ALOR, JURANEWS.ID – Fenomena alam unik terjadi di Perairan Desa Alor Kecil, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada periode tertentu sekitar Agustus hingga November, suhu permukaan laut di kawasan tersebut dapat turun drastis hingga mendekati 10 derajat Celsius selama sekitar satu hingga dua jam.
Fenomena langka itu diteliti tim Universitas Diponegoro (UNDIP) sejak 2020 dan diberi nama ALaDin, singkatan dari Air Laut Dingin. Fenomena tersebut disebut memiliki karakteristik yang sangat unik karena terjadi di wilayah tropis yang umumnya memiliki suhu laut hangat.
Penelitian dipimpin Prof. Dr.Sc. Anindya Wirasatriya, S.T., M.Si., M.Sc. dari Departemen Oseanografi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UNDIP.
Dalam perspektif oseanografi, ALaDin merupakan fenomena upwelling, yakni naiknya massa air laut dalam yang lebih dingin ke permukaan.
Namun, ALaDin berbeda dari fenomena upwelling pada umumnya yang dipicu oleh angin. Fenomena di Alor Kecil tersebut dipengaruhi arus pasang yang berinteraksi dengan topografi dasar laut Selat Pantar.
Kondisi tersebut membuat ALaDin hanya muncul pada kondisi tertentu, terutama saat pasang purnama, dan terisolasi di kawasan Perairan Alor Kecil.
Suhu Laut Turun, Ikan Pingsan dan Lumba-Lumba Berdatangan
Keunikan ALaDin bukan hanya terletak pada penurunan suhu air laut secara ekstrem. Fenomena tersebut juga menimbulkan efek ekologis yang menarik.
Saat air dingin muncul secara tiba-tiba, ikan-ikan di kawasan tersebut dapat mengalami kondisi seperti pingsan. Kondisi itu kemudian menarik kumpulan lumba-lumba untuk datang dan memangsa ikan.
Fenomena tersebut selama ini menjadi daya tarik bagi masyarakat sekitar. Warga dapat merasakan sensasi air laut dingin di tengah udara Alor yang panas, menangkap ikan yang mengalami kondisi lemah menggunakan alat sederhana, hingga menyaksikan kemunculan lumba-lumba dari bibir pantai.
Prof. Anindya mengatakan, persoalan utama dalam pengembangan ALaDin sebagai potensi wisata adalah waktu kemunculannya yang singkat dan sulit diprediksi.
Selama ini, fenomena tersebut lebih banyak dinikmati masyarakat lokal sehingga belum memberikan manfaat ekonomi yang optimal.
“Ke depan, paradigma ini harus diubah. Yang menjadi penikmat ALaDin seharusnya adalah para wisatawan. Sedangkan penduduk lokal harus menjadi penyedia fasilitas bagi para wisatawan dalam menikmati fenomena ALaDin agar mendapatkan manfaat ekonomi,” kata Prof. Anindya.
Menurutnya, peramalan yang akurat serta pemantauan secara kontinu dan real-time menjadi kunci agar ALaDin dapat dikembangkan menjadi sebuah event wisata.
UNDIP Kembangkan Teknologi Si ALaDin
Upaya menjadikan ALaDin sebagai destinasi wisata berbasis sains dan masyarakat kini mulai disiapkan melalui kolaborasi UNDIP, Universitas Tribuana Kalabahi (UNTRIB), dan Pemerintah Kabupaten Alor.
Melalui Program Hilirisasi Riset Sinergi Strategis dengan pendanaan LPDP 2026, tim peneliti UNDIP menyiapkan teknologi Si ALaDin, yakni sistem monitoring berbasis Internet of Things (IoT) dan teknologi peramalan fenomena ALaDin.
Teknologi tersebut dirancang agar masyarakat dan pemangku kepentingan dapat memantau kondisi laut sekaligus memperoleh informasi mengenai kemungkinan munculnya fenomena ALaDin melalui perangkat gawai.
Karena mekanisme pembangkit ALaDin berkaitan dengan pasang surut, fenomena tersebut memiliki peluang untuk diramalkan.
Tim peneliti menggunakan hubungan antara suhu permukaan laut dan pasang surut sebagai salah satu dasar peramalan. Metode tersebut disebut telah menunjukkan hasil yang tepat dalam meramalkan kejadian ALaDin pada periode 2023 hingga 2025.
Sementara itu, UNTRIB akan berfokus meningkatkan kapasitas masyarakat Desa Alor Kecil agar siap menjadi penyedia jasa wisata berbasis ALaDin.
Pendekatan yang digunakan mengedepankan partisipasi masyarakat, kearifan lokal, pariwisata berkelanjutan, dan konsep blue economy.
Masyarakat juga akan mendapatkan pelatihan untuk menyiapkan fasilitas bagi wisatawan ketika fenomena ALaDin berlangsung.
Pemkab Alor Siapkan Festival ALaDin
Pemerintah Kabupaten Alor melihat fenomena ALaDin sebagai peluang baru untuk mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
Dalam RPJMD Kabupaten Alor 2025–2029, pemerintah daerah menetapkan tiga sektor prioritas ekonomi yang dikenal sebagai TRI PALAWA, yakni pertanian, kelautan, dan pariwisata.
Untuk sektor pariwisata, Pemkab Alor mendorong percepatan pengembangan destinasi melalui program Pekan Wismaraya (Wisata Maju Rakyat Sejahtera) yang mengintegrasikan berbagai event wisata di Kabupaten Alor.
ALaDin direncanakan menjadi salah satu ikon baru dalam program tersebut.
Dengan dukungan teknologi peramalan, pemantauan kondisi laut, serta kesiapan masyarakat lokal, Pemkab Alor berkomitmen mengembangkan fenomena tersebut melalui Festival ALaDin yang direncanakan berlangsung pada September 2026.
Festival ini diharapkan mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Alor Kecil.
Prof. Anindya berharap ALaDin tidak berhenti sebagai ikon wisata Kabupaten Alor, tetapi dapat berkembang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia.
“Jika Labuhan Bajo bisa mendunia karena memiliki komodo, kadal raksasa satu-satunya di dunia, Alor juga bisa karena memiliki ALaDin yang juga satu-satunya di dunia,” pungkasnya.
Temuan ALaDin dan upaya hilirisasi riset tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi tagline UNDIP “Bermartabat dan Bermanfaat”, sekaligus sejalan dengan PIP UNDIP melalui pendekatan Coastal Region Eco-Development.
(*)















Komentar