JURANEWS.ID, SEMARANG – Universitas Diponegoro (UNDIP) terus memperkuat komitmennya mewujudkan kampus berkelanjutan melalui kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Pemilahan Sampah Residu. Acara yang digelar di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus Tembalang ini menjadi langkah konkret percepatan program UNDIP Zero Waste yang kini telah memasuki tahap operasional.
Kegiatan yang diinisiasi oleh UPT Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) ini diikuti oleh seluruh pengelola dan staf dari berbagai unit kerja. Mereka dibekali pemahaman mendalam mengenai klasifikasi sampah serta praktik pemilahan yang tepat sejak dari sumbernya.
Wakil Rektor II UNDIP, Dr. Warsito Kawedar, S.E., M.Si., Akt., menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus diselesaikan secara mandiri dan tidak lagi bergantung pada pihak luar. UNDIP kini membangun sistem berbasis titik-titik satelit di mana sampah dipilah langsung di sumbernya sebelum menuju pengolahan terpusat.
“Kuncinya ada di hulu. Kalau pemilahan dari sumber tidak berjalan, maka sistem yang kita bangun tidak akan optimal,” tegas Dr. Warsito.
Ia juga menekankan pentingnya perubahan perilaku. Setiap aktivitas di kampus, mulai dari kegiatan akademik hingga konsumsi di kantin, harus diiringi tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan dengan memisahkan secara disiplin antara jenis organik dan anorganik.
Sementara itu, Kepala UPT K3L UNDIP, Dr. Bina Kurniawan, S.KM., menyampaikan bahwa target utama program ini adalah mengurangi bahkan meniadakan pengiriman sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Fokus saat ini adalah memperkuat pemilahan kategori sampah residu yang belum tertangani secara optimal, serta memanfaatkan teknologi seperti pirolisis dan pengolahan menggunakan maggot.
“Kuncinya ada pada ketepatan pemilahan sejak dari sumber. Jika sampah masih tercampur, maka seluruh sistem pengolahan tidak akan berjalan maksimal,” ujar Dr. Bina.
Ia menambahkan bahwa tanggung jawab ini berlaku bagi seluruh sivitas akademika, termasuk mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga pihak ketiga. “Ini bukan sekadar program, tetapi gerakan bersama. Kita ingin membangun budaya baru di UNDIP, di mana setiap orang bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya,” pungkasnya.
Inovasi Pengolahan Sampah
Dalam sesi teknis, Dr. Vivi Endar Herawati, S.Pi., M.Si. bersama Tim FPIK memaparkan metode Rumah Maggot untuk mengolah sampah organik menjadi pakan ternak dan kompos. Sedangkan Prof. Ir. Didi Dwi Anggoro, M.Eng., Ph.D., memperkenalkan teknologi pirolisis yang mampu mengubah sampah plastik residu menjadi bahan bakar minyak (BBM).
Melalui kegiatan ini, UNDIP menargetkan terciptanya standar pemilahan yang seragam dan budaya peduli lingkungan yang kuat demi terwujudnya kampus yang semakin bermartabat dan berkelanjutan.
(*)














Komentar