistensi kebijakan hilirisasi akan menjadi magnet utama bagi investor asing di tengah ketidakpastian yang terjadi,” kata William.
DBS juga mencatat kredit investasi masih tumbuh positif, terutama pada sektor konstruksi, pertambangan, dan agrikultur. Hal tersebut menunjukkan minat investasi domestik masih relatif terjaga meski pasar keuangan global bergejolak.
Di sisi lain, DBS Research menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu risiko terbesar bagi perekonomian global dan Indonesia. Gangguan distribusi energi global berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan tekanan inflasi domestik.
Dalam skenario dasar, harga minyak diperkirakan berada di kisaran USD80 hingga USD85 per barel. Namun pada skenario ekstrem, harga minyak berpotensi melonjak hingga USD100 sampai USD150 per barel akibat gangguan distribusi energi global.
Selain faktor energi, pelemahan Rupiah, kenaikan harga produsen, dan dampak cuaca ekstrem El Nino juga diperkirakan menjadi sumber tekanan harga dalam beberapa kuartal mendatang.
DBS Research memperkirakan Bank Indonesia akan semakin fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas pasar di tengah tekanan eksternal. Meski suku bunga acuan diperkirakan tetap ditahan, arah kebijakan moneter dinilai cenderung lebih hawkish.
DBS Research juga mendorong percepatan reformasi pasar modal dan penguatan institusi untuk memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia. Penguatan peran investor domestik, seperti dana pensiun dan manajer investasi lokal, dinilai penting guna mengurangi ketergantungan terhadap aliran modal asing.
Selain itu, pengembangan energi terbarukan dan proyek waste-to-energy (WTE) disebut dapat memperkuat kredibilitas agenda environmental, social, and governance (ESG) Indonesia di mata investor global.
(*)








Komentar