JAKARTA, JURANEWS.ID – Hari ketiga pascagempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), tim pencarian dan pertolongan (SAR) masih melakukan penyisiran di sejumlah wilayah terdampak.
Hingga Senin (17/8/2026), lebih dari 60 warga dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Operasi pencarian dan pertolongan dikoordinasikan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dengan melibatkan ribuan personel gabungan.
1.862 Personel SAR Dikerahkan
Basarnas mengerahkan 63 personel, sementara potensi SAR yang terlibat mencapai 1.799 orang.
Pada hari ketiga pascagempa, Basarnas menyatakan tidak lagi menerima laporan orang hilang di wilayah terdampak. Meski demikian, penyisiran tetap dilakukan secara optimal, terutama di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
Operasi pencarian dan pertolongan berjalan bersamaan dengan upaya pemenuhan kebutuhan medis bagi masyarakat terdampak.
Dua Rumah Sakit Lapangan Dikirim ke NTT
Pelayanan medis darurat terus dilakukan sejak gempa terjadi pada Sabtu (15/8/2026).
Dua rumah sakit lapangan telah dikirim ke Kabupaten Manggarai dan Nagekeo untuk memberikan pelayanan kepada korban gempa maupun masyarakat yang membutuhkan penanganan medis.
Sejumlah rumah sakit, puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya mengalami kerusakan akibat guncangan gempa sehingga keberadaan rumah sakit lapangan menjadi bagian penting dalam penanganan darurat.
Operasional fasilitas tersebut nantinya didukung tim Emergency Medical Team (EMT) dari Kementerian Kesehatan.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan melalui Pusat Krisis telah mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) di wilayah terdampak.
Dukungan kesehatan juga diperkuat dengan mobilisasi dua tim manajemen krisis kesehatan yang dikirim ke Kabupaten Sikka dan Ende.
Kementerian Kesehatan turut mengerahkan dua tim EMT untuk memberikan pelayanan di sejumlah wilayah terdampak.
Selain tenaga medis, bantuan berupa obat-obatan, bahan medis habis pakai, emergency kit, tenda pos kesehatan, oksigen konsentrator dan berbagai perlengkapan medis juga dikirim untuk mendukung penanganan darurat.
Pelayanan kesehatan bagi korban gempa turut mendapatkan dukungan dari personel TNI dan Polri.
Ribuan Rumah Rusak
Dampak gempa juga terlihat dari kerusakan rumah warga di sejumlah kabupaten.
Di Nagekeo, tercatat 116 rumah rusak berat, 6 rusak sedang dan 42 rusak ringan.
Sementara di Ende, kerusakan meliputi 108 rumah rusak berat, 85 rusak sedang dan 268 rusak ringan.
Di Manggarai, tercatat 761 rumah rusak berat, 76 rusak sedang dan 147 rusak ringan.
Kemudian di Manggarai Timur, terdapat 23 rumah rusak berat, 15 rusak sedang dan 11 rusak ringan.
Di Manggarai Barat, kerusakan mencapai 481 rumah rusak berat, 202 rusak sedang dan 231 rusak ringan.
Sementara di Ngada, total kerusakan mencapai 1.796 unit rumah. Namun, BPBD masih melakukan pendataan dan verifikasi tingkat kerusakan.
Sedangkan di Sikka, tercatat 145 rumah rusak berat, 16 rusak sedang dan 12 rusak ringan.
Selain rumah warga, gempa juga merusak sejumlah fasilitas umum, mulai dari tempat ibadah, fasilitas kesehatan, sekolah, perkantoran hingga akses jalan.
1.576 Gempa Susulan, Terbesar M 6,2
Aktivitas kegempaan di wilayah NTT juga masih berlangsung.
Hingga Senin (17/8), Pos Pendamping Nasional mencatat 1.576 kali gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai M 6,2.
Dari jumlah tersebut, BMKG mencatat sebanyak 54 gempa susulan dirasakan oleh masyarakat.
Aktivitas gempa masih bersifat fluktuatif dan pola peluruhan belum terlihat jelas. Kondisi tersebut diperkirakan mulai stabil dalam waktu sekitar 2–3 minggu ke depan.
Pemerintah bersama Basarnas, BNPB, Kementerian Kesehatan, TNI, Polri, BPBD dan berbagai unsur terkait masih terus melakukan penanganan terpadu.
Prioritas penanganan meliputi pencarian dan pertolongan, pelayanan kesehatan darurat, pemenuhan kebutuhan masyarakat serta pendataan dan penanganan kerusakan akibat gempa.
(*)











Komentar